JAKARTA (Suara Karya): Fraksi PKS memberikan makna Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia sebagai hari untuk mewujudkan kemandirian bangsa. Kemerdakaan, menurut Fraksi PKS, bukan saja lepas dari penjajahan tetapi juga soal kemandirian bangsa.
Pernyataan tersebut, dikemukakan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (17/8).
“Kemerdekaan lebih bermakna jika dikaitkan dengan kemandirian bangsa, yaitu suatu kondisi di mana sebagian besar rakyat dapat hidup mandiri di atas kaki sendiri atau dengan kata lain dalam kondisi sejahtera lahir dan batin,” ujarnya.
Menutip pesan Bung Karno, kata dia, untuk menjadi bangsa yang berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri, baik dalam politik, kebudayaan, dan terlebih dalam ekonomi.
Senada dengan pandangan Proklamator, Jazuli memaknai kemerdekaan sebagai kemandirian bangsa.
“Jujur, kita belum pada kondisi mandiri dan berdikari. Ada banyak faktor dan pemerintah punya andil besar atas kondisi kemandirian bangsa ini. Ini soal keberpihakan kebijakan pada rakyat kecil, petani, nelayan, dan petambak lokal, pekerja dan pengusaha dalam negeri, serta produk-produk bangsa sendiri,” ujarnya.
Fraksi PKS, kata dia selalu kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada kemandirian bangsa, baik itu kebijakan importasi, harga-harga, serta tenaga kerja asing.
Fraksi PKS juga tidak asal kritis tapi juga solutif dengan mewujudkan kerangka kebijakan kemandirian yang komprehensif melalui peran legislasi, yaitu dengan mengusulkan RUU Kewirausahaan Nasional.
“Mudah-mudahan RUU ini bisa disahkan tahun ini dan menjadi kado kemerdekaan RI dalam upaya semakin mengokohkan kemandirian bangsa, kemandirian rakyat Indonesia,” kata dia.
Jazuli berharap, dengan RUU Kewirausahaan Nasional, berbagai raihan yang dicapai bangsa Indonesia selama 73 tahun, bisa dilengkapi dan disempurnakan. (Gan)