Urusan Penelitian di Kampus Tetap Ditangani Kemristek/BRIN

0

JAKARTA (Suara Karya): Urusan penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi akan tetap ditangani Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN). Dana riset tahun ini dialokasikan sekitar Rp1,4 triliun.

“Meski Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) kini ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), urusan penelitian dan pengabdian masyarakat tetap diteruskan Kemristek/BRIN,” kata Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro dalam penjelasan kepada wartawan, di Jakarta, Senin (27/1/20).

Bambang dalam kesempatan itu didampingi Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Risbang), Kemristek/BRIN, Muhammad Dimyati.

Bambang menjelaskan, dana riset dan pengabdian masyarakat itu diambil dari jatah 30 persen anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Hal itu sesuai dengan amanah Undang-Undang (UU) No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

“Tahun ini anggaran riset dialokasikan sekitar Rp1,4 triliun, sedangkan anggaran untuk program pengabdian masyarakat Rp89 miliar. Dibanding tahun lalu, anggaran pengabdian masyarakat turun sekitar Rp54 miliar,” tuturnya.

Ditambahkan, anggaran riset untuk PTN Berbadan Hukum (BH) tahun ini meningkat dari tahun lalu, dari Rp467 miliar menjadi Rp514 miliar. Jumlah PTN-BH saat ini tercatat ada 12 perguruan tinggi yaitu ITB, IPB, UI, UGM, ITS, UB, UNS, UPI, USU, Unair, Unpad dan Undip.

“Universitas Brawijaya penerima dana riset terbesar tahun ini. Dananya mencapai Rp18 miliar untuk 133 judul penelitian,” ujarnya.

Dana riset untuk perguruan tinggi swasta (PTS), Bambang menyebutkan, jumlahnya hampir menyamai dana untuk PTN-BH, yaitu Rp474 miliar. Harapannya, terjadi peningkaran kualitas penelitian di lingkungan PTS.

“Dana riset untuk PTS cukup besar, agar mereka bisa belajar bagaimana membuat proposal, mencari topik penelitian hingga mengatur dananya. Ini penting agar iklim meneliti juga terbangun di PTS,” ucapnya.

Disebutkan, bidang yang paling banyak diteliti dengan jumlah terbanyak yaitu sosial, humaniora, pendidikan dan seni budaya (5522 judul), kesehatan (2219), teknologi informasi (1396) dan pangan (1185). Bidang lainnya adalah energi, kebencanaan, kemaritiman, material maju serta pertahanan dan keamanan.

Proporsi dana penelitian non-PTNBH berdasarkan bidang, menurut Bambang Brodjonegoro, terbesar masih melalui kompetisi nasional sebesar 50 persen, penugasan 10 persen dan desentralisasi 40 persen.

“Jika dilihat dari bidangnya, terkait riset terapan sebesar 38 persen, riset dasar 34 persen dan peningkatan kapasitas 28 persen,” kata Bambang menandaskan. (Tri Wahyuni)