Viral, Gus Yahya Catut PBNU Ajak Israel Kerjasama

0

JAKARTA (Suara Karya): Beredar surat mengatasnamakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada Direktur Emeritus Pusat Keagamaan Yahudi, Rabbi David Saperstein berisi permohonan menjadi penasihat organisasi Center for Shared Civilizarional Values (CSCV), organisasi yang diklaim dibentuk oleh PBNU, Minggu (18/12/2021).

Viralnya surat yang hanya ditandatangani oleh Katib Aam PBNU H Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ini jelas melukai warga NU yang mendukung penuh kemerdekaan Palestina.

Sejak berdiri tahun 1926 NU berkomitmen mendorong adanya kebebasan bagi Palestina melalui diplomasi global, dengan catatan, tidak bekerjasama dengan para zionis Israel. Namun, adanya surat yang diduga dilakukan Syuriah PBNU dan Kementerian Agama tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi nahdliyin dan umat Islam Indonesia.

Anehnya, surat tertanggal 22 September 2021 itu tidak melibatkan Rais A’am PBNU, Ketua Umum PBNU dan Sekjend PBNU seperti pada surat resmi PBNU lainnya. Sebaliknya, atas nama PBNU surat itu berisi diplomasi Gus Yahya secara pribadi kepada Yahudi dalam merespons G20 yang akan diselenggarakan di Indonesia tahun 2022 mendatang.

Dalam surat tersebut Gus Yahya mengajak kepada Direktur Emeritus Yahudi untuk bekerjasama membangun peradaban global dan nilai-nilai luhur kerukunan umat manusia.

Di lain sisi, belum lama ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dengan tegas menyatakan sikapnya dalam mendukung penuh kemerdekaan Palestina. Menurut Kiai Said, sampai kapan pun NU akan selalu bersama Palestina dalam merebut kemerdekaannya. Jika Israel tidak mengakui Palestina maka NU dan Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan kelompok kaum Yahudi tersebut.

Viralnya surat ajakan kerjasama tersebut dengan gamblang membuka tabir siapa sosok Gus Yahya. Keberanian Gus Yahya mencatut PBNU disinyalir adanya kepentingan pribadi Gus Yahya dan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama dan juga adik kandung yang bersangkutan.

Sebagai Ormas terbesar di Indonesia, Muktamar NU yang akan digelar 22-23 Desember 2021 sedang diuji, karena salah satu Calon Ketua Umum nya memiliki hubungan erat dengan Israel.

Para kiai sepuh sudah mengkhawatirkan hal ini sejak jauh-jauh hari, yang mana gelaran Muktamar ada campur tangan Israel untuk merusak dan menghancurkan NU.

Mengapa ada keterkaitan? Tentu ada, mengingat NU memiliki peran yang sangat besar untuk memengaruhi pemerintah, sehingga Caketum PBNU pro Israel jika terpilih bisa ikut menyetujui dan mendorong rencana kerjasama Indonesia-Israel bisa terwujud. Naudzubillah.

Jamak diketahui, selama ini PBNU mendukung pemerintah Indonesia untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel serta mendorong adanya komitmen yang kuat dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina.

“Kami Nahdlatul Ulama tetap membersamai Pemerintah Indonesia untuk dorong kemerdekaan Palestina. Sikap Presiden Jokowi jelas tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, saya kira itu hal yang sudah sepatutnya kita perjuangkan. Hal ini juga yang ditegaskan oleh Ibu Menlu Retno Marsudi. Lebih dari itu, kami juga berharap isu multilateral mengenai masa depan (negara-negara) Timur Tengah secara lebih luas ke depan menjadi ‘concern’ bersama,” beber Kiai Said kepada wartawan Oktober lalu.

Penting kiranya, informasi ini menjadi catatan bahwa adanya permohonan kerjasama yang diinisiasi oleh Katib Aam PBNU telah melukai nahdliyin di seluruh dunia, seandainya terjadi ini sangat berbahaya. (Pramuji)