Wapres: Ilmuwan Diaspora Jangan Pelit Berbagi Pengalaman

0

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengingatkan para ilmuwan diaspora Indonesia untuk tidak pelit dalam berbagi ilmu, pengalaman dan akses terkait karirnya di luar negeri. Hal itu penting untuk kemajuan pendidikan tinggi dan teknologi Indonesia.

“Dulu di Amerika orang baca buku sudah edisi terakhir, entah edisi lima atau enam. Sementara kita di Indonesia baru edisi satu. Sekarang, semua orang bisa baca edisi yang sama,” kata Jusuf Kalla saat membuka secara simbolik Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Senin (19/8/2019).

SCKD 2019 yang diadakan Ditjen Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi (SDID) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan berlangsung pada 18-24 Agustus 2019. Perhelatan tersebut dihadiri 52 ilmuwan diaspora dari 15 negara dunia.

Wapres mengemukakan, akademisi Indonesia bisa belajar dari pengalaman yang dilalui ilmuwan diaspora hingga mencapai posisi tertentu di kampus asing. Mereka mampu bersaing dengan sumber daya manusia (SDM) lokal maupun internasional.

“Guru yang terbaik adalah pengalaman. Karena itu, kepada para ilmuwan diaspora untuk tidak pelit dalam berbagi ilmu, pengalaman dan akses hingga berhasil di negara orang. Semua itu diharapkan dapat membantu ilmuwan Indonesia dalam membangun bangsa ini,” ujarnya.

Karena, lanjut Wapres, pengalaman dalam penelitian dan inovasi di luar negeri itulah yang akan memperkuat pendidikan tinggi, riset maupun inovasi di Indonesia. Hal itu menjadi salah satu alasan pemerintah membentuk Kemristekdikti pada 2014 lalu.

“Inovasi itu pada dasarnya adalah nilai tambah. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan riset atau teknologi, yang dipelajari di dunia pendidikan tinggi. Karena itu, memiliki pendidikan yang berkualitas tak cukup tanpa ristek dan inovasi. Sedangkan riset tanpa pendidikan bermutu tidak akan jalan. Semua sektor itu tergabung,” ucap Kalla menegaskan.

Wapres memberi kebebasan pada ilmuwan diaspora akan tetap berkarir di luar negeri, atau kembali ke Indonesia. Karena mereka tetap menyumbang devisa negara saat bekerja di luar negeri. Bahkan Filipina mendapat devisa dari para diasporanya hingga mencapai angka 20 persen.

“Itulah yang terjadi pada India, China dan Filipina yang banyak mendapat devisa dari para diasporanya. Mereka menjadi maju dibantu para diasporanya,” tutur Kalla.

Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) Deden Rukmana mengungkapkan, antusiasme ditunjukkan para ilmuwan diaspora saat diundang ke SCKD. Hal itu merupakan kontribusi nyata kepada Indonesia.

“Meski tinggal lama di luar negeri, mereka sangat bersemangat menanggapi undangan SCKD. Karena ini kesempatan untuk memberi untuk negeri,” ujarnya.

Perhelatan tersebut juga dihadiri Menristekdikti Mohammad Nasir, Sekjen Kemristekdikti Ainun Naim, Dirjen SDID Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti, Dirjen Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Jumain Appe dan Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir. (Tri Wahyuni)