Warek UI: Sudah Waktunya Sistem Pendidikan di Dasmen Diubah

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah harus segera melakukan perubahan mendasar pada sistem pendidikan dasar dan menengah (dasmen) untuk mencegah terjadinya 4 ancaman pada generasi muda bangsa Indonesia

Hal itu dikemukakan Wakil Rektor Universitas Indonesia (UI), Bambang Wibawarta dalam diskusi yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), di gedung PB Nahdlatul Ulama, Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Menurut Bambang, empat ancaman itu adalah, radikalisme, kebangsaan, kesehatan dan paparan narkoba. “Dibutuhkan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan dasar dan menengah untuk mengatasi dan mengantisipasi empat ancaman itu,” ujarnya.

Dijelaskan, paham radikalisme saat ini telah masuk ke jenjang sekolah dasar dan menengah. Caranya lewat dalih pemahaman mendalam soal agama tertentu, padahal isi dari kegiatan itu hanya mengajak generasi muda untuk melawan pemerintahan yang sah.

Tentang kebangsaan, Bambang menambahkan, fondasi bangsa berupa UUD 1945 dan Pancasila dicoba secara terus menerus untuk digantikan dengan bentuk pemahaman lain yang dinilai lebih sesuai dengan aturan agama.

“Untuk kesehatan, generasi muda kita tidak punya kepedulian, terbukti dari rentannya anak usia pendidikan dasar dan menengah terserang penyakit. Karena itu, dalam pendidikan dasar perlu ditekankan pentingnya menjaga kesehatan individu,” ucapnya.

Berikutnya, soal penyebaran masalah narkotika dan obat berbahaya (narkoba) yang sudah sampai tingkat sekolah dasar dan menengah melalui makanan dan pergaulan yang dilakukan generasi muda bangsa.

Karena itu, Bambang mengajak IPNU dan warga Nahdlatul Ulama untuk mengatasi dan mengantisipasi masalah itu secara bersama-sama. “NU sebagai garda terdepan harus segera bertindak,” ucapnya.

Menurut Bambang, beberapa ancaman itu dengan cepat menyebar, berkat kemajuan teknologi internet. Individu penerima informasi itu langsung melempar informasi ke kelompok lain. Sehingga informasi dapat tersebar ke masyarakat dengan cepat. “Setiap orang kini punya telepon pintar. Beragam informasi baik yang berguna, maupun sampah diserap oleh pemiliknya,” katanya.

Masyarakat Indonesia, ditambahkan, rata-rata menghabiskan waktu lebih dari 8 jam hanya untuk melihat telepon selular yang didalamnya terkandung aspek browsing, informasi, bersosialisasi, mencari informasi dan lainnya.

“Di tingkat dunia, Indonesia berada di peringkat kelima, setelah Filipina, Brazil, Thailand dan Kolombia. Ini penelitian resmi. Artinya, masyarakat di negara berkembang lebih senang menghabiskan waktu dengan internet,” kata Bambang.

Bambang juga mengungkapkan peran media massa sangat besar dan vital untuk menjaga bangsa Indonesia dari empat ancaman dan peran buruk yang dapat ditimbulkan dari era keterbukaan informasi (internet).

“Media itu punya 4 peran yang sangat vital untuk menjaga Indonesia yaitu sebagai penyampai informasi (as informer), memberi edukasi (to educate), sarana hiburan (to entertain) dan sarana untuk memengaruhi (to influence),” ungkapnya.

Bambang juga mengusulkan agar pemerintah memiliki strategi kebudayaan yang konkret dan komprehensif untuk generasi muda Indonesia. “Harusnya kita punya strategi kebudayaan yang jelas dan konkret,” ucap Bambang.

Menurutnya, langkah konret itu dapat diwujudkan dalam pertama, membangun dan membekali generasi muda dengan pendidikan karakter yang baik untuk menghadapi dinamika perubahan. Kedua, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan pada karakter sebagai jiwa utama dengan dukungan publik.

“Ketiga dengan merevitalisasi dan memperkuat potensi serta kompetensi pendidikan, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat dan lingkungan dalam keluarga,” kata Bambang menandaskan. (Tri Wahyuni)