Warga Tanjungjabung Jambi Raup Cuan dari Madu HTI

0

JAKARTA (Suara Karya): Upaya pengembangan ekonomi masyarakat oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), yaitu PT Wirakarya Sakti (WKS) mulai membuahkan hasil. Salah satu unit usaha APP Sinar Mas yang dibidik adalah budidaya lebah madu.

Budidaya lebah madu itu telah memberi keuntungan atau cuan bagi sejumlah pembudidaya lebah madu binaan perusahaan. Satu diantaranya, Kelompok Usaha Mandiri di Desa Sungai Rambai, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi.

Kelompok usaha itu memulai budidaya lebah sejak 2020. Kini, kelompok tersebut telah memiliki 11 anggota san mengelola 2.000 kotak lebah jenis Apis Mellifera.

Kelompok Usaha Mandiri itu bermitra dengan PT WKS melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA)–program andalan APP Sinar Mas–untuk mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK) yaitu madu.

Kelompok itu diberi fasilitas berupa alokasi tempat penangkaran lebah di dalam area konsesi hutan akasia. Mereka juga mendapat fasilitas berupa peningkatan kapasitas dan sumber daya.

“Rencananya, pada 3 Oktober 2022, kami akan berpartisipasi dalam pameran yang difasilitasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) di Jakarta,” Ketua Kelompok Tani Lebah Usaha Mandiri, Wanudin dalam siaran pers, Kamis (29/9/22).

Sejak bermitra dengan perusahaan PT WKS, Wanudin mengaku telah memberi banyak perubahan ekonomi kelompoknya. Dari semula kelompok itu hanya fokus pada bagi hasil kemitraan, kini kelompok tersebut memiliki pendapatan lain dari budidaya lebah sehingga membantu menopang pendapatannya.

Selain itu, produk madu dari penangkaran yang mereka kelola hasilnya terus meningkat. Dalam sebulan kelompoknya bisa memproduksi sebanyak 7 ton madu murni. Namun peningkatan produksi madu itu masih memiliki kendala dan belum mampu diserap sepenuhnya.

“Rata-rata sebulan yang terjual 1,5 ton, sehingga sisanya masuk stok di gudang,” kata Wanudin seraya menambahkan rata-rata dalam sebulan kelompok itu membukukan omzet puluhan juta dengan harga rata-rata Rp40-70 ribu per kilogram.

Sejak sebulan lalu kelompok mereka telah membuka cabang pemasaran di Batam, Kepulauan Riau. Melalui kantor pemasaran di luar daerah itu diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan harga juga yang lebih tinggi.

“Di Batam prospeknya bagus dan harga jualnya masih tinggi. Tapi karena kita masih baru belum mampu menyerap semua produksi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Wanudin, melalui program kemitraan ini kelompok Usaha Mandiri yang kini memiliki merek dagang sendiri. Usaha madu mereka diberi nama ‘Madu Murni Melifira’.

Sama halnya dengan Wanudin, Febri, pemuda Desa Kelagian, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, merasakan betul bisa cuan dari budidaya lebah madu. Dari awal hanya 68 kotak, kini jumlahnya terus berkembang.

“Kalau usaha madu sudah dilakukan sejak 2020. Sekarang sudah ada hampir 200-an kotak,” kata Febri dihubungi dari Jambi, Rabu (28/9/22).

Lebah dikembangkan adalah jenis Apis mellifera. Jenis lebah madu itu menjadi favorit para peternak lebah. Selain mampu produksi madu yang banyak, lebah jenis itu juga mempunyai adaptasi yang sangat baik.

Setiap bulan, usaha budidaya lebah Apis Mellifera yang dikelola Febri mampu memproduksi 100 kilogram madu untuk 60 kotak. Jika kondisi cuaca bersahabat dan perawatan bagus untuk budidaya 200 kotak bisa memproduksi 600 kilogram.

“Usaha madu itu butuh perawatan ekstra, kalau perawatan bagus hasilnya juga bagus dan banyak,” katanya.

Produk madunya kini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi Jambi saja, tetapi juga dikirim ke luar daerah seperti ke Jawa dan Medan. Madu dikirim dalam jumlah besar yang dikemas dalam galon.

Untuk harga madu sekarang kata Febri, cenderung fluktuatif, tergantung harga pasar. Satu kilogram harga madu terendah mencapai Rp50 ribu dan tertinggi Rp70 ribu.

“Karena yang jual madu ini banyak, harganya tergantung pasar dan supplay-demand,” ujar Febri.

Usaha lebah madu yang dikembangkan Febri ini dikembangkan di sekitar konsesi akasia HTI PT WKS. Ia pilih lokasi di sekitar konsesi karena pohon akasia memberi sumber makanan yang baik dan tersedia sepanjang tahun bagi koloni lebah.

Berhubung lokasi budidaya di sekitar konsesi tanaman industri itu, sehingga mendorong usahanya bermitra dengan PT WK. Perusahaan memberi bantuan untuk pengembangan usahanya.

“Sudah lama bermitra dengan WKS, ya sekarang lumayan terbantu usaha jadi bisa berkembang. Dan sekarang saya dibantu oleh 2 orang anggota yang mengurus lebah,” kata Febri menandaskan. (Tri Wahyuni)