Waspadalah, Tempat Tidur RS Pasien Covid-19 sudah Terisi 64 Persen

0

JAKARTA (Suara Karya): Trend kenaikan kasus corona virus disease (covid-19) dalam sepekan terakhir ini seharusnya menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, kasus positif terus bertambah, sementara ketersediaan tempat tidur (TT) di rumah sakit (RS) semakin berkurang.

Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir bahkan menyebut rata-rata pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit untuk pasien covid-19 secara nasional sudah mencapai 64 persen. Itu artinya, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit hanya 36 persen.

“Ini yang kami khawatirkan. Apalagi libur tahun baru 2021 sudah di depan mata. Kondisi ini bakal menimbulkan lonjakan kasus positif baru. Padahal ketersediaan tempat tidur di rumah sakit makin terbatas,” kata pria yang akrab dipanggil Prof Kadir dalam keterangan pers secara virtual, Senin (28/12/20).

Bahkan, mantan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM) Kesehatan Kemenkes itu menyebut angka yang lebih tinggi di 9 provinsi. Jumlahnya mencapai 69-85 persen.

Ke-9 provinsi itu adalah Banten (85 persen), DKI Jakarta (84 persen), Jawa Barat (83 persen), Yogyakarta (82 persen), Kalimantan Tengah (79 persen), Jawa Timur (77 persen), Jawa Tengah (76 persen) dan Sulawesi Selatan (69 persen).

“Kasus positif di 9 provinsi ini masih tinggi, sementara tempat tidur yang tersedia makin sedikit. Kami khawatir, masyarakat kesulitan dapat pengobatan jika terjadi lonjakan kasus setelah liburan tahun baru,” ucapnya.

Karena itu, Prof Kadir meminta pada masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan yang berpotensi untuk tertular dan menularkan, serta mengadakan pesta tahun baru dengan mengundang banyak orang sehingga menimbulkan kerumunan.

“Jika kita di rumah saja selama liburan tahun baru ini, maka terjadinya kasus baru dapat ditekan hingga 40 persen. Karena tak ada cara lain untuk menekan kasus baru selain mematuhi protokol kesehatan dan tetap tinggal di rumah,” ujarnya.

Ditanya soal kesiapan Kemkes sebagai antisipasi lonjakan kasus pascaliburan tahun baru, Prof Kadir mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kapasitas tempat tidur untuk pasien covid-19 di rumah sakit hingga 30-40 persen dari yang ada sekarang.

“Kami sudah buat edaran ke dinas kesehatan dan direktur rumah sakit milik pemerintah, terutama RS yang vertikal, untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur hingga 40 persen. Akan ada penambahan sekitar 1.297 tempat tidur. Di Jabodetabek sebanyak 487 tempat tidur,” ujarnya.

Skema kedua, lanjut Prof Kadir, daerah diminta menyiapkan ruang isolasi untuk pasien tanpa gejala dan gejala ringan di tempat tersendiri. Jadi hanya pasien dengan gejala berat dan berat sekali yang dilarikan ke rumah sakit. “Jadi yang masuk rumah sakit yang kondisinya sudah parah,” katanya.

Ia mencontohkan DKI Jakarta dimana kasus positifnya mencapai 8 ribu orang. Dari jumlah itu, 45 persen adalah tanpa gejala dan gejala ringan dan dirawat di wisma atlet, 25 persen di rawat di rumah sakit dan 5 persen di ruang ICU. Sisanya isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Prof Kadir menambahkan, pihaknya juga akan menggandeng rumah sakit swasta, TNI/Polri dan BUMN untuk membantu jika rumah sakit yang ditunjuk pemerintah untuk menangani pasien covid-19 sudah penuh. “Kapasitas tempat tidur sebenarnya masih cukup, karena masih banyak rumah swasta yang belum diajak kerja sama,” katanya.

Ditanya kebutuhan tenaga kesehatan untuk penambahan tempat tidur, Prof Kadir mengatakan, Kemkes akan memanggil para dokter spesialis lewat program Penugasan Dokter Spesialis (PDS) yang akan diterjukan ke rumah sakit yang membutuhkan.

Selain itu, Kemkes juga akan membuka kesempatan kepada 4 ribu lulusan sarjana kedokteran yang akan diikutkan dalam program magang (internship). Para dokter peserta program Nusantara sehat bagi kelompok maupun individu.

“Kami juga meminta rumah sakit daerah untuk merekrut sendiri tenaga dokter dan perawat jika membutuhkan. Datanya segera kirim ke BPPSDM Kesehatan untuk pengurusan insentifnya. Berbagai upaya dilakukan agar pasien dilayani secara optimal,” katanya.

Ia meminta pada dinas kesehatan dan direktur rumah sakit untuk memperhatikan kesehatan tenaga medis, kebutuhan APD, ketersediaan obat dan fasilitas lainnya. Karena mereka adalah garda terdepan dalam penanganan covid-19 di rumah sakit. (Tri Wahyuni)