Wow, Juara OSN 2021 ini Buka Kelas Pemprograman IT Gratis!

0

JAKARTA (Suara Karya): Salvatore Unedo Silalahi, remaja usia 15 tahun ini meski masih muda, tapi sudah memiliki cita-cita yang luhur. Ia ingin teman sebayanya, terutama di daerah tertinggal bisa mahir dalam bidang IT, sehingga mudah dalam mencari pekerjaan.

Guna mewujudkan cita-citanya itu, peraih juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Informatika tahun 2021 itu mendirikan Staditek. Peserta program edukasi IT tersebut tidak dipungut bayaran alias gratis.

Agar proses pembelajaran dapat berjalan secara nyata, Stadiktek menyiapkan laptop dan koneksi internet. Kelas dibutuhkan, karena belajar secara otodidak dengan banyak sumber dari internet tidak optimal, tanpa pendampingan.

“Semua informasi kini tersedia di internet. Tapi tak semua orang bisa belajar sendiri lewat internet. Banyak juga orang malah jadi bingung melihat beragam informasi pembelajaran di internet,” kata lelaki yang akrab dipanggil Salva itu di Jakarta, Selasa (5/7/22).

Ditambahkan, pendampingan dilakukan di Staditek agar pembelajaran dapat berlangsung efektif dan mencapai target kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja.

Karena itu, Salva menyasar kompetensi IT pada pekerjaan yang sekarang banyak diminati, baik di dalam maupun luar negeri, seperti back-end developer, front-end developer, mobile developer dan full stack developer.

“Setelah lulus mereka bisa dapat segera kerja dan membantu perekonomian keluarganya. Karena gaji orang IT itu kan lumayan,” ujarnya.

Ia mengutip data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja digital diperlukan sekitar 600 ribu orang per tahun. Pada 2030, kebutuhan SDM tersebut diperkirakan mencapai 17 juta orang.

Ditanya soal bebas biaya alias gratis, Salva mengatakan, hal itu merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat. Ia ingin ilmu yang berguna buat orang lain. Apalagi sampai bisa meningkatkan ekonomi keluarganya.

Langkah pertama Staditek dilakukan di Tarutung, Tapanuli Utara. Daerah itu dipilih Salva, karena kota asal ibunya. Ia terpanggil untuk memberi sumbangsih ilmu dan waktunya dengan membantu masyarakat di Bona Pasogit.

Salva sadar suku Batak seperti Tapanuli sangat memprioritaskan pendidikan generasi muda, namun disayangkan seringkali ketika anak lulus sekolah atau kuliah, harapan orang tua akan kesuksesan anak tidak tercapai. Anak tidak memiliki pendapatan yang layak karena tidak punya kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.

Salva memanfaatkan waktu libur untuk merealisasikan impiannya. Sosialisasi dilakukan di 4 sekolah, yaitu SMAN 1 Tarutung, SMAN 2 Tarutung, SMAN 3 Tarutung dan SMAS PGRI 20 Siborong-borong.

Staditek menyeleksi para siswa untuk pembekalan kemampuan web development selama 2 minggu di Tarutung. Hasilnya, terpilih 29 murid SMA yang kemudian diberi pelatihan IT sejak 28 Juni 2022 dengan tenaga pengajar Salva dan relawan pengajar Staditek.

Staditek ditargetkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) IT di daerah-daerah dengan tingkat ekonomi rendah. Salvatore akan keliling di berbagai daerah-daerah tertinggal untuk menjaring lebih banyak lagi murid yang tidak mampu untuk memiliki gambaran tentang IT dan cita-cita yang lebih tinggi lagi.

Salva juga sedang merancang program untuk orangtua di daerah agar memiliki menjalankan pola asuh. Sehingga anak memiliki growth mindset, memiliki ketertarikan untuk belajar IT secara otodidak, melakukan eksplorasi dan berani mencoba hal baru.

“Belajar IT itu melelahkan dan tidak mudah, karena itu menjaga agar tetap happy dan memiliki mindset atau pola pikir pasti bisa dengan banyak belajar dan latihan,” kata Salva.

Setelah lulus dari berbagai modul pembelajaran, murid terseleksi akan memiliki kompetensi IT. Mereka mengerjakan proyek pengembangan perangkat lunak hingga nantinya terjun magang dan bekerja.

“Tak perlu jadi sarjana untuk berkarir di bidang IT. Yang paling penting mau belajar terus menerus dan berlatih dengan materi yang tepat,” katanya.

Jika sudah bekerja, lanjut Salva, lulusan SMA bisa lanjut kuliah tanpa membebani orangtua. Apalagi kuliah IT sudah banyak menggunakan sistem daring, sehingga tidak mengganggu waktu bekerja. (Tri Wahyuni)