Suara Karya

Operasi Berdurasi 29 Jam, RSCM Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam Dempet Perut

JAKARTA (Suara Karya): Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil memisahkan bayi kembar siam dempet perut hingga tulang panggul lewat operasi kompleks yang berlangsung hingga 29 jam.

“Operasi kembar siam semacam ini bukan pertama kali dilakukan RSCM, tetapi ini yang terlama karena kondisinya yang kompleks,” kata Direktur Utama (Dirut) RSCM, dr Supriyanto Dharmoredjo, SpB, FINACS, M.Kes kepada media, di Gedung Kiara RSCM, Senin (19/10/26).

Dr Supriyanto saat itu didampingi Direktur Medik dan Keperawatan,
dr Renan Sukmawan, ST, SpJP(K), PhD, MARS; dan Ketua Tim Bedah Pemisahan Bayi Kembar Siam NA 1 dan NA2, Prof Dr dr RA Setyo Handryastuti, SpA, Subsp.Neuro(K) beserta jajaran dokter di dalamnya.

Ketua Tim Bedah Pemisahan Bayi Kembar Siam NA 1 dan NA2, Prof Setyo Handryastuti, SpA, Subsp.Neuro(K) yang akrab disapa dokter Handry itu menjelaskan, bayi kembar siap tersebut lahir di RSCM pada Desember 2024 dan langsung mendapat penanganan medis secara menyeluruh.

“Kami menunggu hingga mereka berusia satu tahun, sebelum operasi dilakukan. Pada Desember 2025, tim kembali mengevaluasi kondisi NA1 dan NA2. Hasil pemeriksaan menunjukkan pemisahan sudah bisa dilakukan,” tuturnya.

Bayi kembar siam dempet perut hingga tulang panggul tersebut memiliki sejumlah organ penting, termasuk jantung, paru-paru, serta beberapa organ dalam lainnya yang berkembang secara terpisah.

“Bagian dinding perut, struktur panggul, dan saluran kemih yang menyatu menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Karena itu, persiapan operasi dilakukan secara bertahap,” ungkap dr Handry.

Tim juga memantau pertumbuhan, status gizi, imunisasi, serta kondisi organ kedua bayi. Pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan ekokardiografi turut menjadi dasar untuk memetakan anatomi dan menentukan strategi pembedahan.

Tim bedah plastik juga mempersiapkan tissue expander, perangkat yang membantu memperluas jaringan kulit, sejak Januari hingga Mei untuk mendukung penutupan dinding perut setelah pemisahan.

“Persiapan ini penting, mengingat pemisahan akan meninggalkan defek atau bagian tubuh yang memerlukan rekonstruksi,” katanya.

Anggota tim dari bedah anak, dr Riana Pauline Tamba, SpB, Subsp.Ped(K) menjelaskan, kompleksitas operasi tak hanya terletak pada pemisahan kedua tubuh, tetapi juga pada penanganan organ yang saling berhubungan, yaitu saluran pencernaan, tulang panggul, serta saluran kemih dan genitalia.

“Setelah dipisahkan, seluruh bagian yang terbuka harus ditangani dan ditutup kembali. Ini pekerjaan yang sangat kompleks karena setiap struktur memiliki fungsi yang harus dipertahankan,” kata dr Riana.

Kondisi saluran pencernaan kedua bayi juga memerlukan perhatian khusus. Berdasarkan temuan saat operasi, salah satu bayi memiliki kontinuitas saluran pencernaan yang lebih lengkap, sedangkan bayi lainnya hanya memiliki usus halus.

Tim menentukan penanganan berdasarkan kondisi anatomi dan hubungan pembuluh darah yang ditemukan selama pembedahan, bukan semata-mata berdasarkan ukuran tubuh. Karena saat lahir, satu bayi memiliki ukuran yang lebih besar.

Untuk membantu pengeluaran kotoran selama proses pemulihan, dokter membuat stoma, yakni lubang pada dinding perut yang menghubungkan usus dengan bagian luar tubuh. Keberadaan stoma merupakan bagian dari penanganan yang masih akan dievaluasi sebelum dokter mempertimbangkan tindakan lanjutan.

Operasi pemisahan dilaksanakan pada 15 September 2026 dan berlanjut hingga hari berikutnya. Tim mencatat tindakan pada NA1 berlangsung sekitar 29 jam, sedangkan pada NA2 mencapai 23 jam 50 menit.

“Durasi operasi ini menjadi yang terlama dalam pengalaman operasi pemisahan kembar siam di RSCM,” ucap dr Riana.

Pembedahan melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari bedah anak, bedah plastik, ortopedi anak, urologi, anestesi anak, hingga tim spesialis anak yang menangani kebutuhan organ dan metabolisme.

Setelah kedua bayi terpisah, tim bekerja secara bersamaan untuk menangani masing-masing pasien sesuai kebutuhan medisnya.

Dokter spesialis ortopedi anak, dr Aryadi Kurniawan, SpOT, Subsp.A(K), mengatakan, pemisahan tulang panggul menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian tindakan.

Tim ortopedi melakukan penyesuaian struktur tulang agar bagian perut yang terbuka dapat dirapatkan, kemudian bekerja bersama tim bedah plastik untuk membantu penutupan luka.

Sementara itu, dokter spesialis bedah plastik, dr Indri Aulia, SpB.PRE, Subsp.GE(K), MPd.Ked, menambahkan, penanganan luka memanfaatkan berbagai teknik rekonstruksi, termasuk teknologi untuk menilai vitalitas jaringan dan bahan penunjang penutupan luka.

Dari sisi anestesi, dr Andi Ade Wijaya Ramlan, SpAn-TI, Subsp.An.Ped(K), mengatakan, enam dokter anestesi dibagi menjadi dua tim yang bekerja bergantian. Tugas mereka memastikan kondisi kedua bayi tetap stabil selama operasi, yang berlangsung jauh lebih lama dibanding pembedahan anak pada umumnya.

“Perdarahan, kehilangan cairan, dan perubahan posisi tubuh menjadi tantangan besar. Dengan berbagai peralatan terpasang, kami harus menjaga kondisi bayi tetap stabil selama tindakan berlangsung,” ujarnya.

Setelah operasi, kedua bayi menjalani perawatan intensif di unit perawatan intensif anak atau pediatric intensive care unit (PICU) selama lebih dari satu bulan.

Selama masa pemulihan, tim memantau penyembuhan luka, risiko infeksi, asupan nutrisi, serta fungsi organ setelah dipisahkan.

Dokter Handry menambahkan, kondisi keduanya kini stabil, tidak mengalami demam, dan sudah dapat menerima asupan melalui mulut. Kedua bayi direncanakan akan dipindahkan dari PICU ke ruang perawatan biasa sebagai bagian dari proses pemulihan.

Meski demikian, keberhasilan pemisahan belum menjadi akhir perjalanan medis NA1 dan NA2. Tim masih harus memastikan organ yang telah dipisahkan berfungsi dengan baik, memantau pertumbuhan, serta mengevaluasi fungsi saraf dan gerak, termasuk kondisi tungkai dan struktur panggul.

Dokter spesialis gastroenterologi anak, Prof Dr dr Hanifah Oswari, SpA, Subsp.GH(K), mengatakan, evaluasi fungsi pengeluaran kotoran menjadi salah satu perhatian berikutnya. Dokter akan menilai kondisi otot dasar panggul dan kemungkinan rekonstruksi saluran pembuangan di tahap selanjutnya.

Setelah luka sembuh, tim akan memantau perkembangannya dari bulan ke bulan, dengan perkiraan evaluasi sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk menentukan langkah selanjutnya.

RSCM juga menyiapkan pemantauan berkelanjutan bersama tim tumbuh kembang anak dan rehabilitasi medik. Pendekatan multidisiplin itu diharapkan membantu kedua anak mencapai kualitas hidup, fungsi tubuh, serta pertumbuhan dan perkembangan seoptimal mungkin.

“Setiap kasus kembar siam memiliki karakteristik berbeda, sehingga jumlah dan jenis tindakan lanjutan tidak dapat dipastikan sejak awal. Prioritas saat ini adalah memastikan kedua bayi pulih dengan baik sebelum melangkah ke tahapan rekonstruksi berikutnya,” kata dr Handry menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts