Suara Karya

Gemilang di IMSO ke-23, Talenta Muda Indonesia Sabet Enam Emas

DEPOK (Suara Karya): Talenta muda Indonesia menorehkan prestasi gemilang pada ajang International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 tahun 2026, di Depok, Jawa Barat, pada 2-7 Oktober 2026.

Dalam kompetisi yang mempertemukan pelajar berprestasi di bidang matematika dan sains dari berbagai negara tersebut, Indonesia berhasil menyabet 5 medali emas, 27 medali perak, dan 28 medali perunggu.

Capaian tersebut menjadi bukti kerja keras dan ketekunan para peserta dalam menjalani proses belajar, serta persiapan menghadapi kompetisi.

Prestasi itu sekaligus menunjukkan, talenta muda Indonesia mampu bersaing dan meraih hasil membanggakan di ajang internasional.

Peraih medali emas bidang Matematika, Aiden Gracio mengaku bangga atas pencapaian yang diraihnya. Murid kelas VI SD Witama Plus Srikandi, Pekanbaru tersebut menilai, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras yang telah dilakukan selama proses persiapan.

Selain kemampuan akademik, Aiden mengatakan, peserta juga perlu memiliki kemampuan mengelola tekanan saat berkompetisi. Karena hal itu bisa memengaruhi konsentrasi dan akhirnya berdampak pada hasil perlombaan.

“Jangan sampai tekanan mengambil alih saat berkompetisi karena hasilnya bisa menurun. Dari yang seharusnya mendapat emas, bisa turun menjadi perak,” tuturnya.

Pengalaman serupa dirasakan Laudya Senja Madinah Alisjahbana, peraih medali emas bidang Sains dari SDIA 61 Summarecon Serpong. Bagi Laudya, mengikuti IMSO ke-23 bukan sekadar mengejar medali, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar dan mendapat pengalaman baru.

“Pengalaman paling menyenangkan adalah belajar bersama teman-teman dan mempelajari hal-hal baru,” kata Laudya.

Laudya pun berpesan kepada murid lainnya agar tidak menjadikan keinginan untuk menjadi yang terbaik sebagai satu-satunya tujuan. Yang lebih penting adalah memberi usaha terbaik dalam mencapai hasil yang diinginkan.

Sementara itu, Team Leader Indonesia atau Ketua Tim Indonesia pada IMSO ke-23, Muchammad Fachri mengatakan, capaian enam medali emas tersebut bahkan melampaui perkiraan tim.

“Hasilnya sungguh di luar prediksi. Kami tidak menyangka akan mendapat medali sebanyak ini, tetapi Indonesia mendapat banyak medali,” ucapnya.

Dari 6 medali emas yang diraih Indonesia, 4 berasal dari bidang Matematika dan dua dari bidang Sains. Pada bidang Matematika, Indonesia juga meraih 13 medali perak dan 14 medali perunggu.

Sementara pada bidang Sains, tim Indonesia berhasil menambah 14 medali perak dan 14 medali perunggu. Dengan demikian, total perolehan Indonesia mencapai 61 medali dari dua bidang yang dipertandingkan.

Menurut Fachri, capaian tersebut tidak lahir dari persiapan dalam waktu singkat. Para peserta yang ingin berkompetisi di IMSO harus membangun kemampuan melalui proses belajar dan latihan secara konsisten.

“IMSO itu membutuhkan kerja keras, bukan hanya satu atau dua bulan, tetapi bisa bertahun-tahun,” katanya.
Ia mendorong para murid di seluruh Indonesia untuk terus belajar dan tidak mudah kehilangan semangat.

Menurut Fachri, ketekunan dalam belajar akan membuka peluang bagi murid untuk meraih prestasi, baik di bidang matematika dan sains maupun bidang lainnya.

Semangat untuk terus berusaha juga ditunjukkan Tahmid Hasan, perwakilan Bangladesh yang berhasil meraih emas bidang Sains.

Tahmid mengaku sempat khawatir hanya dapat medali perak atau perunggu, karena merasa belum tampil maksimal dalam kompetisi.

Karena itu, perolehan medali emas menjadi kejutan sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi Tahmid. Pengalaman berinteraksi dan belajar bersama peserta dari berbagai negara justru menjadi salah satu hal paling berharga selama mengikuti IMSO ke-23.

Tahmid berpesan agar peserta kompetisi tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Menurutnya, selalu ada peluang baru selama seseorang mau terus berusaha.

Bagi para talenta muda tersebut, prestasi di IMSO ke-23 bukanlah akhir dari perjalanan. Enam medali emas menjadi bukti bahwa prestasi lahir dari proses panjang, mulai dari belajar, berlatih, menghadapi tekanan, hingga berani berkompetisi di tingkat internasional. (Tri Wahyuni)

Related posts