JAKARTA (Suara Karya): Investasi filantropi pada anak usia dini menjadi salah satu kunci membangun produktivitas dan daya saing ekonomi masa depan.
Karena itu, dukungan pendanaan tak cukup berhenti pada pembiayaan proyek jangka pendek, tetapi harus memperkuat sistem layanan kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan anak.
Head of Policy and Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry menegaskan, filantropi perlu mengambil peran strategis dalam memperkuat ekosistem pengembangan anak usia dini atau early childhood development (ECD).
“Kontribusi terbaik filantropi bukan semata-mata seberapa besar dana yang diberikan, melainkan bagaimana dana tersebut digunakan untuk menghasilkan perubahan nyata, yang berkelanjutan,” kata Eddy dalam acara ‘Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development’ yang berlangsung di Jakarta pada 20-22 Oktober 2026.
Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran untuk memperkuat layanan pengembangan anak usia dini di kawasan Asia Pasifik.
Menurut Eddy, filantropi memiliki keunggulan dalam mendukung riset, menguji pendekatan baru, membangun bukti, serta menerjemahkan hasil pembelajaran menjadi kebijakan dan praktik yang lebih luas.
“Peran tersebut melengkapi tanggung jawab pemerintah dalam memastikan layanan menjangkau anak dan keluarga secara berkelanjutan,” kata Eddy dalam pemaparannya di hari kedua kegiatan, pada Rabu (21/10/26).
Ditambahkan, pengembangan anak usia dini mencakup lima unsur yang saling berkaitan, yakni kesehatan, gizi, pengasuhan responsif, keamanan dan perlindungan, serta pembelajaran dini.
“Seluruh aspek ini perlu berjalan bersama agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Ia mencontohkan kemitraan melalui Partnership to Accelerate Stunting Reduction in Indonesia (PASTI), yang dilaksanakan di 4 wilayah dan 8 kabupaten. Program itu melibatkan BKKBN, USAID, Tanoto Foundation, Amman Mineral, BCA, Bakti Barito Foundation, serta mitra pelaksana di daerah.
Kemitraan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mempercepat penurunan stunting. Keberlanjutan program juga membutuhkan komitmen pembiayaan dan kepemilikan dari para pemangku kepentingan, terutama saat dukungan pendanaan telah berubah.
“Tanoto Foundation bersama Amman Mineral dan BCA melanjutkan dukungan, setelah terjadi perubahan pendanaan USAID. Langkah itu memperlihatkan pentingnya menyiapkan mekanisme agar program yang telah berjalan tidak berhenti ketika sumber dana bergeser,” ungkapnya.
Upaya berikutnya dilakukan melalui pengembangan ECD Collaborative Indonesia bersama sejumlah mitra. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat koordinasi, berbagi pembelajaran, dan mendorong agar pendekatan yang terbukti efektif dapat diintegrasikan ke dalam sistem layanan.
Pentingnya investasi sejak awal kehidupan juga disoroti ECD Champion dari Bangladesh ECD Network, Muqeed Majumdar Babu. Ia menegaskan, investasi pada anak di bawah usia lima tahun bukan sekadar kegiatan amal, melainkan strategi membangun kualitas sumber daya manusia.
“Siapa yang akan membangun pabrik, rumah sakit, perusahaan, dan perusahaan rintisan Bangladesh pada 2045. Mereka adalah anak-anak yang sekarang berusia di bawah lima tahun,” kata Muqeed.
Menurut dia, anak-anak yang memperoleh dukungan memadai sejak dini akan menjadi tenaga kesehatan, insinyur, pekerja, dan wirausahawan yang menopang pembangunan di masa depan.
Karena itu, kualitas pengasuhan dan pendidikan pada periode awal kehidupan berpengaruh terhadap kemampuan belajar, produktivitas, serta daya saing ketika dewasa.
Bangladesh mencatat penurunan prevalensi stunting pada anak di bawah lima tahun dari 31 persen pada 2017 menjadi 24 persen pada 2022. Namun, akses terhadap pendidikan anak usia dini masih terbatas, dengan hanya sekitar satu dari lima anak yang mendapat layanan tersebut.
Tantangan juga terlihat dalam dukungan pengasuhan bagi keluarga pekerja. Kajian International Finance Corporation terhadap lebih dari 300 perusahaan menunjukkan hanya 16 persen yang menyediakan dukungan pengasuhan anak.
“Padahal, layanan tersebut dapat membantu orang tua, khususnya perempuan, tetap berpartisipasi dalam dunia kerja,” ucap Muqeed.
Ia menilai, pengembangan fasilitas pengasuhan anak di lingkungan kerja dan komunitas perlu diperkuat melalui kemitraan pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat.
“Kolaborasi dengan industri, termasuk sektor garmen, menjadi salah satu upaya untuk memperluas dukungan bagi keluarga pekerja.
Selain persoalan gizi dan pengasuhan, perubahan iklim ikut mengancam perkembangan anak,” tuturnya.
Muqeed mengutip data UNICEF, bahwa gelombang panas, siklon, banjir, dan penyakit terkait pada 2024 mengganggu pendidikan lebih dari 33 juta anak di Bangladesh.
Gelombang panas, bahkan menyebabkan sekolah ditutup selama sekitar 2 pekan. Di wilayah pesisir Khulna, intrusi air asin juga menjadi tantangan bagi kehidupan masyarakat.
“Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan anak perlu memperhitungkan risiko lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan dan proses belajar,” ucapnya.
Melalui Prokriti O Jibon Foundation atau Natural Life Foundation serta kampanye Green Bangladesh, Muqeed mendorong peningkatan kesadaran tentang hubungan antara lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan anak.
“Investasi pada anak harus mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan tempat mereka tumbuh,” tegasnya.
Pandangan itu sejalan dengan gagasan ekonom peraih Nobel, James Heckman, mengenai manfaat jangka panjang investasi pada masa kanak-kanak. Dukungan yang diberikan sejak awal dapat membantu membangun kemampuan manusia dan menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Pengalaman Indonesia dan Bangladesh tersebut menegaskan, filantropi dapat berperan lebih besar daripada sekadar penyedia dana.
Dengan memperkuat kemitraan, mengembangkan bukti, serta mendorong keberlanjutan pembiayaan dan kebijakan, investasi pada anak usia dini dapat menjadi fondasi bagi generasi yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing. (Tri Wahyuni)

