Oleh: Wisnu Bangun
Suasana haru menyelimuti posko utama di Dermaga Carita setelah Gubernur Banten, Andra Soni, tak kuasa menahan air mata saat memantau langsung operasi SAR di hari keenam.
Kesedihan mendalam ini pecah saat ia mengenang momen hangat ketika dirinya sempat mengobrol dan bercanda bersama empat jurnalis nasional pada malam tepat sebelum musibah laut itu terjadi.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Banten, Arif Agus Rakhman, mengatakan, malam sebelum peristiwa terjadi gubernur Andra Soni, sempat bercanda dengan para wartawan tersebut.
“Bapak Gubernur sangat terpukul karena kedekatan emosional malam sebelum kejadian.
Begitu mendengar musibah ini, Gubernur sempat mengeluarkan air mata dan langsung bergerak cepat menginstruksikan sejumlah dinas terkait untuk terlibat penuh di lapangan, di antaranya Dinas Kesehatan, BPBD, Dishub Dinsos, Satpol PP yang kini disiagakan langsung di Dermaga Carita,” tegas Arif saat memberikan keterangan.
Sementara itu di wilayah perairan, tim SAR gabungan terus memperluas area penyisiran hingga mencakup 4.600 nautical mile persegi (NM²).
“Fokus kami hari ini menyisir area selatan Gunung Anak Krakatau hingga mengarah ke Ujung Kulon serta perairan terbuka Samudra Hindia. Kami mencari delapan orang saudara kita yang ada di kapal tersebut,” ujar Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menegaskan bahwa status jurnalis dan kru kapal menjadi prioritas penyelamatan yang sama pentingnya.
Presiden Instruksikan KSAL, 3 KRI Tempur Diterjunkan
Skala pencarian ini telah memicu perhatian di tingkat tertinggi negara.
Atas perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) mengerahkan kekuatan penuh armada laut militer untuk memperkuat Basarnas.
TNI Angkatan Laut resmi menerjunkan tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), yakni KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861 [A4, A5].
Ketiga kapal perang ini memimpin formasi bersama 11 kapal gabungan lainnya—termasuk KAL Anyer dan KAL Pohawang—untuk membelah ombak tinggi Selat Sunda dan melakukan penyisiran taktis.
Berdasarkan data, saat kejadian hilang kontak Senin 7 September 2026, prakirawan BMKG Maritim Lampung menyatakan bahwa saat rombongan berlayar menuju Gunung Anak Krakatau, wilayah Selat Sunda bagian selatan sedang dilanda gelombang tinggi berkisar antara 2,5 hingga 4 meter.
Dalam kondisi itu, BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem satu hari sebelum kejadian.
Minggu 13 September 2026 BMKG melaporkan, ketinggian ombak di perairan tersebut mulai sedikit mereda, namun masih masuk dalam kategori sedang-tinggi, berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter, dengan kecepatan angin 10–20 knot bertiup ke arah tenggara.

Aksi Solidaritas Organisasi Jurnalis Nasional
Hilangnya para pembawa informasi ini memicu gerakan solidaritas luar biasa dari berbagai organisasi profesi jurnalis di tanah air.
Pengurus Pusat hingga daerah dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) terus mengawal perkembangan pencarian serta mendirikan posko pendampingan informasi.
Ketua organisasi profesi mendesak otoritas untuk memaksimalkan seluruh teknologi pelacakan.
Mereka menegaskan risiko tinggi selalu mengintai para jurnalis di garis depan bencana demi hak publik atas informasi, namun keselamatan nyawa tetap menjadi prioritas paling utama.
Ratusan Nelayan Lokal Turun Tangan Menyisir Arus
Tidak hanya mengandalkan armada militer dan SAR modern, kepedulian mendalam juga datang dari kaum nelayan setempat dan warga pesisir Pulau Sebesi serta Banten.
Menggunakan puluhan perahu motor tradisional (kapal ketinting), para nelayan secara sukarela ikut turun ke laut membantu penyisiran.
Pengetahuan mendalam para nelayan lokal mengenai karakteristik arah mata angin, dinamika arus bawah laut, dan titik-titik pulau karang tersembunyi menjadi modal krusial yang sangat membantu tim gabungan dalam memetakan jalur hanyutnya objek di sekitar perairan darat.
Fasilitas Ambulans hingga Hotel untuk Keluarga Korban
Sebagai bentuk kepedulian nyata, Pemerintah Provinsi Banten bergerak cepat memenuhi kebutuhan operasional dan kenyamanan psikologis keluarga korban yang setia menanti di sekitar posko utama.
Pihak Provinsi Banten telah mengerahkan sejumlah armada ambulans siaga 24 jam beserta tim Medis, Dapur Umum, Mobil Triler mobil toilet, (sanitasi keliling), serta memfasilitasi ruang inap di hotel bagi keluarga korban yang mendampingi proses pencarian di lapangan termasuk para wartawan yang melakukan pemantauan agar mereka mendapatkan tempat istirahat yang layak
Gubernur Banten juga sempat melakukan pemantauan bersama tim SAR hingga ke tengah laut menggunakan kapal rescue untuk melihat langsung jalannya penyisiran di perairan Selat Sunda yang penuh tantangan.
Puluhan wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, menyatu dengan masyarakat setempat di Posko pemantauan.
Mengetuk Pintu Langit: Pengajian dan Doa Bersama di Berbagai Daerah
Di tengah perjuangan fisik tim SAR di laut, dukungan spiritual mengalir deras dari darat.
Komunitas wartawan, ikatan pers mahasiswa, hingga lintas organisasi media di berbagai daerah menggelar aksi pengajian dan doa bersama secara serentak.
Mulai dari Serang, Jakarta, Bandung, hingga beberapa kota besar lainnya, para kuli tinta berkumpul membacakan Yasin dan doa keselamatan.
Langkah “mengetuk pintu langit” ini diniatkan agar mukjizat keselamatan menyertai seluruh korban, serta memberikan kekuatan, ketabahan, dan ketenangan batin bagi keluarga yang sedang menanti kabar di posko darurat.
Kronologi Singkat Kejadian
Rombongan bertolak menggunakan speedboat Arupadhatu 1 pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB dari pesisir Carita, Pandeglang.
Sinyal komunikasi terakhir seluruh awak dan penumpang terdeteksi memancar di seputaran Pulau Sebesi pada Senin sore pukul 16.00 hingga 18.00 WIB sebelum seluruh kontak terputus total.
Data Manifest Penumpang Kapal Arupadhatu 1
Berdasarkan data resmi posko darurat SAR, berikut adalah identitas 8 korban (5 Jurnalis dan 3 Awak/Kru Kapal):
- Warta – Nakhoda / Kapten Kapal
- Surakman – Anak Buah Kapal (ABK)
- Heriyanto – Pemandu Wisata Lokal / Kru Lapangan
- Bagus Khoirunas – Jurnalis LKBN ANTARA Biro Banten
- Ari Basuki – Jurnalis Merdeka.com
- Yudistiro Pranoto – Jurnalis iNews TV
- Firdaus Wajidi (Daus) – Jurnalis Anadolu Agency
- Donal Husni – Jurnalis Foto Lepas (Freelance)
Temuan Objek Baru dan Lacak IMEI Komdigi
Dalam 48 jam terakhir, dinamika pencarian memunculkan beberapa petunjuk material baru di lapangan. Tim SAR menemukan beberapa objek terapung di sektor selatan perairan, meliputi dua jaket pelampung (life jacket) oranye dan merah, satu helm merah, serta satu jeriken bahan bakar biru.
Pihak Lanal Banten menegaskan seluruh barang temuan masih diuji identifikasi untuk memastikan apakah benda tersebut milik para kru atau jurnalis.
Di sisi digital, pelacakan International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membenarkan adanya pancaran daya terakhir dari BTS Pulau Sebesi pada hari kejadian.
Tantangan Berat Erupsi Level III (Siaga)
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Hembusan abu vulkanik tebal dan dinamika arus bawah laut Selat Sunda menjadi dinding penghalang utama bagi para penyelam dan kapal penyisir.
Pihak otoritas terus mengingatkan armada pencari agar tetap waspada dan berada di luar radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.

