Suara Karya

Di Era Digital, ‘Computational Thinking’ Perlu Masuk Agenda Penguatan PAUD Nasional

JAKARTA (Suara Karya): Pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), anak juga perlu dilatih sejak dini keterampilan abad ke-21 yang menekankan pada kemampuan berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah.

Karena itu, Berpikir Komputasional (Computational Thinking/CT) dinilai perlu menjadi bagian dari agenda penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara nasional.

Demikian benang merah dari diskusi kebijakan publik bertajuk ‘Implementasi Computational Thinking (CT) di PAUD Untuk Mendukung Capaian PISA Indonesia’, yang diselenggarakan Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI), di Jakarta, Kamis (18/6/26).

Ketua Umum FKPI, Trubus Rahardiansah menilai, investasi pendidikan harus dimulai sejak jenjang PAUD, karena fase itu menjadi masa paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kemampuan berpikir anak.

“Kemampuan itu dinilai penting sebagai bekal anak menghadapi tantangan abad ke-21 sekaligus mendukung peningkatan capaian Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Meski kerap diasosiasikan dengan komputer dan teknologi digital, menurut Trubus, berpikir komputasional itu sesungguhnya merupakan kemampuan berpikir logis, sistematis, kreatif, dan terstruktur dalam memecahkan masalah.

“Penguatan Berpikir Komputasional sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia dalam Visi Indonesia 2045, yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas pendidikan, profesionalisme guru, serta transformasi metode pembelajaran,” tegasnya.

Untuk itu, implementasi Berpikir Komputasional secara luas butuh dukungan kebijakan yang kuat. Pemerintah perlu menempatkan penguatan kemampuan itu sebagai bagian dari agenda peningkatan mutu PAUD nasional.

“Dengan demikian, implementasi CT memiliki payung kebijakan yang jelas dan dukungan anggaran yang memadai,” ujar Trubus.

Ia menambahkan, kehadiran regulasi yang jelas akan memudahkan pemerintah mengintegrasikan Berpikir Komputasional ke dalam kurikulum dan menyusun panduan teknis yang dapat digunakan oleh satuan PAUD di seluruh Indonesia.

Trubus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat untuk memperkuat kualitas layanan PAUD. Keberhasilan PAUD tidak bisa hanya dibebankan ke sekolah dan guru.

“PAUD adalah investasi jangka panjang bangsa. Karena itu perlu sinergi semua pihak, termasuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas guru, penyediaan sarana pembelajaran, hingga pemerataan akses pendidikan berkualitas,” katanya.

Dari sisi pemerintah, Direktur PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kurniawan menjelaskan, penguatan keterampilan abad ke-21 sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2018.

“Permendikbud No 37/2018 itu digunakan untuk memperkuat muatan informatika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Meski demikian, implementasi Berpikir Komputasional di tingkat PAUD masih dilakukan secara kontekstual dan belum diatur secara eksplisit dalam kurikulum nasional,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut umumnya diintegrasikan melalui kegiatan bermain, pemecahan masalah, dan pengembangan kemampuan berpikir sesuai karakteristik anak usia dini.

“Saat ini Kemendikdasmen bersama DPR sedang membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang antara lain memuat usulan wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan prasekolah,” katanya.

Sejalan dengan itu, penguatan keterampilan abad ke-21 seperti Berpikir Komputasional akan terus didorong melalui peningkatan kapasitas guru, penyediaan sumber belajar, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan,” katanya.

Menurut Kurniawan, implementasi Berpikir Komputasional masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari beragamnya pemahaman guru, keterbatasan sumber daya pembelajaran, belum optimalnya sistem asesmen, hingga kesenjangan akses pendidikan antarwilayah.

Karena itu, praktik-praktik baik yang telah dilakukan berbagai pihak perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak satuan PAUD di seluruh Indonesia.

Salah satu praktik baik itu datang dari penelitian yang dilakukan akademisi Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina. Dalam tiga tahun terakhir, Irma bersama tim mengembangkan model implementasi Berpikir Komputasional di 36 PAUD mitra Djarum Foundation di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Penelitian itu menunjukkan, Berpikir Komputasional dapat diintegrasikan dengan berbagai kurikulum yang berlaku, tanpa harus menambah mata pelajaran baru atau mengandalkan perangkat digital.

“Berpikir Komputasional bukan mengajarkan anak menjadi programmer sejak dini. Yang dibangun adalah cara berpikirnya. Anak diajak berpikir logis, mengenali pola, menyusun langkah-langkah, dan memecahkan masalah melalui aktivitas bermain yang sesuai tahap perkembangannya,” ucap Irma.

Menurut Irma, keberhasilan implementasi Berpikir Komputasional sangat bergantung pada kompetensi guru. Tantangan terbesar saat ini adalah masih terbatasnya jumlah guru yang memahami konsep tersebut secara utuh.

Karena itu, program pelatihan tidak cukup dilakukan sekali. Merujuk pada pengalaman di Kudus, peningkatan kompetensi guru membutuhkan pendampingan berkelanjutan, monitoring, evaluasi, serta penguatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing guru.

“Kita sering mengganti kurikulum, tetapi proses mengajarnya tidak berubah. Padahal yang paling penting adalah bagaimana guru mampu menciptakan pembelajaran yang membuat anak berpikir, memahami makna, dan menemukan solusi sendiri,” katanya.

Melalui pendampingan intensif yang telah menjangkau 6.491 guru PAUD di Kabupaten Kudus dan berbagai daerah lainnya, Irma melihat perubahan signifikan dalam praktik pembelajaran di kelas.

“Guru mulai beralih dari metode instruksional menjadi pembelajaran yang mendorong anak aktif bertanya, mengeksplorasi, dan memecahkan masalah,” tuturnya.

Dengan dukungan kebijakan yang kuat, peningkatan kualitas guru, serta kolaborasi berbagai pihak, Berpikir Komputasional diyakini dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan mampu menghadapi tantangan era digital. (Tri Wahyuni)

Related posts