JAKARTA (Suara Karya): Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie mengajak para penerima Tanoto Scholar untuk tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pesan itu disampaikan Stella saat menjadi pembicara dalam Tanoto Scholars Gathering yang diikuti 240 penerima beasiswa Program TELADAN Tanoto Foundation, di Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7/26).
Menurut Stella, AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, karena mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan dengan cepat. Namun, kemampuan manusia untuk mengevaluasi kualitas jawaban AI justru menjadi keterampilan yang paling menentukan di masa depan.
“Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, atau akurat atau tidak, kalian tidak akan tergantikan,” ujar Stella.
Ia menekankan, generasi muda tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Proses belajar, menganalisis, hingga menyelesaikan persoalan tetap harus dijalani agar kemampuan bernalar terus berkembang.
“Kalau semua proses diserahkan kepada AI, kita kehilangan kesempatan membangun kemampuan untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana yang keliru. Yang berkualitas atau tidak,” katanya.
Dalam paparannya, Stella mengajak peserta melihat perkembangan AI secara lebih kritis melalui perspektif sejarah.
Ia mencontohkan fenomena Tulip Mania di Belanda pada abad ke-17, ketika harga bunga tersebut melonjak sangat tinggi, sebelum akhirnya jatuh drastis. Fenomena tersebut dikenal sebagai The Dutch Tulip Bubble, salah satu gelembung ekonomi pertama dalam sejarah.
Hal serupa, kata Stella, juga pernah terjadi pada era awal internet melalui dotcom bubble. Dimana investasi terhadap perusahaan berbasis internet melonjak, sebelum akhirnya banyak yang runtuh.
Menurut Stella, pertanyaan penting saat ini adalah apakah AI akan menjadi gelembung ekonomi berikutnya, atau justru berkembang menjadi teknologi yang benar-benar berkelanjutan.
“Hampir seluruh sektor kini mulai menggantungkan penyelesaian persoalan kepada AI, mulai dari pendidikan, bisnis, ekonomi, hingga kesehatan dan sains. Kita tidak tahu apakah AI akan menjadi gelembung ekonomi atau teknologi yang benar-benar berkelanjutan,” tuturnya.
Di balik pesatnya perkembangan AI, Stella mengingatkan adanya biaya lingkungan yang sangat besar.
Hasil riset menunjukkan, penggunaan AI diperkirakan mengonsumsi sekitar 1-1,3 persen energi dunia. Diproyeksikan angkanya meningkat menjadi sekitar 4,5 persen dalam beberapa tahun mendatang.
“Tahun lalu pemakaian energi oleh AI itu sama dengan pemakaian energi selama satu tahun negara Latvia,” ungkapnya.
Bahkan, menurut proyeksi yang dipaparkan Stella, konsumsi energi AI akan terus meningkat hingga setara dengan penggunaan energi tahunan negara-negara seperti Rumania, Republik Ceko, Italia, Inggris Raya, hingga Kanada.
Tak hanya listrik, AI juga butuh air dalam jumlah sangat besar untuk mendinginkan pusat data. Salah satu fasilitas pemrosesan data AI, menggunakan air setara kebutuhan air minum 1,2 juta orang. Sedangkan kebutuhan listriknya setara konsumsi 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.
Meski demikian, Stella mengingatkan, kemampuan AI saat ini masih sebatas menghasilkan berbagai kemungkinan solusi.
“AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500,” ujarnya.

Tiga Strategi Pendidikan Tinggi
Di hadapan para mahasiswa penerima beasiswa TELADAN, Stella juga menyoroti tantangan yang dihadapi perguruan tinggi di era AI.
Ia menyebut sejumlah profesi mulai terdampak otomatisasi, termasuk lulusan ilmu komputer di Amerika Serikat yang mulai menghadapi tekanan di pasar kerja.
Namun, lanjut Stella, solusinya bukanlah menghapus berbagai program studi dan menggantinya dengan satu disiplin baru yang hanya berfokus pada AI.
Perguruan tinggi justru harus memperkuat tiga fungsi utamanya. Pertama, bagaimana menciptakan pengetahuan (creating knowledge);
Mentransmisikan pengetahuan (transmitting knowledge); dan Mengkurasi pengetahuan (curating knowledge).
Menurut Stella, kampus harus mampu menentukan jenis pengetahuan yang tetap menjadi ranah manusia dan mana yang dapat dibantu AI. “Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, tentu saja manusia akan digantikan oleh AI,” katanya.
Selain itu, universitas juga harus meninjau kembali cara mentransmisikan pengetahuan kepada mahasiswa, mengingat informasi kini dapat diperoleh dengan mudah melalui AI.
Yang paling penting, lanjut Stella, adalah kemampuan perguruan tinggi dalam mengkurasi pengetahuan, yakni memilih, memverifikasi, sekaligus memberi makna terhadap limpahan informasi yang tersedia.
“Jika seseorang dengan pendidikan tinggi tidk bisa menjawab pengetahuan apa yang harus diciptakan, pengetahuan apa yang harus ditransmisikan, dan bagaimana mengkurasinya, pendidikan tinggi tidak akan berkelanjutan di era AI,” paparnya.
Sebaliknya, manusia yang mampu menciptakan, mentransmisikan, dan mengkurasi pengetahuan akan tetap relevan di tengah perkembangan teknologi.
Di tingkat individu, Stella juga mengingatkan pentingnya menggunakan AI secara bijak. Katanya, penggunaan AI secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir mahasiswa, maupun pelajar karena mereka kehilangan proses belajar dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Mengutip ilmuwan matematika peraih Fields Medal, Michael Freedman, Stella mengatakan kemampuan utama manusia di era AI adalah mengevaluasi hasil yang diberikan AI.
Menurutnya, masa depan bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan oleh mereka yang tetap mampu berpikir kritis, menciptakan pengetahuan baru, serta memberi makna terhadap informasi yang tersedia.
Sejalan dengan pesan itu, Tanoto Foundation terus memperkuat upaya menyiapkan generasi muda yang unggul melalui Program TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan).
Program tersebut merupakan beasiswa sekaligus pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa S1 di 10 perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation.
Selain memberi dukungan biaya kuliah dan tunjangan hidup, Program TELADAN juga membekali peserta dengan pengembangan soft skills dan pelatihan kepemimpinan secara terstruktur selama 3,5 tahun, mulai semester 2 hingga semester 8.
Saat ini, Tanoto Foundation telah membuka pendaftaran TELADAN Cohort 2027 sejak 1 Juli hingga 7 September 2026.
Program tersebut ditujukan untuk menjaring calon pemimpin masa depan yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap masyarakat. (Tri Wahyuni)

