SERANG (Suara Karya) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) diminta agar mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang untuk membangun tandon-tandon air bersih secara merata di setiap desa yang menjadi langganan krisis kekeringan tahunan.
Pengamat Kajian Publik, Darmawan Hadiguna, menegaskan bahwa tidak hanya itu, wakil rakyat juga dituntut melakukan desakan perluasan jaringan pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke daerah-daerah terdampak bencana kekeringan langganan di wilayah pesisir utara tersebut.
“Langkah pengawalan oleh legislatif untuk segera mengunci di hulu perencanaan anggaran, memanfaatkan momentum penyusunan dokumen KUA-PPAS APBD Kabupaten Serang Tahun Anggaran 2027 yang sedang berlangsung saat ini adalah momentum sangat tepat,” ujar Darmawan dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, melalui komitmen anggaran yang konkret, pemangku kebijakan diharapkan mampu menghadirkan solusi infrastruktur air bersih yang permanen dan menyudahi pola penanganan reaktif yang sekadar mengandalkan bantuan truk tangki darurat.
Fakta objektif di lapangan menunjukkan bahwa krisis air bersih di wilayah pesisir Kabupaten Serang kini telah memasuki fase yang sangat memprihatinkan.
Kondisi kekeringan ekstrem yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir membuat sumber air bawah tanah milik warga di Kecamatan Pontang, Tirtayasa, dan Tanara mengering total.
Situasi ini diperparah oleh fenomena intrusi air laut yang menyebabkan sisa air sumur warga berubah menjadi payau dan asin sehingga sama sekali tidak bisa dikonsumsi.
Dampak buruk kemarau panjang ini juga mulai meluas ke wilayah sekitarnya, termasuk merusak sektor pertanian di kawasan Kecamatan Carenang dan Kecamatan Binuang.
Berdasarkan data pemutakhiran Dinas Pertanian, sekitar 700 hektare lahan persawahan di Kabupaten Serang kini dalam kondisi kekeringan, bahkan 68 hektare di antaranya dilaporkan telah mengalami puso atau gagal panen total.
Demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan dasar harian, ratusan warga kini terpaksa mengantre panjang setiap hari sambil membawa jeriken dan ember kosong.
Merespons jeritan masyarakat tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten bersama BPBD Kabupaten Serang bergerak cepat menerjunkan armada truk tangki bantuan ke pemukiman padat penduduk.
Guna menjamin kualitas air baku yang layak konsumsi, petugas di lapangan harus mengambil dan mengangkut pasokan air bersih langsung dari sumber mata air di Kecamatan Ciomas.
Truk-truk tangki ini harus menempuh tantangan geografis jalur darat sejauh 40 hingga 55 kilometer untuk bisa sampai ke masing-masing lokasi bantuan di pesisir utara.
Sinergi penanganan darurat di lapangan saat ini juga diperkuat oleh keterlibatan Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Albantani serta aksi sosial dari beberapa korporasi swasta lokal di kawasan Carenang yang ikut menyalurkan bantuan air bersih guna meredam antrean warga.
Menghadapi siklus krisis tahunan yang terus berulang ini, pemerintah daerah bersama legislatif dituntut tidak hanya mengandalkan solusi darurat jangka pendek berupa pengiriman tangki air.
Secara taktis, solusi struktural jangka pendek yang mendesak direalisasikan melalui anggaran baru adalah pengadaan dan pemasangan tandon air umum secara merata di setiap desa terdampak.
Penempatan tandon air di setiap desa ini dinilai krusial agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan menggunakan pasokan air bantuan secara kolektif tanpa harus mengantre panjang di titik yang jauh.
Sementara untuk jangka panjang, percepatan perluasan dan pembangunan saluran pipa air bersih PDAM dari Perumda Tirta Albantani menuju wilayah Serang Utara mutlak menjadi harga mati yang harus dikawal ketat oleh DPRD Kabupaten Serang.
Di sisi lain, PMI Provinsi Banten sendiri tercatat telah menyiapkan total logistik cadangan hingga 6,6 juta liter air bersih yang siap didistribusikan secara berkala selama masa tanggap darurat kekeringan ini berlangsung.
Langkah pengiriman pasokan air bersih dari berbagai instansi terkait ini diharapkan dapat terus berjalan konsisten guna mencegah dampak kelangkaan air yang lebih luas bagi ribuan kepala keluarga di wilayah pesisir utara Kabupaten Serang. (Wisnu Bangun)

