JAKARTA (Suara Karya): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pembinaan talenta riset dan inovasi nasional melalui gelaran ‘Indonesian Research and Innovation Fair’ (IRIFair) 2026.
Ajang yang melibatkan lebih dari 1.200 talenta dari jenjang pelajar hingga periset muda itu diarahkan menjadi bagian dari pipeline talenta menuju periset dan inovator unggul.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan, penguatan talenta menjadi kunci bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan ekonomi.
“Kalau Indonesia ingin maju, maka tidak ada cara lain selain harus memperkuat human capital dan inovasi,” kata Arif Satria dalam sambutannya membuka kegiatan bertajuk ‘IRIFair 2026 Road to Talent Fest Bidang Riset dan Inovasi’ di Jakarta, Kamis (24/9/26).
Menurut Arif Satria, teori pertumbuhan endogen (Endogenous Growth Theory) yang dikembangkan ekonom Paul Romer menegaskan pentingnya modal manusia (human capital), penguasaan teknologi, dan inovasi dalam pertumbuhan ekonomi.
Arif menyebut, terjadi pergeseran sumber pertumbuhan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir. Jika sebelumnya sumber daya alam menjadi salah satu kekuatan utama, kontribusinya kini semakin menurun, sementara peran sumber daya manusia dan teknologi semakin meningkat.
Ia juga menyoroti keterkaitan berbagai indikator pembangunan dengan kapasitas inovasi. Menurut Arif, semakin tinggi innovation index, GDP per capita, daya saing, produktivitas tenaga kerja, dan pembangunan manusia, semakin kuat pula fondasi kemajuan suatu negara.
“Kalau sekarang Indonesia ada di posisi 55 dunia dalam skor innovation index, artinya kita punya baseline. Tinggal bagaimana meningkatkan kecepatan untuk meraih apa yang kita impikan itu,” ujarnya.
Arif mencontohkan perkembangan Tiongkok dalam bidang paten. Saat ini Indonesia mencatat sekitar 15 ribu pendaftaran paten, sedangkan Tiongkok telah mencapai sekitar 1,8 juta paten. Namun, kondisi itu bukan alasan untuk berkecil hati.
Perubahan posisi antarnegara menunjukkan, bahwa negara yang saat ini tertinggal dapat berkembang, jika mampu membangun kapasitas inovasi secara konsisten.
“Yang kecil tak selamanya kecil, yang besar juga tidak selamanya besar,” tegasnya.
Dorong Revolusi Mindset
Arif menilai, selain kapasitas riset dan teknologi, faktor yang tidak kalah penting adalah pola pikir atau mindset generasi muda.
Ia mengutip studi McKinsey yang mencakup 72 negara dan meneliti siswa usia 15 tahun. Selain faktor guru, orang tua dan sekolah, menurut Arif, mindset siswa menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap prestasi akademik, antara lain motivasi, kepercayaan diri, dan keberanian.
Karena itu, ia meminta para pelajar dan mahasiswa yang mengikuti IRIFair 2026 tidak merasa rendah diri, hanya karena berasal dari keluarga, sekolah, atau lingkungan yang biasa-biasa saja.
“Faktor itu penting, tetapi faktor terpenting ada pada diri kita sendiri,” pungkasnya.
Arif juga mendorong generasi muda tak hanya meniru best practice, tetapi berani menciptakan sesuatu yang baru.
“Jika hanya berorientasi pada best practice, Indonesia akan terus menjadi pengikut. Untuk jadi pemimpin perlu keberanian untuk menghasilkan future practice lewat kreativitas, imajinasi, dan inovasi,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kreativitas, imajinasi, kemampuan belajar (learning agility), optimisme, serta kepercayaan diri dalam membangun talenta unggul.
Arif mencontohkan berbagai karya imajinatif yang kemudian menginspirasi perkembangan teknologi. Film Artificial Intelligence karya Steven Spielberg, misalnya, telah menggambarkan teknologi humanoid dan kecerdasan buatan jauh sebelum perkembangan AI seperti sekarang.
Menurut dia, riset dan inovasi sering kali bermula dari keberanian membayangkan sesuatu yang belum ada. “Berimajinasi dan bermimpi itu butuh keberanian, butuh kepercayaan diri,” katanya.
Ia pun menyebut skor mindset siswa Indonesia dalam PISA terbaru masih berada di posisi 85 dari 87 negara. Karena itu, ia berharap para peserta IRIFair 2026 dapat menjadi bagian dari upaya membangun growth mindset dan menularkan pola pikir positif kepada lingkungan masing-masing.
“Bangsa Indonesia hanya akan bisa besar ketika ada revolusi mindset,” ujarnya. (Tri Wahyuni)

