Oleh: Wartawan Senior, Wisnu Bangun
BANTEN-Tim SAR resmi mengakhiri operasi pencarian rombongan kapal cepat KM Arupadatu I di perairan Selat Sunda pada Kamis sore, 17 September 2026.
Ketukan palu tanda penutupan operasi pasca 10 hari pencarian intensif tersebut menyisakan kegundahan mendalam di hati saya.
Sebuah rasa sesak sekaligus gelisah teramat sangat menyerang jiwa, mungkin jauh lebih dalam dari perasaan sebagian orang.
Senin Kelabu Menuju Anak Krakatau
Senin kelabu, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, lima jurnalis dan tiga awak kapal berangkat menuju perairan Kabupaten Pandeglang demi menunaikan tugas mulia meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Namun takdir berkata lain, ombak samudera menelan komunikasi mereka dan meninggalkan duka kelam bagi dunia pers tanah air.
Publik mengategorikan tragedi tersebut sebagai kecelakaan laut paling ekstrem sepanjang sejarah modern saat ini.
Skala kegentingan musibah luar biasa tersebut melahirkan catatan sejarah baru, yaitu pengerahan armada penyelamat masif atas perintah langsung Presiden Republik Indonesia.
Atensi khusus kepala negara membuktikan hilangnya rombongan tersebut bukan lagi sekadar insiden lokal, melainkan urusan kemanusiaan skala nasional.
Penghormatan Kepada Para Pejuang Informasi
Kita menaruh hormat setinggi-tingginya kepada para pejuang informasi serta awak kapal pemberani status hilang tersebut.
Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto LKBN ANTARA), Arie Basuki (Jurnalis Merdeka.com), Yudistiro Pranoto / Yudhis (Jurnalis iNews.id), Donal Husni (Jurnalis Freelance), Warta (Kapten Kapal), Surakman (ABK), dan Heriyanto (Guide).

Musibah Selat Sunda tersebut tidak hanya menelan korban wartawan nasional pemburu berita dalam negeri.
Tragedi pilu tersebut juga merenggut nyawa wartawan internasional, Firdaus Wajidi (Daus), jurnalis foto berbakat dari kantor berita global Anadolu Agency (Turki).
Fakta tersebut menegaskan risiko profesi rekan-rekan kita telah melampaui sekat geopolitik.
Kehilangan besar tersebut menjadi duka mendalam bagi dunia jurnalisme internasional.
Kemanusiaan Menolak Mengemis
Sebagai sesama rekan seprofesi, duka saya berubah menjadi panggilan moral saat Gubernur Banten, Bapak Andra Soni, mengabaikan surat terbuka titipan saya per tanggal 18 September 2026.
Namun, nilai kemanusiaan melarang kita mengemis dan mengetuk pintu pendopo berulang kali.
Kami menolak membiarkan para istri, anak, serta orang tua korban larut dalam ketidakpastian menanti iba penguasa.
Keheningan gubernur menjadi jawaban mutlak bahwa waktu menanti telah usai dan fajar pergerakan telah tiba.
Membangun Wadah Hukum Permanen
Berbekal tanggung jawab moral independen, saya bersama jurnalis senior Dadang Handayani, Yusvin
Karuyan, dan Loeloe Djamaludin mengambil inisiatif konkret mempersiapkan pembentukan Lembaga Advokasi Permanen berbadan hukum.
Mari kita buktikan solidaritas pers bukan sekadar jargon ruang redaksi, melainkan aksi nyata terstruktur, melembaga, serta abadi.
Perjuangan baru saja dimulai.

