Siap Bangun Jejaring, Universitas Podomoro jadi Tuan Rumah KMI Expo 2020

0
Rektor Universitas Agung Podomoro, Bacelius Ruru. (Suarakarya.co,id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Rektor Universitas Agung Podomoro Bacelius Ruru mengaku bangga, kampusnya terpilih sebagai tuan rumah perhelatan Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo 2020. Karena pandemi covid-19, perhelatan tersebut digelar secara daring melalui flatform Hopin.

“Meski berusia muda, kami sejak awal berdiri sudah fokus pada pendidikan berbasis kewirausahaan,” kata Bacelius Ruru dalam keterangan pers secara virtual, pada Jumat (4/12/20).

Hadir dalam kesempatan itu, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam dan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Aris Junaidi.

Ruru menjelaskan, KMI Expo digelar untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki mahasiswa dalam dunia wirausaha di masa depan. Lewat expo, mahasiswa bisa saling bertukar ide dan kreativitas bisnis. Selain menimba dari para senior yang menjadi mentor selama kegiatan.

“Karena itu, KMI Expo kali ini bertema ‘Connecting Opportunities’ atau menghubungkan peluang. Karena selain mahasiswa, masyarakat umum juga bisa ikut bergabung untuk membangun jejaring dalam kegiatan kewirausahaan yang berkesinambungan,” ujarnya.

Ditambahkan, KMI Expo dimulai sejak 19 November 2020. Kegiatan dilanjutkan pada tahap penjurian untuk penghargaan KMI Award dan Start-Up Summit Award pada 23 November hingga 4 Desember. Pengumuman pemenang pada 5 Desember 2020.

“Untuk KMI Award ada 2 kategori yaitu mahasiswa peserta kompetisi dan umum. KMI Award dibagi dalam 6 sub-kategori industri yaitu makanan dan minuman; perdagangan dan jasa; kreatif; produksi dan budidaya; teknologi serta digital,” tuturnya.

Bacelius Ruru mengungkapkan, Universitas Agung Podomoro merupakan salah satu perguruan tinggi yang mendapat hibah wirausaha terbesar kepada 5 unit bisnis. Universitas lain dengan prestasi serupa adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Dian Nuswantoro dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan rata-rata 5-7 unit bisnis per perguruan tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Professor of Entrepreneurship Babson College, Amerika, Kelley menjelaskan, pada 2018, Indonesia memiliki tingkat kewirausahaan yang cukup tinggi dibanding 48 negara Asia lainnya.

Selain itu, dunia kewirausahaan di Indonesia juga bersifat inklusif, sebab baik pria maupun wanita memiliki kesempatan yang sama untuk berwirausaha. Tak seperti di beberapa negara, dimana wanita memiliki kesempatan rendah untuk berwirausaha.

Kelley memandang Indonesia berhasil mengembangkan kewirausahaan nasional melalui inovasi dan teknologi. Hal itu bisa dilihat pada Bandung Techno Park yang dinilai sebagai inovasi besar. Karena selain dapat dimanfaatkan untuk memajukan inovasi dan teknologi, tempat itu juga akan berdampak terhadap perekonomian bangsa.

“Kewirausahaan tak hanya tentang startup, tetapi juga bisnis besar dalam bidang teknologi dan bisnis keluarga yang telah dilakukan oleh 75 persen entrepreneur dari 48 negara di Asia. Sebanyak 81 pereen dari usaha itu berhasil berjalan dengan stabil, katanya.

Kelley juga menyampaikan, stabilitas suatu usaha kerap didukung oleh budaya, kemampuan keuangan, dukungan pemerintah, pendidikan dan infrastruktur yang ada di Indonesia. Namun, hal yang perlu difokuskan adalah menumbuhkan kepercayaan diri pada masyarakat untuk membangun usaha yang besar, bukan sekadar usaha rintisan saja.

“Hal ini dapat dibangun melalui edukasi kewirausahaan di pendidikan tinggi adalah mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, membuat serta menggunakan kesempatan untuk membangun usaha yang besar dengan kepercayaan diri. Semua itu diperoleh dari pengalaman yang didapat dalam kelas,” tuturnya.

Ia menambahkan, seorang entrepreneur harus memiliki dan menggunakan logika prediktif dan kreatif dalam menjalankan usaha serta memecahkan masalah. Sebab tak semua usaha berjalan sesuai rencana (business plan).

Menurutnya, kemampuan tersebut dapat dimulai dalam setiap diri individu dengan mengimplementasikannya pada berbagai permasalahan kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari. (Tri Wahyuni)