JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberi penghargaan Anugerah Kebudayaan kepada 51 maestro seni tradisi. Dari jumlah itu, 43 penerima kategori perorangan dan 8 sisanya adalah lembaga.
“Lembaga penerima anugerah ini bukan abal-abal, yang baru berdiri 1 atau 2 tahun. Tetapi lembaga yang konsisten berjuang dalam seni dan budaya selama lebih dari 10 tahun,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayan, Kemdikbud, Najmuddin Ramly dalam acara Anugerah Kebudayaan di Jakarta, Rabu (26/9) malam.
Penghargaan diberikan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy.
Najmuddin menjelaskan, penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi pemerintah terhadap para maestro yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk pelestarian dan pemajuan kebudayaan Indonesia. Hal itu diharapkan memberi dampak strategis terhadap penguatan karakter bangsa.
Sementara itu Mendikbud Muhadjir Effendy berharap para maestro terus menggeluti karya-karya seni langka, unik, dan memiliki kekhasan sesuai dengan kondisi geografis dan adat istiadat setempat.
“Dengan demikian, proses pewarisan budaya dapat berjalan secara sinergis dan berkembang antar generasi,” ujarnya.
Pewarisan budaya, menurut Muhadjir menjadi penting agar budaya Indonesia tetap langgeng ditengah hingar bingar budaya global. Dengan demikian, generasi milenial Indonesia tetap menempel pada budaya Indonesia, meski hidup di era digital.
“Karena itu saya senang ada anak muda yang dapat penghargaan ini. Karena urusan pengembangan dan pewarisan budaya, bukan hanya tugas mereka yang tua tetapi juga bisa dilakukan kalangan muda,” kata Muhadjir menandaskan.
Disebutkan, Anugerah Kebudayaan untuk kategori Bintang Budaya Parama Dharma diberikan kepada RM Soedarsono dan RJ Katamsi Martorahardjo (alm). Kategori Satyalancana Kebudayaan diberikan ke Hamzah Daeng Mangemba (alm), Ashadi Siregar, Yoseph Rawi, Tubagus Oemay Martakusumah (alm), Sahidah, Ebiet G Ade, But Muchtar (alm), dan Ida Bagus Njana (alm).
Penghargaan Anugerah Kebudayaan untuk kategori pencipta, pelopor, dan pembaru diberikan ke Sidi Saleh, Glenn Fredly, Jecko Siompo, Jose Rizal Manua, Afrizal Malna, Agus Suwage, Tjokorda Gde Raka Sukawati (alm), Lily Yulianti Farid, Sri Aksana Syuman dan Eko Supriyono.
Untuk kategori Pelestari diberikan kepada Temu Misti, Hermin Istiariningsih, RP Leo Joosten Ginting, I Made Wena, KRAT Muhamad Karno Kusumodiningrat (Karno KD), Antonius Taula, Djatikusumah, Kartini Kisam, Akhmad Elvian dan Hanna Keraf.
Pada kategori anak remaja, Anugerah Kebudayaan diberikan kepada Thifalia Raudina Mahardya, Alya Namira Nasution, Nadia Shafiana Rahma, Trio Wahyu Aji dan Darryl Simeon Sanggelorang.
Sementara kategori maestro seni tradisi diberikan ke Abah Engkus, Charuddin Dahlan, Darul Hamim (Jarul), Supangkat, dan KPH Pujaningrat (RM Dinusatomo).
Untuk kategori komunitas diberikan kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), INACRAFT, Gerakan Rumah Asuh, Lembaga Pendidikan Seni Nusantara, dan Pesta Kesenian Bali.
Adapun kategori Pemerintah Daerah diberikan kepada Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah dan Kota Tomohon Sulawesi Utara. Sedangkan kategori perorangan asing diberikan kepada 3 orang, yaitu R William Liddle, Valeri Martono, dan Leo Suryadinata. (Tri Wahyuni)
