
JAKARTA (Suara Karya): Uni Eropa (EU) kembali membuka peluang luas bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi di kampus-kampus bergengsi Eropa.
Melalui European Higher Education Fair (EHEF) 2025, para pelajar akan mendapat informasi lengkap seputar studi, beasiswa, hingga pengalaman hidup di 27 negara anggota Uni Eropa.
Pelaksanaan EHEF 2025 akan digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 6 November 2025. Sementara di Jakarta, pameran akan digelar di Catur Dharma Hall, Gedung Menara Astra, pada 8-9 November 2025.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi menyebut, EHEF bukan sekadar pameran pendidikan, melainkan simbol kemitraan kuat antara Uni Eropa dan Indonesia dalam bidang pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kami ingin memperbarui penawaran pendidikan bagi mahasiswa Indonesia. Biaya kuliah di Eropa jauh lebih terjangkau dibanding Amerika Serikat atau Australia. Namun, dari sisi kualitas akademiknya termasuk yang tertinggi di dunia,” kata Duta Besar Chaibi dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (28/10/25).
Ditambahkan, EHEP kembali digelar di Indonesia karena pendidikan tinggi memainkan peran penting dalam strategi ‘Global Gateway EU’. Event tersebut mendorong inovasi, pengembangan keterampilan dan pemahaman lintas budaya yang berpihak pada pertumbuhan berkelanjutan dan transformasi digital di seluruh dunia.
“EHEP merupakan bagian dari komitmen EU untuk memberdayakan generasi pemimpin global berikutnya, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih terhubung, sejahtera, dan tangguh,” ucapnya.
Duta Besar Chaibi mengungkapkan, sistem pendidikan di Eropa memiliki keunggulan utama dalam value for money, yaitu kualitas tinggi dengan biaya yang relatif rendah.
“Jika di Amerika biaya kuliah mencapai 100 ribu dolar per tahun, di Eropa rata-rata hanya 10 ribu hingga 25 ribu euro. Selain itu, ada layanan kesehatan gratis bagi mahasiswa di Eropa,” ujarnya.
Selain lebih terjangkau, mahasiswa juga memiliki kesempatan menikmati pengalaman akademik lintas negara melalui program kredit transfer antar universitas di Eropa.
“Mahasiswa bisa kuliah satu semester di Belanda, lalu melanjutkan di Spanyol atau Portugal. Semua dengan sistem yang saling terhubung,” katanya.
Duta Besar Chaibi menyebut, setiap tahun ada sekitar 4.000 mahasiswa Indonesia melanjutkan studi ke berbagai negara di Eropa. Sekitar 25 persen di antaranya memperoleh dukungan beasiswa, baik dari Uni Eropa maupun daro masing-masing negara anggota.
Program beasiswa utama Uni Eropa, Erasmus+, menjadi pintu bagi lebih dari 300 penerima asal Indonesia setiap tahunnya. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, Rumania, dan Bulgaria juga menawarkan banyak beasiswa untuk jenjang sarjana hingga riset pascasarjana.
“Indonesia adalah penerima beasiswa Erasmus+ terbesar kedua di Asia, setelah India. Ini menunjukkan reputasi dan prestasi mahasiswa Indonesia yang luar biasa,” ucap Duta Besar Chaibi.
Tahun ini, Uni Eropa juga memperkenalkan sistem Visa Cascade bagi warga negara Indonesia, yaitu kebijakan istimewa yang memungkinkan pemegang visa Schengen pertama untuk mendapat akses masuk ganda selama 5 tahun.
“Orang Indonesia dikenal sangat menghormati negaranya dan selalu kembali ke Tanah Air. Karena itu, kami memberi keistimewaan visa Cascade, sehingga kalian bisa bepergian ke Eropa kapan saja selama 5 tahun,” tuturnya.
Tahun ini, EU secara resmi akan meluncurkan website ‘1.000 Green Engineering’ yang menyediakan informasi terkurasi mengenai program teknik hijau, pelatihan vokasi, maupun kursus yang ditawarkan oleh universitas dan institusi pendidikan tinggi di Negara-Negara Anggota EU, beserta peluang beasiswa yang tersedia.
Inisiatif ini mendukung para penggerak perubahan masa depan Indonesia dalam mengeksplorasi lanskap pendidikan teknik hijau yang luas di seluruh Negara Anggota EU.
“Melalui inisiatif ini, mahasiswa dan peneliti Indonesia diharapkan mampu mengembangkan solusi inovatif untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, dan ekonomi sirkular. Hal itu sejalan dengan komitmen bersama untuk masa depan yang hijau dan berkelanjutan,” ujarnya.
EHEF 2025 akan menghadirkan 83 universitas Eropa di Yogyakarta dan 104 universitas Eropa di Jakarta, termasuk partisipasi lembaga beasiswa bergengsi seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Beasiswa Garuda.
Negara-negara yang berpartisipasi tahun ini antara lain Belanda, Prancis, Jerman, Swedia, Finlandia, Italia, Austria, Polandia, Irlandia, Rumania, Spanyol, dan Hungaria.
Dari Belanda sendiri terdapat 11 kampus ternama, sementara Prancis menghadirkan 21 institusi pendidikan tinggi bergengsi, termasuk grande écoles yang terkenal dengan keunggulan di bidang teknik dan sains.
Koordinator EHEF Indonesia, Ben Perkasa Drajat menyebutkan, tahun ini menjadi pelaksanaan ke-17 pameran pendidikan Uni Eropa di Indonesia. Sedangkan di Yogyakarta masuk tahun ke-6.
“Kami berharap EHEF dapat terus memperluas akses pendidikan kelas dunia bagi masyarakat Indonesia dan memperkuat kolaborasi akademik antara universitas di Eropa dan Indonesia,” kata Ben menandaskan. (Tri Wahyuni)
