Suara Karya

APP Group Perkuat Pendekatan Kolaboratif dalam Restorasi Hutan Tropis di COP30

JAKARTA (Suara Karya): Upaya Indonesia dalam penguatan restorasi hutan tropis dan pengembangan kemitraan lintas negara menjadi perhatian pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30), di Belém, Brazil, yang berlangsung selama 10-21 November 2025.

Melalui sesi dialog terkait peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF), perwakilan Pemerintah, lembaga internasional, sektor energi, dan organisasi masyarakat sipil membahas pentingnya pembiayaan kolaboratif dan kerja sama internasional untuk mendukung pemulihan lanskap hutan tropis dan ketahanan iklim jangka panjang.

Dalam berbagai sesi sebelumnya, APP Group memaparkan pentingnya kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, lembaga internasional, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan ekosistem hutan tropis.

Pendekatan kolaboratif itu sejalan dengan agenda Indonesia dalam mencapai FOLU Net Sink 2030, serta mendukung arah kebijakan Second Nationally Determined Contribution (NDC) 2031-2035.

Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti dalam pidato kuncinya menegaskan, penguatan solusi berbasis masyarakat menjadi fondasi utama dalam upaya restorasi.

Ia menjelaskan, Pemerintah Indonesia bersama Uni Emirat Arab tengah menyiapkan inisiatif baru ‘Nature and Climate Partnership’ yang mencakup pengelolaan dan restorasi hutan, konservasi keanekaragaman hayati, serta proyek percontohan Public-Private-Community Partnership (PPCP).

“Kami tengah membangun kerangka tata kelola yurisdiksional yang mengintegrasikan harga karbon, tata kelola inklusif, dan program perhutanan sosial, sekaligus menghadirkan mekanisme pendanaan inovatif untuk memperkuat investasi restorasi,” ujarnya.

Nani juga mengingatkan, perlindungan hutan tidak semata tentang penanaman pohon, tetapi bagaimana menjaga masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.

Salah satu fokus diskusi terkait peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF) di Paviliun Indonesia pada 14 November 2025. Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperkuat pembiayaan konservasi dan restorasi ekosistem hutan tropis, serta memperluas kerja sama antara negara-negara dengan wilayah hutan tropis yang signifikan.

Sesi bertajuk ‘Nature and Climate Action: Conserving Tropical Forests for Ecosystem Services and Climate’ itu menghadirkan 7 narasumber, yaitu Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan, Republik Indonesia, Nani Hendiarti; Wakil Sekretaris, Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan, Uni Emirat Arab, Mohammed Saeed Sultan Al Nuaimi; dan Chief Sustainability Officer, APP Group, Elim Sritaba.

Narasumber lainnya adalah Kepala Kantor Penasihat Ekonomi dan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim, Republik Federatif Brazil, Andre Aquino; Senior Vice President Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), PT Pertamina (PERSERO), Wenny Irawan; Vice President of Research and Product Development, PT ID Survey (PERSERO), Annisa Ayu Soraya; dan Climate Change Technical Specialist, UNDP, Catherine Diam-Valla.

Forum menekankan kesamaan peran dan tanggung jawab Indonesia dan Brazil sebagai dua negara dengan ekosistem hutan tropis terbesar di dunia, serta kebutuhan memperkuat model restorasi berbasis kemitraan yang bersifat inklusif dan jangka panjang.

“Kepemimpinan Brazil dalam meluncurkan Tropical Forests Forever Facility mencerminkan langkah konkret dalam memperkuat pembiayaan dan kolaborasi untuk perlindungan hutan tropis dalam skala besar,” kata Elim Sritaba.

Inisiatif ini, menurut Elim, menunjukkan aksi iklim yang efektif membutuhkan pendanaan yang terkoordinasi, kemitraan yang inklusif, dan komitmen bersama terhadap tata guna lahan yang berkelanjutan.

“Kami percaya momentum yang diciptakan Brazil dapat menginspirasi kerangka kerja kolaboratif serupa di Indonesia, membantu memperkuat restorasi, serta memberi dampak lingkungan dan sosial jangka panjang,” ujarnya.

Sementara itu, Andre Aquino menilai pentingnya inovasi pembiayaan untuk mendukung konservasi jangka panjang.

“Kita bicara tentang hutan dan sumber pembiayaan baru untuk memobilisasi pendanaan jangka panjang bagi konservasi hutan tropis. Kita ingin arus pendanaan berbasis kinerja yang dapat diprediksi, berkelanjutan, dan memiliki skala yang cukup untuk mendorong perubahan,” katanya.

Peluncuran TFFF, menurut Andre, merupakan langkah besar, namun masih banyak pekerjaan ke depan. Ia berharap semua negara dapat terlibat dan menjadi bagian dari keberhasilan tersebut.

Melalui partisipasi dalam COP30, APP Group menegaskan komitmen jangka panjangnya melalui program Regenesis, termasuk alokasi 30 juta dollar AS per tahun selama satu dekade untuk mendukung pemulihan lanskap hutan, konservasi keanekaragaman hayati, dan penguatan mata pencaharian masyarakat di sekitar areal operasional. (Tri Wahyuni)

Related posts