Suara Karya

BRIN Buka Akses Riset bagi Kampus, Laboratorium Terbuka untuk Semua

JAKARTA (Suara Karya): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka akses berbagai skema penelitian bagi perguruan tinggi, industri, hingga komunitas.

Tak hanya pendanaan, fasilitas laboratorium BRIN juga terbuka untuk dimanfaatkan berbagai institusi, termasuk perguruan tinggi swasta dan luar negeri.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Prof Edy Giri Rachman Putra, PhD mengatakan, keterbukaan tersebut merupakan bagian dari upaya BRIN membangun ekosistem riset nasional yang dapat dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Skema-skema yang ada di BRIN terbuka buat semua pemangku kepentingan, baik teman-teman di kampus, industri, bahkan komunitas,” kata Prof Edy kepada media disela kegiatan ‘The 3rd FUSION 2026’ yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka (UT) di UTCC, Pondok Cabe, Rabu (7/10/26).

Menurut Edy, penguatan ekosistem penelitian setidaknya membutuhkan tiga komponen utama, yakni pendanaan, infrastruktur penelitian, dan sumber daya manusia. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar kegiatan riset tidak berhenti pada tahap menghasilkan pengetahuan.

Dari sisi pendanaan, BRIN menyediakan berbagai skema yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi maupun pihak lain untuk menjalankan penelitian. Sementara pengembangan sumber daya manusia dilakukan melalui berbagai program yang mencakup mahasiswa, dosen, hingga peneliti.

Adapun dari sisi infrastruktur, BRIN memberi kesempatan kepada berbagai institusi untuk memanfaatkan fasilitas laboratorium yang dimiliki. Akses tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi perguruan tinggi negeri (PTN).

“Laboratorium ini terbuka buat semua pengguna. Tidak hanya kampus negeri, kampus swasta, kampus luar negeri pun terbuka,” ujar Edy.

Keterbukaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan infrastruktur penelitian. Dengan demikian, peneliti dapat menggunakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan riset tanpa harus membangun seluruh sarana secara mandiri.

Selain membuka fasilitas penelitian, BRIN juga mendorong agar hasil riset dapat dikembangkan hingga menghasilkan manfaat yang lebih luas. Dukungan regulasi diperlukan agar hasil penelitian memiliki jalur yang lebih jelas menuju pengembangan dan pemanfaatan di industri.

Edy menegaskan, penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai temuan akademik. Hasil penelitian perlu dilanjutkan menjadi invensi dan kemudian dikembangkan menjadi inovasi.

“Penelitian tersebut bisa bertransformasi menjadi invensi dan invensi menjadi sebuah inovasi. Jadi tidak berhenti penelitian itu hanya sebagai ilmu, tapi juga harus bertransformasi menjadi sebuah kemanfaatan,” katanya.

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam proses tersebut karena menjadi salah satu sumber utama talenta penelitian. Karena itu, keterhubungan antara kampus, BRIN, industri, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat.

Edy juga menilai pengalaman UT dalam menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dapat menjadi bagian dari perkembangan ekosistem pendidikan dan penelitian yang lebih fleksibel. Model tersebut memungkinkan aktivitas akademik dan riset tidak selalu terpusat pada satu lokasi.

Ia mencontohkan pengembangan pendidikan berbasis riset, termasuk skema gelar atau doktor by research. Dalam model tersebut, mahasiswa dapat melakukan kegiatan penelitian di fasilitas yang sesuai dengan bidang dan kebutuhan penelitiannya.

“Kalau semua mahasiswa harus kuliah di kampus ini akhirnya tidak muat. Kita bisa melakukan aktivitas di mana saja. Itu adalah terobosan yang saya pikir UT sudah memelopori,” ujarnya.

Edy mengatakan, fleksibilitas tersebut sejalan dengan arah transformasi perguruan tinggi. Kampus tidak cukup hanya berorientasi pada kegiatan pengajaran, tetapi perlu berkembang menjadi pusat penelitian dan selanjutnya menghasilkan inovasi.

“Kita ingin mendorong kampus-kampus bertransformasi dari konsep teaching university menjadi research university dan ke depan menjadi innovation university,” katanya.

Peluang yang dibuka BRIN tersebut mendapat sambutan dari Rektor UT Prof Dr Ali Muktiyanto. Menurut dia, UT memiliki modal akademik dan jaringan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat kegiatan penelitian bersama perguruan tinggi maupun lembaga riset lainnya.

“Kita ingin ikut berkiprah bersama-sama dengan perguruan tinggi yang lain untuk mengembangkan bidang ilmu sesuai dengan kapasitas yang kita miliki,” ujarnya.

Prof Ali menambahkan, UT telah mengembangkan kelompok penelitian profesor di lingkungan Sekolah Pascasarjana yang diharapkan menjadi kelompok riset yang kuat.

Selain itu, UT juga mendorong Riset Kolaborasi Institusi (RKI) dengan Sekolah Pascasarjana diharapkan menjadi salah satu penggerak kegiatan penelitian. “Kita ingin memperkuat kolaborasi dengan BRIN dan perguruan tinggi lainnya,” kata Prof. Ali.

Menurutnya, kerja sama tersebut dapat diarahkan pada bidang-bidang yang memiliki relevansi dengan kebutuhan nasional, seperti ketahanan pangan dan teknologi.

“Kekuatan UT dalam teknologi serta pendidikan jarak jauh juga dapat menjadi modal untuk mengembangkan riset, khususnya dalam transformasi digital pendidikan,” tegasnya.

UT saat ini memiliki 13 program studi dibawah Sekolah Pascasarjana, yang terdiri atas 11 program magister dan dua program doktor. Potensi tersebut menjadi basis untuk memperluas jejaring penelitian dan meningkatkan kontribusi UT dalam ekosistem riset nasional.

Dengan terbukanya akses pendanaan, fasilitas laboratorium, dan pengembangan sumber daya manusia, BRIN mendorong semakin banyak perguruan tinggi memanfaatkan ekosistem riset nasional.

Harapannya, fasilitas dan jejaring tersebut dapat melahirkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga invensi dan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Tri Wahyuni)

Related posts