Suara Karya

Bulog Perkuat Cadangan Pangan, Target 2026 Lebih Menantang

Screenshot

JAKARTA (Suara Karya): Perum Bulog membuka 2026 dengan optimisme. Melalui paparan kinerja tahunan di Jakarta, manajemen menyebut 2025 sebagai periode penting untuk memperkuat stok pangan nasional sekaligus menstabilkan harga di tengah tekanan cuaca dan pasar.

Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa peran Bulog kini semakin strategis.

“Tahun 2025 menjadi momentum konsolidasi. Tugas kami menjaga stabilitas pangan petani terlindungi, cadangan cukup, dan masyarakat tetap bisa membeli pangan dengan harga wajar,” ujar Rizal Dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/12/2026).

Sepanjang 2025, Bulog berhasil menghimpun setara 3,19 juta ton beras. Angka itu diperoleh dari penyerapan lebih dari 4,5 juta ton gabah kering panen, gabah kering giling sekitar 6.800 ton, serta 765 ribu ton beras.

Pencapaian tersebut disebut ikut menopang pendapatan petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.

“Kami turun langsung ke lapangan untuk memastikan gabah terserap sesuai ketentuan. Ini bukan hanya soal angka, tetapi keberpihakan negara kepada petani,” kata Rizal.

Selain beras, Bulog juga menyerap 101.968 ton jagung dalam negeri untuk membantu stabilitas pasokan dan harga.

Pada sisi penyaluran, Bulog mengeksekusi 708 ribu ton bantuan pangan bagi masyarakat rentan. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) turut digerakkan melalui distribusi 803 ribu ton beras dan 51.211 ton jagung.

Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di lebih dari 4.300 titik ikut menahan gejolak harga di berbagai daerah dan mendapat apresiasi publik.

Menutup 2025, stok PSO Bulog berada di sekitar 3,25 juta ton melanjutkan tren kuat setelah sebelumnya sempat menyentuh kisaran 4,2 juta ton di pertengahan tahun.

Bulog juga mendistribusikan 14.227 ton bantuan pangan untuk wilayah-wilayah terdampak bencana di Sumatera.

“Ketahanan pangan juga berarti kesiapsiagaan saat darurat. Bantuan harus cepat dan tepat sasaran,” tegasnya.

Memasuki 2026, penugasan kepada Bulog meningkat. Perusahaan menargetkan penyerapan setara 4 juta ton gabah/beras serta 1 juta ton jagung. Bulog juga terlibat dalam penyaluran minyak goreng melalui skema DMO bersama BUMN pangan lainnya.

Selain itu, Bulog menyiapkan penyaluran 720 ribu ton bantuan pangan bagi 18 juta penerima manfaat untuk periode empat bulan, serta 1,5 juta ton beras SPHP guna meredam lonjakan harga.

“Target ini amanah besar. Negara menaruh kepercayaan agar cadangan pangan semakin kuat dan harga tetap terkendali,” ujarnya.

Untuk memperkuat sisi hulu, Bulog merencanakan pembangunan sekitar 100 fasilitas pascapanen agar kualitas hasil panen terjaga dan memberi nilai tambah bagi petani. (Boy)

Related posts