JAKARTA (Suara Karya): PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Garudafood) mengubah sebagian kendaraan operasionalnya dengan motor listrik. Terutama pada anak usahanya, yaitu PT Sinarniaga Sejahtera (SNS).
Upaya itu merupakan wujud komitmen Garudafood untuk melanjutkan langkah transisi penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan mendukung pemerintah dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto dalam peresmian yang berlangsung di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (26/7/24) itu menyebut, ada 40 unit motor listrik akan digunakan pada tahap awal.
Sebagai informasi, SNS adalah anak usaha Garudafood yang merupakan distributor FMCG (Fast Moving Consumer Goods) berskala nasional dan terdepan di Indonesia.
Penggunaan motor listrik untuk kendaraan operasional menandai langkah strategis Garudafood dalam mendukung keberlanjutan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“Peralihan motor listrik sebagai kendaraan operasional merupakan komitmen Garudafood untuk secara efektif mengurangi jejak karbon melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT),” ujarnya.
Langkah itu, lanjut Fransiskus Johny Soegiarto, diharapkan memberi kontribusi nyata untuk lingkungan yang lebih bersih dan meraih tujuan NZE pada 2060.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT SNS, Ruli Tobing menjelaskan, motor listrik pada tahap akan digunakan oleh salesman SNS di wilayah Jabodetabek. Motor listrik itu memiliki spesifikasi dan fitur yang mendukung kinerja salesman.
“Tahap pertama penggunaan motor listrik ini, kami fokus di area Jabodetabek. Diharapkan, salesman bekerja lebih produktif dan efisien. Mereka juga berkontribusi positif terhadap lingkungan,” ujar Ruli.
Mengutip laman PLN, penggunaan kendaraan listrik dapat mereduksi hingga 40 persen emisi karbon. Perbandingan misi antara kendaraan listrik dan kendaraan BBM yaitu, 1 liter BBM sama dengan 1,5 kWh listrik.
Emisi karbon 1 liter BBM adalah 2,4 kg Co2e, sedangkan emisi karbon 1,5 kWh listrik adalah 1,5 kg Co2e.
Salah satu salesman SNS, Habibie menuturkan, penggunaan motor listrik sebagai kendaraan operasional menjadi pengalaman berkendara yang baru dan terasa lebih nyaman.
Motor listrik juga menawarkan performa yang tidak kalah dengan motor konvensional, hemat bahan bakar, serta perawatan yang lebih mudah.
“Berkendara jadi nyaman karena tidak bising. Motor listrik juga hemat bahan bakar, perawatan lebih mudah, dan efisien waktu karena mengurangi waktu mengantre di SPBU. Apalagi stasiun pengisian baterai juga sudah disiapkan oleh SNS,” katanya.
Sepanjang 2024, Garudafood melalui anak usahanya SNS bekerja sama dengan BNI dan Volta Group menargetkan pengadaan hingga 500 unit motor listrik untuk kendaraan operasional salesman SNS.
Sejumlah stasiun ganti baterai tengah disiapkan di sejumlah titik di wilayah Jabodetabek.
Penggunaan motor listrik sebagai kendaraan operasional melanjutkan komitmen Garudafood untuk mendukung akselerasi penggunaan transisi energi baru terbarukan.
Sebelumnya, Garudafood telah meresmikan penggunaan PLTS Atap di sejumlah pabriknya. PLTS Atap pertama Garudafood berlokasi di pabrik Sumedang dengan total kapasitas terpasang yaitu 810 KWp.
PLTS Atap lainnya sudah beroperasi secara bertahap pada 2024, yaitu di pabrik Gresik, Pati, dan Kantor Pusat di Jakarta dengan total kapasitas 3,1 MWp.
Dengan beroperasinya PLTS Atap diharapkan, Garudafood berkontribusi dalam pengurangan emisi hingga lebih dari 3 KTon CO2/tahun atau setara dengan penanaman sekitar 400 ribu pohon dalam kurun waktu satu tahun.
Komitmen Garudafood selaras dengan langkah pemerintah dalam memacu penggunaan kendaraan listrik, sehingga terjadi percepatan transisi pemanfaatan EBT yang ramah lingkungan. (Tri Wahyuni)
