JAKARTA (Suara Karya): Lulusan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) bisa melanjutkan pendidikan ke jenjanf perguruan tinggi tanpa perlu mulai dari awal, melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Program RPL untuk pendidikan vokasi yang digagas sejak 2018 ini diingatkan kembali Plt Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikdasmen, Tatang Muttaqin dalam acara Gelar Hasil Karya Peserta Didik Kursus dan Pelatihan Tahun 2024, di Jakarta, Selasa (17/12).
Ia menjelaskan, Program RPL telah dilakukan pada sejumlah pendidikan tinggi vokasi, antara lain Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dan Politeknik Negeri Bali (PNB).
“Tim dari kampus akan menilai kompetensi yang dimiliki lulusan kursus apakah setara dengan kompetensi mahasiswa selama 1 semester atau 2 semester. Jadi, kuliahnya tidak dari awal, menyesuaikan kompetensinya,” tutur Tatang.
Ditanya apakah RPL hanya berlaku pada keahlian tertentu, Plt Dirjen Pendidikan Vokasi mengatakan, tidak ada batasan. Yang penting perguruan tinggi vokasi yang dituju memiliki program studi yang relevan dengan kompetensinya.
“Lulusan kursus cukup mengajukan diri ikut RPL ke kampus vokasi, dengan melampirkan sertifikat kompetensi selama kursus. Nantinya, ada bimbingan dari kampus,” ucapnya.
Gelar Hasil Karya Peserta Didik Kursus dan Pelatihan juga menggelar pameran fisik dari beberapa keahlian vokasi, mulai dari bidang teknik, kecantikan, koleksi mode, terapi sehat, industri perhotelan, hingga pertunjukkan drama teatrikal yang memukau.
Selain itu, ada pemberian penghargaan kepada lembaga kursus dan pelatihan (LKP), DUDI, lembaga sertifikasi kompetensi (LSK), pemerintah daerah, dan mitra yang ikut menyukseskan program-program Direktorat Kursus dan Pelatihan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti dalam sambutan pembukanya, memberi apresiasi atas diselenggarakannya Gelar Hasil Karya Peserta Didik Kursus dan Pelatihan 2024 sebagai bagian dari mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
“Untuk menjadi bangsa maju dan hebat, kita tidak bisa mengandalkan pada pendidikan formal saja, tetapi juga harus memperkuat pendidikan nonformal,” katanya.

Pendidikan nonformal melalui lembaga kursus dan pelatihan selama ini telah menjadi mitra strategis bagi Kemdikdasmen dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua serta membantu meningkatkan keterampilan masyarakat.
‘LKP terbukti telah melahirkan tidak hanya pekerja yang terampil tetapi juga wirausahawan. Keterampilan mereka juga diakui hingga luar negeri,” ucapnya.
Mendikdasmen berharap, Gelar Hasil Karya menjadi langkah awal untuk membuka peluang kesempatan bagi anak bangsa dalam meraih pendidikan.
Terkait hal itu, Tatang Muttaqin mengatakan, sebagai bagian integral dari pendidikan vokasi di Indonesia, kursus dan pelatihan hadir untuk menjawab tantangan dunia kerja yang terus berkembang, agar tetap relevan dengan tuntutan zaman.
Berbagai program inovatif yang dirancang dari hulu hingga ke hilir telah memberi banyak kesempatan bagi lulusannya untuk berkiprah di masyarakat.
“Program prioritas nasional Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang menyasar 82.336 peserta didik menghasilkan praktik baik yang perlu diapresiasi dan dipublikasikan ke masyarakat luas,” ujarnya.
Tatang berharap, momen penting ini dapat memberi manfaat, tak hanya bagi peserta didik, tetapi masyarakat luas.
Salah satu bukti kesuksesan program PKW dibuktikan alumnus LKP Mey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Menjadi bagian dari pameran, alumnus PKW 2024 dari LKP tersebut yaitu Moch Ikhsan, mendemonstrasikan makeup pengantin sunda siger dengan sangat apik.
“Saya tertarik di dunia rias pengantin sehingga ikut kursus melalui program PKW. Satu kali projek rias pengantin sudah mendapat omzet Rp25-35 juta,” kata pemuda berusia 24 tahun itu.
Kepiawaian Ikhsan dalam mengelola bisnis makeup artist (MUA) didasari kecintaannya terhadap desain kebaya dan rias. Sebagai lulusan SMK Program Keahlian Tata Busana, Ikhsan memaksimalkan keahliannya di bidang rias pengantin.
Satu bulan setelah lulus program PKW, Ikhsan sukses mendapat 13 klien dan membuka jasa penyewaan baju pengantin. (Tri Wahyuni)
