JAKARTA (Suara Karya): Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menjadi bagian dari kampanye bertajuk ‘Go Public Fund Education’ yang diinisiasi Education International.
Kampanye tersebut mendorong pemerintah di seluruh negara agar mengalokasikan dana pendidikan yang memadai untuk pendidikan berkualitas.
Peluncuran kampanye ‘Go Public Fund Education’ dilakukan Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi di Gedung Guru Jakarta, pada Kamis (25/4/24).
Hadir dalam kesempatan itu,
Sekretaris Jendral Education International, David Edwards, Regional Director Education International Asia Pacific, Anand Singh dan Campaign Manager of Go Public Fund Education, Angelo Gavrielatos.
Wakil dari Pemerintah, hadir Dirjen
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemdikbudristek, Iwan Syahril; dan Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami.
Unifah menjelaskan, kampanye akan mendorong pemerintah dan pemerintah daerah untuk berinvestasi dalam pendidikan, pemenuhan kebutuhan guru, dan peningkatan profesionalisme guru. Upaya itu merupakan bentuk investasi masa depan untuk kemajuan bangsa.
“Pemerintah sudah seharusnya memberi lingkungan kerja yang memadai untuk guru, memberi pelatihan yang sesuai kebutuhan, mengurangi beban tugas administrasi, dan memberi gaji serta tunjangan yang memadai untuk guru,” ucap Unifah.
Selain itu, pemerintah diminta memastikan setiap anak mendapat akses pendidikan yang luas, guru yang berkualitas dan profesional, dan pendidikan yang inklusif dan merata.
“Penting bagi anak mendapat guru yang berkualitas dan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Hal itu sejalan dengan sasaran pembangunan berkelanjutan ‘SDG 4 Goal’ yaitu pendidikan bermutu melalui pemenuhan pendidikan yang inklusif dan merata,” katanya.
Hal itu selaras dengan UN High Panel yang merekomendasikan investasi terhadap guru dan pendidik merupakan strategi yang paling efektif dan kuat dalam membangun pendidikan.
Organisasi Education International yang berkantor di Brussel, Belgia itu beranggotakan 198 negara, dan
PGRI menjadi satu-satunya anggota dari Indonesia.
PGRI diundang karena sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi dan ketenagakerjaan selama aktif dalam mewujudkan tercapainya SDG Goal 4, yaitu pendidikan berkualitas di Indonesia melalui kemitraan strategis dengan pemerintah.
“PGRI terus mengawal pemenuhan anggaran pendidikan 20 persen untuk biaya pendidikan baik di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota,” kata Unifah.
Dalam menghadapi tantangan pendidikan yang kompleks, PGRI memandang pentingnya alokasi dana yang memadai untuk mendukung biaya pendidikan bermutu, termasuk pembangunan infrastruktur, kepastian status guru, peningkatan kesejahteraan guru, dan pemenuhan kebutuhan pendidikan lainnya.
Lewat kampanye ini, PGRI berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak guru dan siswa, serta memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.
Untuk itu, PGRI mengajak semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat untuk bergabung dalam kampanye ini dan berkomitmen untuk mendukung pemenuhan 20 persen dana pendidikan untuk biaya pendidikan.
“Bersama kita bisa menciptakan masa depan yang lebih cerah dan inklusif bagi anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa,” ucap Unifah menandaskan.
Hal senada dikemulalan Sekretaris Jendral Education International, David Edwards. Katanya, investasi pendidikan penting karena pendanaan pendidikan saat ini sedang mengalami krisis hampir di seluruh dunia.
“Saat ini banyak negara tengah kekurangan guru hingga 44 juta orang, dimana sekitar 4 juta diantaranya ada di Asia. Untuk itu, perlunya kita menggalakan investasi pendidikan agar anak-anak diajarkan guru berkualitas dan lingkungan belajar yang baik,” tuturnya.
David menilai, upaya transformasi pendidikan yang digulirkan Sekjen PBB tidak akan berhasil tanpa didukung oleh guru yang cukup. Tak hanya itu, kualitas guru juga harus diperhatikan lewat beragam pelatihan.
“Dan yang tidak kalah penting adalah kesejahteraan guru. Guru harus dihargai dengan gaji yang cukup, sehingga energi yang ada bisa digunakan untuk siswa,” kata David menandaskan. (Tri Wahyuni)
