JAKARTA (Suara Karya): Sekitar 88 struktur candi di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi merepresentasikan keunikan yang luar biasa dalam tradisi spiritual dan pendidikan Buddhisme di Asia Tenggara.
Situs itu tak hanya menyimpan nilai sejarah dan budaya yang mendalam, tetapi juga menjadi saksi bisu atas pertukaran pengetahuan dan nilai spiritual antar generasi.
“Pelestarian candi itu sekaligus menyusuri jejak masa lalu sebagai poros edukasi Budhisme tertua dengan area terluas di Asia Tenggara,” kata Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko kepada 25 wartawan media massa nasional di KCBN Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Sabtu (3/2/24).
Hadir dalam kesempatan itu, Sekretaris Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Fitra Arda dan Pelaksana tugas (Plt) Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemdikbudristek, Anang Ristanto.
Agus Widiatmoko menjelaskan, berbagai penelitian menyebut KCBN Muarajambi dulunya adalah kawasan transit para biksu China yang berlayar menuju kawasan India. Sebagai titik perlintasan, kawasan di sepanjang aliran Sungai Batanghari menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan dan aktivitas ekonomi hingga kebudayaan yang maju.
“Percandian Muarajambi diperkirakan dulunya adalah kompleks pusat pendidikan Buddhisme, dimana banyak biksu datang dan belajar berbagai ilmu, dari agama hingga seni. Semacam kampus bagi para biksu,” tuturnya.
Ditambahkan, KCBN Muarajambi hingga saat ini masih menjadi destinasi wisata ziarah bagi penganut Buddhisme. Apalagi jelang Waisak, rombongan penziarah akan ramai berdatangan untuk melakukan ritual di Candi Keraton.
Kondisi itu, menurut Agus, tak perlu dikhawatirkan. Buddhisme tidak akan berkembang secara masif di Sumatera, karena umumnya yang datang adalah para penziarah, yang kembali ke negaranya masing-masing setelah ritual ibadahnya selesai.
Ada isu yang menyebut sebaiknya penziarah tak boleh masuk ke situs Muarajambi untuk menekan penyebaran buddhisme di Sumatera, Agus menilai, kemungkinan itu terjadi sangatlah tipis.
“Buddhisme sulit berkembang di Sumatera, karena lingkungan yang kurang mendukung,” kata Agus menegaskan.
Berbeda dengan Borobudur yang banyak ukiran dan kisah-kisah di sepanjang dinding candi, percandian Muarajambi lebih ke susunan bata-bata merah. Uniknya, setiap satu candi dikelilingin oleh kanal, yang katanya dibuat guna mencegah air masuk ke area candi.
“Kompleks candi di Muarajambi ini dekat dengan sungai Batanghari yang luas. Kanal dibuat agar air sungai yang meluap tidak masuk ke area candi,” tutur Agus.
Sembilan candi dari 88 struktur berbatuan yang berhasil dipugar saat ini berada di lokasi yang saling berjauhan. Dibutuhkan kaki yang kuat untuk menelusuri setiap candi dari satu lokasi ke lokasinya.
Secara keseluruhan, KCBN Muarajambi tersebar di delapan desa, yakni Desa Muara Jambi, Kemingking Luar, Danau Lamo, Desa Baru, Kemingking Dalam, Tebat Patah, Dusun Mudo dan Teluk Jambu.

Saat menelusuri percandian, air terlihat menggenangi sebagian jalan. Hal itu membuat kami harus melepas sepatu agar tidak basah. Pada sebagian jalan lain sudah ditutup dengan batu-batu kecil, tetapi sebagian lain masih berupa tanah liat. Sehingga perjalanan terasa melelahkan, akibat tanah yang becek.
Setiap candi juga dipagari tembok dengan panjang keliling sekitar 100 meter, gundukan struktur candi itu seolah menyatu dengan sunyinya hutan.
Struktur yang tak utuh, namun jika diamati masih memperlihatkan tata ruang kompleks candi yang dibangun di masa lalu. Berupa gundukan besar, kemungkinan adalah candi utama, dan beberapa gundukan lain bisa jadi adalah struktur candi pendamping ataupun gapura.
Struktur candi yang menggunakan bata, menunjukkan tingginya seni arsitektur pembuatnya di masa silam. Meski sebagian struktur diselimuti lumut, kemegahan bentuk kompleks candi itu bisa dirasakan wujudnya.
Percandian di Muarajambi merupakan karya arsitektur yang hebat, sebab mampu mempertahankan strukturnya selama berabad-abad. Struktur itu lama tertimbun di dalam tanah, di antara akar-akar pohon yang tumbuh menjulang tinggi.
Berbagai kajian arkeologis maupun sejarah mengarah pada kesimpulan kalau Muarajambi adalah peninggalan percandian Buddha tertua di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Diperkirakan candi tersebut bangun pada abad ke-7. Itu artinya, KCBN Muarajambi lebih tua dari candi Borobudur.
Kawasan percandian di Muarajambi paling dekat adalah
Candi Kotomahligai, setelah itu ada Candi Kedaton yang terlihat paling luas dan indah, karena penampakan yang lebih utuh, memiliki beberapa ruang, dengan struktur utama candi terpampang megah di tengah-tengah kompleks.
Selanjutnya ada candi Paritdukuh yang dikelilingi parit air, hingga situs Gumpung yang mencakup Candi Gumpung I dan 2 dan Candi Tinggi, sera Candi Astano. Ketiga candi tersebut berukuran lebih kecil dari Kedaton, tetapi juga memiliki areal halaman yang cukup luas.
Di sekitar situs Gumpung terdapat fasilitas penunjang aktivitas wisata, mulai dari toilet, mushola hingga pasar rakyat yang menyajikan berbagai kuliner khas Jambi.
Di kawasan Gumpung, pengunjung juga bisa bersepeda di jalur yang sudah disediakan, atau sekadar berjalan-jalan menyusuri areal candi dengan berjalan kaki. Jika capai, pengunjung bisa bersantai di bawah pohon, sembari menikmati pemandangan arsitektur candi yang memesona.
Di Candi Astano, yang paling menarik adalah pasar apungnya. Pasar ini hanya ada di musim penghujan, ketika air sungai meluap hingga membuat sebagian area di Candi Astano terendam. Pengunjung bisa bersampan dengan menyewa Rp20 ribu. Lumayan buat melepas lelah sambil makan jajanan yang dijual pedagang di sampan.
Dengan luasan total 3.981 hektar, bisa dikatakan KCBN Muarajambi adalah kompleks percandian Buddha terluas di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Luasnya KCBN Muarajambi dapat menggambarkan besarnya peradaban di kawasan ini di masa lalu.
Jika Borobudur di Jawa disebut-sebut adalah candi atau kuil Buddha terbesar dan merupakan salah satu keajaiban dunia, maka Muarajambi yang melingkupi total 82 struktur adalah satu lagi ‘keajaiban’ lainnya.
Seperti dikatakan Kepala BPK Wilayah V, Agus Widiatmoko, KCBN Muarajambi yang ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 2013 dan kini masuk dalam tentative list warisan budaya dunia oleh UNESCO setelah dilakukan revitalisasi dalam satu tahun terakhir. (Tri Wahyuni)
