JAKARTA (Suara Karya): akebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia (SDM) bergelar doktor (S3) masih sangat besar, terutama untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Hal ini ditegaskan Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof Badri Munir Sukoco dalam acara peluncuran platform ‘Jejaring Karier Alumni PMDSU, di Semarang, Selasa (23/12/25).
Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) merupakan program yang digagas Kemdiktisaintek sejak 2013 lalu, dan menghasilkan 873 lulusan bergelar doktor.
Menurut Guru Besar Universitas Airlangga tersebut, jika Indonesia ingin sejajar dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, maka peningkatan jumlah lulusan pascasarjana, khususnya doktor, tdak bisa ditunda lagi.
Dari sekitar 10 juta mahasiswa aktif, Indonesia idealnya memiliki tambahan 2,3 juta mahasiswa pascasarjana, dengan sepertiga hingga 40 persen di antaranya merupakan lulusan S3.
“Lulusan doktor adalah fondasi utama untuk membangun ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan. Tanpa itu, transformasi ekonomi akan sulit terjadi,” ujar Prof Badri.
Prof. Badri memaparkan, hingga kini kesenjangan dosen berkualifikasi doktor di perguruan tinggi Indonesia masih signifikan.
Bahkan di kelompok Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), proporsi dosen S3 tertinggi baru mencapai 64,54 persen, sementara rata-rata 16 PTNBH lainnya masih di angka 45,16 persen.
Kondisi lebih memprihatinkan terlihat di PTN Badan Layanan Umum (BLU) yang hanya memiliki 27,84 persen dosen S3, serta PTN Satker yang berada di kisaran 15,43 persen. Di sisi lain, lima perguruan tinggi swasta (PTS) teratas baru mencapai 34 persen dosen berkualifikasi doktor.
“Itu artinya, lulusan S3 kita bukan berlebih, justru sangat dibutuhkan untuk upgrading kualitas pendidikan tinggi kita,” tegasnya.
Dalam konteks ini, Prof Badri menilai PMDSU sebagai program strategis nasional. Selama lebih dari satu dekade berjalan, program telah melahirkan ratusan doktor muda dengan produktivitas riset tinggi, terutama di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Ia menilai peluncuran Jejaring Karier Alumni PMDSU menjadi langkah konkret untuk memastikan lulusan doktor tidak tercecer dan dapat diserap sesuai kompetensinya, baik di perguruan tinggi, lembaga riset, maupun industri strategis.
“Link and match ini penting. Alumni PMDSU bisa dipertemukan dengan kebutuhan nyata, termasuk industri berbasis teknologi dan riset,” kata Prof Badri.
Ia juga mencontohkan kesiapan sektor industri melalui kolaborasi dengan Danantara, yang menyatakan siap menyerap 100 persen lulusan pascasarjana, terutama dari rumpun STEM.
Menurutnya, pengalaman negara lain seperti Vietnam menunjukkan bahwa pengembangan industri strategis, misalnya semikonduktor, sangat bergantung pada ketersediaan SDM S2 dan S3.
“Tanpa doktor dan magister yang kuat, industri strategis tidak akan sustain. Indonesia harus belajar dari itu,” ucapnya.
Dengan masih adanya kekurangan sekitar 21.500 dosen berkualifikasi S3, Prof Badri menegaskan, penguatan jalur karier doktor, termasuk melalui PMDSU menjadi kunci masa depan pendidikan tinggi nasional.
“Tujuan akhirnya satu, bagaimana SDM unggul ini menopang transformasi ekonomi Indonesia menjadi ekonomi berbasis pengetahuan,” pungkasnya. (Tri Wahyuni)
