Suara Karya

Platform Digital Kemdikbudristek Dinilai Optimalkan Pembelajaran!

JAKARTA (Suara Karya): Inisiatif Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menggunakan teknologi digital dalam dunia pendidikan menuai respon positif dari satuan pendidikan.

Mereka sepakat menilai platform digital berhasil mengopptimalkan kegiatan belajar dan mengajar, serta memudahkan proses administrasi di sekolah, sehingga hasilnya lebih akuntabel.

Apresiasi positif itu tercermin dalam riset yang dilakukan Segara Research Insitute, yang hasilnya dipublikasikan hari ini, Jumat (12/5/23) secara daring baik melalui zoom maupun kanal Youtube Segara Institute.

Segara melakukan survei secara daring terhadap 3.725 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, ada 1.521 responden berstatus kepala sekolah, 1.591 guru, 328 dosen dan 285 mitra kerja lain yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.

Dari domisili, sebanyak 3.752 responden tersebar merata di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Basis responden diperluas agar hasil survei bisa mendapat gambaran yang utuh.

“Namun sayang, tak semua daerah di Indonesia memiliki kualitas yang sama dalam penerapan teknologi, karena kendala jaringan internet atau tingkat penerimaan para pelakunya,” kata Direktur Eksekutif Segara Insitute, Piter Abdullah.

Dalam acara bertajuk ‘Efektivitas Teknologi Dalam Ekosistem Dunia Pendidikan di Indonesia’ itu, Piter menambahkan, survei tak hanya menguji efektivitas platform digital, tetapi juga membantu memetakan persoalan di lapangan.

“Diharapkan, adopsi teknologi digital bisa lebih dioptimalkan lagi untuk memajukan pendidikan di masa depan,” ujarnya.

Diskusi hasil riset juga menghadirkan sejumlah panelis, antara lain Sekretaris Jenderal Kemdikbudristek, Suharti; Ketua Koordinator Sekretariat Dewan TIK Nasional, Gerry Firmansyah; dan Senior Economist Segara Research Institute, Irwan Trinugroho.

Piter menyebut, aplikasi dan platform digital yang menjadi objek survei adalah Platform Merdeka Mengajar (PMM), Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah), Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS), Rapor Pendidikan, akun Belajar.id, dan Kedaireka.

“Target responden, yaitu kepala sekolah untuk aplikasi/platform SIPLah, ARKAS dan Rapor Pendidikan. Sementara guru untuk aplikasi/platform PMM dan akun Belajar.id. Bagi dosen dan mitra industri untuk Kedaireka,” katanya.

Hasil survei menunjukkan, kehadiran aplikasi dan platform digital Kemdikbudristek disambut sangat baik satuan pendidikan. Respon positif itu, tak lepas dari tingkat penerimaan satuan terhadap kemajuan teknologi dan digitalisasi.

“Kendati demikian, hasil survei menemukan, tidak semua responden menggunakan dan memanfaatkan aplikasi dan platform digital Kemdikbudristek,” ujarnya.

Disebutkan, ARKAS menjadi aplikasi/platform digital dengan tingkat penggunaan tertinggi, sekitar 97 persen dari responden. Aplikasi/platform digital SIPLah berada di tingkat terendah sebanyak 71 persen.

Rendahnya penggunaan SIPLah maupun aplikasi/platform digital lainnya, menurut Piter, karena dipicu beberapa faktor. Diantaranya, akses internet dan listrik, kebutuhan sekolah maupun guru belum tercukupi oleh aplikasi/platform digital tersebut, sekolah sudah punya sistem internal sendiri, serta kurangnya sosialisasi dan bimbingan teknis secara langsung.

Ditambahkan, survei juga menggali kualitas dan kemudahan teknologi aplikasi dan platform digital Kemdikbudristek. Kualitas dan kemudahan itu dinilai dari 4 aspek, yaitu user friendly, user interface, fitur dan integrasi antar aplikasi.

“Penambahan fitur dan isi, tingkat kemudahan (ease of use) serta peremajaan user interface menjadi masukan yang paling banyak diberikan untuk pengembangan aplikasi/platform digital Kemdikbudristek ke depan,” ucap Piter.

Ditambahkan, tidak sedikit pengguna berharap aplikasi/platform digital dikembangkan dalam bentuk mobile-based. (Tri Wahyuni)

Related posts