Suara Karya

Puspresnas Kemdikdasmen Perkuat Manajemen Talenta Indonesia lewat Skema Beasiswa!

JAKARTA (Suara Karya): Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) terus memperkuat manajemen talenta murid melalui lima program besar, mulai dari ajang talenta nasional hingga skema beasiswa kerja sama dengan LPDP.

Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono dalam Sosialisasi Kebijakan Kemdikdasmen di Tangerang Selatan, Minggu (1/3/26) menjelaskan, pengelolaan talenta tidak sekadar menyelenggarakan kompetisi, tetapi merupakan rangkaian proses berkelanjutan.

“Manajemen talenta itu ada 5 tahap, yaitu identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan kapitalisasi. Jadi, tidak berhenti di lomba saja, tetapi bagaimana anak-anak itu berkelanjutan sampai bisa berkontribusi bagi Indonesia,” ujar perempuan yang akrab disapa Irene tersebut.

Irene merinci lima program utama Puspresnas, yaitu, penyelenggaraan ajang talenta nasional seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), yang menjadi pintu masuk seleksi hingga tingkat internasional.

Kedua, program kurasi ajang dan kurasi sertifikat untuk memastikan kualitas penyelenggaraan lomba sekaligus mendata prestasi siswa di luar ajang kementerian.

Ketiga, program Bina Talenta Indonesia yang diluncurkan pertama kali pada 2025 dan berlanjut pada 2026 dengan penguatan kompetensi di bidang STEM, coding, kecerdasan artifisial, dan karakter.

Keempat, pengembangan Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) yang menghimpun ‘talent pool’ nasional. Hingga awal 2026, tercatat 379 ribu siswa berprestasi masuk dalam sistem dan ditargetkan menembus 400 ribu pada tahun ini.

Kelima, Beasiswa Talenta Indonesia (BTI) hasil kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan keberlanjutan karier belajar siswa berprestasi.

“Beasiswa ini bukan hanya penghargaan, tetapi juga bagian dari pengembangan talenta agar anak-anak bisa melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi,” ucapnya.

Untuk mendukung manajemen talenta, lanjut Irene, pemerintah telah menetapkan dua regulasi utama, yakni Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid, dan Kepmendikdasmen Nomor 16 Tahun 2026 tentang Standar Penyelenggaraan Ajang.

“Standar itu juga menjadi dasar penerapan sistem kurasi ajang, termasuk pemberian predikat bintang satu hingga lima kepada penyelenggara berdasarkan kualitas tata kelola, transparansi, dan jangkauan peserta,” ujarnya.

Puspresnas juga menugaskan 100 kurator serta evaluator independen untuk menilai setiap pengajuan kurasi, baik dari penyelenggara ajang maupun sekolah.

Irene menegaskan, prinsip inklusivitas menjadi kunci dalam menjaring talenta, termasuk dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Seleksi dilakukan berjenjang dari sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

“Hasil intervensi di wilayah 3T justru menunjukkan peningkatan literasi sains yang signifikan. Kenaikannya bisa mencapai 20 poin, lebih tinggi dibanding wilayah non-3T,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis sekolah penting agar tidak hanya siswa tertentu yang memiliki akses informasi dan sumber daya bisa berpartisipasi.

Dalam kesempatan yang sama, Irene mengungkap antusiasme siswa terhadap ajang nasional yang meningkat tajam. Untuk OSN 2026, jumlah pendaftar mencapai 942 ribu siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Angka ity melonjak dari 806 ribu peserta pada tahun sebelumnya.

“Minat siswa terhadap sains dan prestasi semakin tinggi. Dengan kuota lima siswa per sekolah, ini menunjukkan semakin banyak sekolah yang mendorong siswanya untuk berkompetisi,” ucapnya.

Dengan penguatan sistem, regulasi, dan kolaborasi lintas sektor, Puspresnas optimistis manajemen talenta nasional dapat berjalan berkelanjutan dan melahirkan generasi unggul yang menjadi role model di masyarakat. (Tri Wahyuni)

Related posts