Suara Karya

Tingkatkan Kompetensi, Kemdikdasmen Siap Luncurkan Kebijakan ‘Satu Hari Belajar Guru’

JAKARTA (Suara Karya): Guna mempercepat peningkatan kompetensi guru, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdikdasmen) tengah menyiapkan kebijakan ‘Satu Hari Belajar Guru’, dimana guru dalam satu hari dalam sepekan dapat mengikuti pelatihan dan pengembangan profesional, tanpa mengajar di kelas.

Kegiatan tersebut akan difasilitasi melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau komunitas belajar yang didukung unit pelaksana teknis (UPT) kementerian di daerah.

“Dengan kebijakan itu, jam tatap muka guru tak harus penuh 24 jam per minggu, tetapi bisa 16 atau 18 jam. Sisanya dipenuhi kegiatan mulai dari pelatihan, menjadi guru wali, atau kegiatan pengembangan kompetensi,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam acara buka puasa bersama Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik), di Jakarta, Sabtu (7/3/26).

Mu’ti menambahkan, pola pelatihan guru kini lebih banyak dilakukan secara langsung atau in-house training, bukan lagi berbasis daring seperti sebelumnya. Bahkan, pelatihan kepala sekolah kini dilakukan selama 10 hari penuh dengan berbagai kegiatan pembinaan.

“Semua pelatihan kita kembangkan dengan in-house atau tatap muka, tidak lagi secara online,” tegasnya.

Namun demikian, pemerintah juga menemukan tantangan dalam pelaksanaan pelatihan guru. Salah satunya adalah masih adanya guru yang mengikuti pelatihan hanya untuk dirinya sendiri tanpa menularkan pengetahuan ke guru lain.

Mu’ti menyebut fenomena itu dengan istilah “4L”, yakni “lo lagi, lo lagi”, karena orang yang sama terus mengikuti berbagai pelatihan. Untuk mengatasi hal itu, Kemdikdasmen kini mengubah sistem sertifikasi pelatihan.

“Sertifikat pelatihan tidak otomatis diberikan setelah pelatihan selesai. Sertifikat diberikan kalau guru sudah melakukan pengimbasan kepada guru lain dan ada buktinya,” ucapnya.

Menurut Mu’ti, langkah tersebut penting karena transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi baru. “Secanggih apa pun teknologinya, kalau gurunya tidak kita perbaiki, hasilnya tidak akan maksimal,” katanya.

Meski begitu, ia menilai perlahan mulai tumbuh budaya baru di kalangan guru yang semakin aktif belajar dan meningkatkan kompetensi.

“Sekarang sudah mulai ada budaya baru. Guru mulai banyak belajar dan kegiatan-kegiatan pengembangan profesional mulai berjalan lebih baik,” kata Mu’ti menandaskan.

Ditanya soal kesiapan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan, konsep tersebut akan mulai diterapkan secara bertahap pada tahun ajaran 2026/2027.

“Sekolah model akan menjadi yang pertama dalam penerapannya secara penuh. Sedangkan sekolah lain menyesuaikan dengan pelatihan yang sudah diterima oleh guru,” tuturnya.

Ditambahkan, transformasi pembelajaran tersebut tidak bisa dilakukan secara instan karena menyasar seluruh guru di Indonesia. Pemerintah akan melatih para guru secara bertahap melalui forum MGMP berbasis bidang studi.

Pelatihan tersebut akan disesuaikan dengan karakter mata pelajaran. Misalkan, deep learning untuk matematika, bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris.

“Prosesnya akan panjang, karena semua guru harus dilatih. Pelatihan ke depan juga bisa melalui MGMP berbasis mata pelajaran,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan pelatihan untuk pengajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang masih bersifat pilihan di sejumlah sekolah. Hal itu disebabkan belum semua guru mendapat pelatihan untuk mengajar bidang tersebut.

“AI dan coding masih menjadi mata pelajaran pilihan, karena kami belum selesai melatih gurunya, meski sudah cukup banyak sekolah yang menerapkan,” katanya.

Selain meningkatkan kompetensi guru, Kemdikdasmen juga terus memperkuat pendidikan karakter melalui kebijakan guru wali dan program pembiasaan di sekolah.
Mu’ti menekankan pendekatan pendidikan harus memuliakan siswa, serta melibatkan seluruh warga sekolah secara partisipatif.

“Semua murid itu punya bakat dan kemampuan. Karena itu harus dimuliakan,” katanya.

Ia mencontohkan pembentukan karakter dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti budaya antre saat mengambil makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah serta tanggung jawab menjaga kebersihan.

“Hal-hal kecil seperti antre atau mengembalikan tempat makan itu bagian dari membangun karakter,” ujar Mu’ti menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts