JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan capres/cawapres Joko Widodo/KH Ma’ruf Amin tengah menyiapkan sanksi bagi relawan yang keluar aturan. Hal itu dilakukan, sekaligus untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya penyusup, menyusul banyaknya relawan yang mendaftar.
Pernyataan tersebut, dikemukakan Direktur Relawan TKN, Maman Imanulhaq, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (26/9).
“Direktorat Relawan TKN Jokowi-KH Maruf Amin sedang menyiapkan rambu-rambu yang jelas, berisi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama proses pemilu 2019. Ini untuk memastikan gerak relawan sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi melaksanakan proses pemilu 2019 yang aman, sejuk, damai,” ujar Maman.
Pasalnya, menurut dia, sejauh ini sudah ada lebih dari 500 organ relawan yang mendaftar lewat TKN. Ribuan lainnya mendaftar lewat tim kampanye di daerah. Mayoritas relawan terbesar berasal dari Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
“Besarnya arus dukungan lewat masyarakat ini, perlu untuk diatur lebih lanjut. Kedisplinannya harus dijaga sehingga tak melanggar aturan pemilu yang ada. Nanti relawan kita berikan rambu. Jangan sampai relawan keluar aturan. Jangan sampai, saking semangatnya mendukung Jokowi-Kiai Maruf, melakukan hal yang kontraproduktif,” ujar Maman menambahkan.
Dia mengatakan, ada sejumlah mekanisme sanksi yang disiapkan untuk mengatasi permasalahan menyangkut relawan. Termasuk bank data untuk memastikan kemungkinan ada tidaknya oknum yang mengaku relawan alias penyusup, tetapi melakukan tindakan tak terpuji. “Nanti bisa kita umumkan dia bukan relawan kita,” katanya lebih lanjut.
Pihaknya juga tengah menyiapkan strategi media sosial untuk relawan. Beberapa di antaranya adalah bagaimana relawan menyebarkan prestasi pemerintahan Jokowi melalui media sosial. Media sosial dipakai untuk mempublikasikan kegiatan relawan.
Selain itu, ujarnya, ada tim khusus yang bertugas menangkal hoaks, fitnah, termasuk menelusuri akun-akun media sosial yang melakukan pelanggaran hukum. Nantinya, tim itu bekerja menelusuri lebih jauh soal akun-akun dimaksud.
“Karena ada beberapa akun Facebook, misalnya, yang hari ini kita lihat dia sebenarnya tak tahu tapi main share saja. Setelah diteliti ternyata dia ibu rumah tangga, PNS yang tak mengerti,” kata Maman.
“Makanya nanti ada juga edukasi medsos yang menjadi bagian penting dari relawan untuk masyarakat. Bagaimana cara menggunakan media sosial yang positif dan bermanfaat,” ujarnya menambahkan. (Gan)
