JAKARTA (Suara Karya): Tiga siswa sekolah menengah atas dari Sinarmas World Academy (SWA) mengembangkan LUMA, sebuah perangkat headset berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memulihkan kemampuan komunikasi bagi pasien ALS, stroke atau kondisi neuromuskular lainnya.
Inovasi yang dikembangkan tim bernama SWA RoboKnights itu terdiri dari Audric Tsai, Zhenxuan, dan Yik Yan telah mendapat validasi internasional pada ajang World Robot Olympiad (WRO) International Final 2025 di Singapura, pada akhir Desember lalu.
Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 500 tim dari 91 negara tersebut, tim SWA Roboknights meraih tiga Gold Awards dan Start-Up Award di kategori Future Innovators, Senior.
Berdasarkan data teknis pengembangannya, LUMA berfungsi menerjemahkan intensi pengguna menjadi ucapan verbal. Perangkat itu bekerja dengan membaca sinyal EEG dan pola kedipan mata, kemudian mengonversinya menjadi kode Morse.
Data itu kemudian diproses melalui model bahasa AI yang didukung oleh deteksi objek secara real-time. Hasil terjemahan ditampilkan sebagai saran frasa kontekstual melalui kacamata augmented-reality (AR) sebelum disuarakan oleh perangkat tersebut.

Teknologi itu memungkinkan pengguna untuk menyampaikan kebutuhan, emosi, dan pemikiran secara lisan.
Salah satu aspek utama dari pengembangan LUMA adalah faktor biaya produksi. Perangkat ini direkayasa dengan estimasi biaya sebesar Rp10 juta. Angka itu lebih rendah dibanding biaya sistem antarmuka otak-komputer (brain-computer interface) dan pelacakan mata di pasaran, sekitar Rp150 juta hingga Rp210 juta.
Pasca kompetisi, tim SWA RoboKnights kini melangkah ke tahap kolaborasi dengan rumah sakit dan pusat kesehatan. Fokus tim saat ini adalah melakukan pengujian perangkat LUMA kepada pasien nyata untuk memvalidasi fungsi alat dalam lingkungan medis.
General Manager Sinarmas World Academy, Deddy Djaja Ria di Jakarta, Rabu (7/1/26) mengaku bangga atas prestasi yang diraih siswanya. “Ketika anak muda diberi pembelajaran yang berorientasi pada tujuan dan kebebasan untuk berkreasi, mereka dapat mengubah kehidupan secara nyata,” ujarnya.
Pencapaian itu, lanjut Deddy, mencerminkan komitmen sekolah dalam memfasilitasi inovasi yang menggabungkan keunggulan teknis dengan tanggung jawab sosial.
Kesuksesan LUMA menyoroti bagaimana siswa Indonesia mampu bersaing dan memimpin di panggung global.
“Lebih dari sekadar kemenangan kompetisi, proyek ini menunjukkan potensi inovasi yang dipimpin oleh pemuda untuk memberi solusi yang inklusif, dapat diperluas (scalable), dan bermakna secara sosial,” kata Deddy menegaskan. (Tri Wahyuni)
