JAKARTA (Suara Karya): Persaingan usaha di era digital membuat pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Kemasan menarik, branding yang kuat, hingga kemampuan memasarkan produk secara digital kini menjadi penentu utama agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar.
Hal itu dikemukakan Ketua Pengabdian Kolaborasi UMKM Hibah Universitas 2026, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Asma Syifa Nabihah S.Tr.Gz, M.Gz dalam kegiatan bertajuk ‘Pendampingan Packaging dan Digital Marketing’ bagi pelaku UMKM, di Jakarta, Selasa (26/5/26).
Kegiatan yang melibatkan tim dosen lintas disiplin ilmu itu juga menghadirkan dua pembicara, yaitu pemilik usaha oleh-oleh Betawi ‘Mpok Mumun’, Fajar Kurniawan; dan
Dosen Program Studi Pemasaran Digital, UNJ, Sintia Nursafitri, S.Tr.Kom, M.KOT.
Selain dipimpin Asma Syifa Nabihah, kegiatan juga didukung Koordinator Prodi Pendidikan Masyarakat (Dikmas) UNJ, Henny Herawaty Br.D, yang dalam kegiatan itu diwakili Daddy Darmawan. Tim juga diperkuat oleh Fera Kuraysia, Nararia Hutama Putra, dan Fitri Khoiriyah Parinduri.
Asma Syifa menjelaskan, pelatihan yang digelar hari ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang bertujuan membantu UMKM meningkatkan daya saing produk mereka.
“Kami melihat banyak UMKM yang sebenarnya memiliki produk bagus, tetapi masih lemah dalam kemasan (packaging), branding, dan pemasaran digital. Karena itu, kami melakukan pendampingan agar produk mereka bisa naik kelas,” tuturnya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapat materi tentang standar kemasan produk, legalitas usaha, hingga strategi membuat konten digital yang menarik.
Menurut Syifa, banyak pelaku UMKM yang masih belum memahami pentingnya label halal, informasi nilai gizi, hingga tata letak desain kemasan yang mampu menarik perhatian konsumen.
Selain itu, peserta juga diajarkan menyusun perencanaan konten media sosial serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses promosi digital.
“Sekarang UMKM tidak bisa hanya jualan secara ‘offline’. Mereka harus memahami digital marketing karena perilaku konsumen juga berubah. Orang beli produk, karena tertarik dari tampilan kemasan dan kontennya di media sosial,” kata Syifa yang juga Dosen Prodi Dikmas, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNJ tersebut.
Pelatihan diikuti 20 pelaku UMKM yang berdomisili di Jakarta. Mereka berasal dari berbagai sektor usaha khas Betawi, mulai dari makanan ringan tradisional, katering, hingga kerajinan dan suvenir khas Jakarta seperti ondel-ondel dan batik Betawi.
Pemilik oleh-oleh khas Betawi ‘Mpok Mumun’, Fajar Kurniawan menilai, persoalan packaging masih menjadi kelemahan utama banyak UMKM di Jakarta.
“Banyak UMKM masih menggunakan kemasan sederhana dan belum punya identitas branding yang kuat. Padahal sekarang konsumen melihat tampilan produk terlebih dahulu sebelum membeli,” ujarnya.
Fajar mengaku perubahan kemasan memberi dampak besar terhadap penjualan produknya. “Dulu produk kami hanya dikemas biasa memakai plastik transparan. Setelah dibuat lebih menarik dengan identitas budaya Betawi, penjualan meningkat sangat signifikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, saat ini sekitar 80 persen penjualan Mpok Mumun berasal dari digital marketing, sementara penjualan offline hanya menyumbang sekitar 20 persen. Penjualan Mpok Mumun terus meroket hingga saat ini mencapai Rp400 juta per bulan.
Karena itu, menurut Fajar, pelaku UMKM harus mulai berani masuk ke platform digital dan marketplace agar pasar mereka semakin luas. “Sekarang semua orang belanja lewat ‘smartphone’. Kalau UMKM tidak ikut bertransformasi digital, mereka akan tertinggal,” ucapnya.
Salah satu peserta pelatihan, Esty Harti Supriyatin, pemilik usaha ‘Peyek Mpok Esty’ itu mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. “Saya masih awam soal digital marketing. Jadi, informasi yang disampaikan benar-benar membuka wawasan saya,” ujarnya.
Esty menambahkan, penjualan peyek dan kue kembang goyang khas Betawi yang dijalankan sejak 2017 masih belum berkembang maksinal, karena masih dilakukan secara offline dan online lewat tampilan sederhana di Instagram saja.
“Saya pernah jualan di marketplace, tapi terkendala kemasan. Peyek saya hancur saat dapat orderan ke Bali. Dari situ saya jadi takut masuk marketplace,” katanya.
Ia juga mengaku mulai percaya diri lagi untuk masuk marketplace, setelah tahu cara packaging yang aman dari pelatihan. “Materi digital marketing yang diberikan juga bagus. Saya mulai tertarik untuk memanfaatkan media sosial untuk memperluas pasar,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Isneni, pelaku usaha kerajinan khas Jakarta dari Nayla Kreasi, yang menjual berbagai suvenir Betawi seperti gantungan kunci, kipas, tas khas Jakarta, hingga aksesori bernuansa budaya Betawi.
Isneni mengaku selama ini masih kesulitan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung usahanya.
“Saya memang enggak terlalu paham teknologi, bahkan merasa gaptek. Jualan online juga belum maksimal,” ujarnya.
Meski sudah mencoba berjualan secara online, menurutnya penjualan produknya belum berkembang signifikan. “Kalau momen tertentu seperti ulang tahun Jakarta lumayan ramai, tapi di hari biasa penjualannya masih biasa saja,” katanya.
Karena itu, ia merasa pelatihan digital marketing dan penggunaan AI yang diberikan dalam kegiatan dirasakan sangat membantu.
“Tadi dijelaskan soal aplikasi AI dan cara bikin konten. Saya jadi tertarik untuk jualan mencoba jualan online lagi agar bisa lebih berkembang,” ucap Isnaeni menandaskan. (Tri Wahyuni)
