Suara Karya

Guru Besar Unesa Klaim Nanogold Bisa Bikin Obat Batuk Lebih Ampuh dan Tubuh ‘Anti Loyo’

JAKARTA (Suara Karya): Guru Besar MIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Titik Taufikurohman kembali mengeluarkan inovasi baru di bidang kesehatan.

Ia memperkenalkan teknologi berbasis nanogold yang diklaim mampu meningkatkan efektivitas obat batuk, mempercepat kerja senyawa aktif, bahkan membuat tubuh lebih bertenaga.

“Kalau dosis obat dikurangi, tapi khasiatnya meningkat karena nanogold, itu baru unggulan,” ujar Prof Titik disela kegiatan uji klinik di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Islamic Boarding School, di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jumat (29/5/26).

Prof Titik yang ahli di bidang kimia analitik material kosmetik itu dikenal luas atas kepakarannya dalam meneliti dan mengembangkan inovasi nanogold (emas nano) dan nanosilver untuk berbagai produk, termasuk kosmetik, kesehatan, hingga penangkal virus.

“Partikel nanogold itu bekerja seperti ‘kurir’, yang membantu senyawa aktif obat mencapai lebih banyak reseptor di dalam tubuh. Efeknya, dosis obat dapat ditekan tanpa mengurangi manfaat,” tuturnya.

Kali ini, Prof Titik memperkenalkan formula ‘obat batuk nanogold’ dengan komposisi hanya 20 persen obat batuk biasa dan 80 persen nanogold. “Rasa hangat dan lega di tenggorokan justru bertahan lebih lama, meski kadar obat batuknya sedikit,” katanya.

Tak hanya obat batuk, Prof Titik juga memamerkan berbagai eksperimen lain, mulai dari minyak gosok berbasis nanogold hingga campuran herbal dan kosmetik. Ia mengklaim teknologi itu bisa membuat sensasi panas minyak gosok bertahan lebih lama meski konsentrasi bahan aktif dikurangi drastis.

Namun pernyataan paling menarik, ketika ia membahas efek nanogold terhadap tubuh. Menurutnya, nanogold dapat meningkatkan energi tubuh, mempercepat metabolisme, membantu pembakaran lemak, hingga membuat seseorang lebih bersemangat beraktivitas.

“Begitu tubuh kena nanogold, semangat itu menyala-nyala. Lihat cucian langsung ingin dicuci, lihat setrikaan langsung ingin diselesaikan. Orangnya jadi tidak mageran (malas gerak). Bonusnya, tubuh lebih langsing,” kata Prof Titik yang disambut tawa peserta.

Ia juga menyebut nanogold bekerja dengan merangsang mitokondria (bagian sel penghasil energi), serta mengaktifkan glutathione, sistem imun alami tubuh. “Nutrisi yang kita makan dipakai jadi energi, bukan ditimbun jadi lemak,” tegasnya.

Dalam kegiatan itu, tim peneliti juga membagikan ratusan sampel obat batuk nanogold kepada peserta sebagai bagian dari pretest penelitian. Uji lanjutan disebut akan dilakukan beberapa bulan mendatang.

Prof Titik mengaku riset tersebut mendapat pendanaan hibah, meski masih membutuhkan penyempurnaan dan pengembangan lebih lanjut.

Ia juga menggandeng mitra industri, termasuk perusahaan bahan kimia dan herbal, untuk membuka peluang hilirisasi produk ke pasar.

Meski berbagai klaim yang disampaikan terdengar menjanjikan, penggunaan teknologi nanogold dalam produk kesehatan tetap memerlukan uji ilmiah dan uji klinis yang ketat sebelum dapat dipasarkan secara luas.

Penelitian mengenai nanoteknologi kesehatan sendiri saat ini memang sedang berkembang pesat di berbagai negara, terutama untuk meningkatkan efektivitas penghantaran obat (drug delivery system).

Ditanya soal biaya treatment suntik nanogold untuk kesehatan, Prof Titik menyebut Rp500 ribu per suntik. Harga itu terbilang murah dibanding suntik vitamin C yang dilakukan di klinik-klinik kecantikan. “Biayanya agak mahal, karena harga emas lagi naik tajam,” katanya. (Tri Wahyuni)

Related posts