Suara Karya

Kemdikdasmen Luncurkan SNT, Targetkan 500 Sekolah Unggul

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah resmi memulai penerimaan siswa baru untuk Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), sebuah model pendidikan baru yang menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pembelajaran berkelanjutan.

Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut ditargetkan sebanyak 500 layanan SNT di seluruh Indonesia hingga akhir 2029.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, penyelenggaraan SNT merupakan implementasi dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 20 Tahun 2026 tentang percepatan peningkatan mutu pendidikan nasional.

“Program SNT merupakan mandat untuk mempercepat pemerataan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia,” kata Abdul Mu’ti dalam acara Taklimat Media, di Jakarta, Senin (20/7/26).

Dijelaskan, SNT dibangun berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2026 dan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2026. Kedua regulasi itu menjadi landasan bagi Kemdikdasmen untuk membentuk, menyelenggarakan, dan mengembangkan SNT bersama kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.

“Keberadaan SNT didorong oleh masih lebarnya kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia,” kata Muti.

Ia mengutip Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025 yang menyebut, hanya 263 dari 7.288 kecamatan atau sekitar 4 persen yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian baik, ditandai akreditasi A serta nilai literasi dan numerasi di atas 75.

“Data itu bukan untuk memberi label negatif kepada sekolah, guru, atau daerah. Ini adalah pengingat, bahwa kesempatan anak memperoleh pendidikan bermutu masih belum sama,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Mu’ti, SNT tak sekadar membangun sekolah baru, melainkan menjadi instrumen negara untuk mendekatkan layanan pendidikan berkualitas, mengembangkan potensi siswa, sekaligus menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di sekitarnya.

Berbeda dari sekolah pada umumnya, SNT mengintegrasikan layanan SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan yang berkesinambungan.

Integrasi itu tidak hanya mencakup bangunan dan jenjang pendidikan, tetapi juga pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, hingga sistem penjaminan mutu.

“Dengan demikian, perkembangan murid dapat didampingi secara lebih utuh dan berkelanjutan,” kata Mu’ti.

Penyelenggaraan SNT bertumpu pada tiga transformasi utama.
Pertama, transformasi infrastruktur melalui penyediaan laboratorium modern, perpustakaan, ruang seni, fasilitas olahraga, teknologi pembelajaran, dan lingkungan sekolah yang aman serta ramah anak.

Kedua, transformasi sumber daya manusia. Guru dan kepala sekolah dipersiapkan sebagai pendidik profesional sekaligus penggerak inovasi pembelajaran.

SNT juga akan memiliki Teaching and Learning Center yang berfungsi sebagai pusat pengembangan kompetensi guru dan penyebaran praktik baik.

Ketiga, transformasi karakter dan pembelajaran. SNT menerapkan kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam berbasis STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sport).

Pembelajaran juga diperkuat dengan penguasaan bahasa asing, teknologi digital, wawasan global, budaya, dan kearifan lokal.

“Kita ingin anak-anak memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap berkarakter dan berakar pada nilai-nilai bangsa Indonesia,” kata Mu’ti.

Pada tahap awal, pemerintah menyiapkan pembangunan SNT di 37 lokasi di berbagai daerah.

Sebanyak 17 sekolah ditargetkan mulai menerima siswa pada tahun ajaran 2026/2027, sedangkan 20 lokasi lainnya masih memasuki tahap pembangunan dan baru akan membuka penerimaan siswa pada 2027.

Tujuh belas lokasi yang mulai beroperasi pada 2026 antara lain, berada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Pulang Pisau, kawasan Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Penetapan lokasi dilakukan melalui tahapan pengusulan, peninjauan dokumen, verifikasi lapangan, serta konfirmasi kesiapan lahan dan dukungan pemerintah daerah.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto mengatakan, SNT dirancang sebagai sekolah unggulan nonasrama yang dapat diakses siswa dari daerah tempat sekolah tersebut berdiri.

“SNT adalah sekolah standar nasional, bukan sekolah standar internasional. Keunggulannya terletak pada STEAMS, kepemimpinan, kewirausahaan, serta pengembangan talenta olahraga,” kata Gogot.

Ia menambahkan, setiap sekolah akan dilengkapi fasilitas seperti smart classroom, green school, laboratorium berstandar dunia, perpustakaan digital, studio seni, pusat pengembangan guru, fasilitas coding dan kecerdasan buatan (AI), serta sarana olahraga terpadu.

Penerimaan murid baru SNT akan dilaksanakan pada 21-24 Juli 2026. Hasil seleksi diumumkan pada 3 Agustus 2026, sementara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dijadwalkan berlangsung pada 10 Agustus 2026.

Proses seleksi dilakukan secara nasional oleh Pusat Asesmen Pendidikan dengan 2 tahapan, yakni verifikasi administrasi dan tes skolastik. Seluruh proses berlangsung objektif, transparan, inklusif, dan bebas pungutan.

“Tidak ada pihak yang dapat menjanjikan kelulusan atau mengambil keuntungan dari proses penerimaan murid di luar ketentuan resmi,” tegasnya.

Pada tahun pertama, setiap SNT hanya membuka 2 rombongan belajar untuk SMP dan 2 rombongan belajar untuk SMA. Setiap rombongan belajar berisi 20 siswa sehingga total hanya tersedia 80 kursi per sekolah.

Calon siswa diprioritaskan berasal dari kabupaten atau kota tempat SNT berdiri. Misalnya, SNT di Kabupaten Kupang hanya menerima siswa dari Kabupaten Kupang, sedangkan SNT di Kota Subulussalam diperuntukkan bagi siswa setempat.

Gogot menjelaskan, seleksi akan memanfaatkan basis data siswa berprestasi yang dimiliki pemerintah daerah. Sekolah dapat mengusulkan siswa terbaiknya, sementara kementerian juga akan mengundang siswa dengan prestasi akademik maupun nonakademik.

Mu’ti menambahkan, SNT tidak dirancang menjadi ‘pulau kemajuan’ yang terpisah dari sekolah lain. Sebaliknya, sekolah tersebut harus menjadi katalisator peningkatan mutu pendidikan di wilayah sekitarnya.

SNT akan membuka akses laboratorium, berbagi sumber belajar, mendampingi sekolah lain, serta menjadi pusat pelatihan guru secara berkelanjutan.

“Keberhasilan SNT tak hanya diukur dari capaian murid yang belajar di dalamnya, tetapi juga dari berkembangnya guru, meningkatnya kolaborasi antarsekolah, dan tumbuhnya mutu pendidikan di daerah tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, SNT bukan satu-satunya solusi atas persoalan pendidikan nasional. Program ini akan berjalan berdampingan dengan revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kesejahteraan guru, Sekolah Rakyat, dan SMA Unggul Garuda.

“Semua program tersebut menjawab kebutuhan yang berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu pendidikan bermutu untuk semua,” kata Mu’ti menandaskan.

Sementara itu, Deputi III Kantor Staf Presiden, Yan Hiksas menyampaikan dukungannya terhadap Program Sekolah Nasional Terintegrasi. Program tersebut menjadi wujud kehadiran negara dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global

Ia berharap, lewat SNT akan lahir banyak generasi Indonesia yang mampu bersaing di pusat-pusat peradaban dan universitas terbaik dunia.

“Kita yakin, Indonesia ke depan tak hanya mengandalkan sumber daya alam yang melimpah, tapi juga sumber daya manusia yang kreatif, inovatif. Dan saya yakin semua itu akan dipersiapkan dalam sekolah nasional terintegrasi,” pungkasnya. (Tri Wahyuni)

Related posts