TANGERANG SELATAN (Suara Karya): Limbah tahu, sampah plastik, sisa makanan, hingga kulit nangka disulap pelajar Indonesia menjadi gagasan solusi lingkungan dalam Lomba Esai Nasional Universitas Terbuka (UT) 2026. Sebanyak 1.800 esai masuk dalam lomba tersebut.
Kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian Diesporseni UT 2026 itu diikuti siswa SMA/MA, SMK/SMAK, dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia.
Setelah proses kurasi, sebanyak 36 naskah terbaik terpilih untuk mengikuti tahapan selanjutnya, hingga hasilnya mengerucut menjadi enam finalis.
Para finalis tak hanya diuji melalui kualitas tulisan, tetapi juga harus mempresentasikan gagasannya di depan dewan juri dan mengikuti sesi tanya jawab.
Tahapan itu dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menjelaskan, mempertahankan, sekaligus mempertanggungjawabkan gagasan yang dituangkan dalam esainya.
Pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Terbuka, Prof Dra Dewi Artati Padmo Putri, MA., PhD mengatakan, lomba esai tersebut merupakan salah satu upaya UT untuk menjaga kemampuan menulis generasi muda di tengah perubahan pola komunikasi akibat perkembangan teknologi digital.
“Kami ingin anak-anak SLTA tidak kehilangan kemampuannya dalam menulis. Kemampuan itu penting bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan di masa depan,” ujarnya.
Karena itu, UT memberi ruang bagi pelajar untuk menuangkan gagasannya secara baik, sekaligus menghasilkan karya yang dapat memberi manfaat.
“Kami berharap masyarakat Indonesia tetap memiliki kader-kader yang dapat menulis dengan baik,” katanya.
Lomba tersebut juga bagian dari promosi UT ke kalangan pelajar. Diharapkan, UT bisa menjadi salah satu pilihan mereka untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.
Sampah Jadi Sumber Inovasi
Terpilih sebagai juara 1 Lomba Esai Nasional UT 2026, yaitu duet siswa, Ellyana Mariska Michelle Simanjuntak dan Nadine Rahma Azzahra dari SMA Negeri 1 Banyudono, Boyolali.
Mereka mengangkat persoalan sampah industri tahu di Boyolali melalui esai berjudul ‘Snack Bar Ecobland: Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis Pengelolaan Sampah Industri Tahu di Boyolali’.
Karya tersebut memperlihatkan, limbah industri yang selama ini dinilak menjadi masalah lingkungan, ternhata menyimpan peluang ekonomi.
Posisi kedua diraih tiga siswa SMA Negeri 1 Amlapura, Bali yakni Komang Kemala Maharani, Ni Luh Putu Ika Darmayanti, dan Ni Kadek Myra Wulan Sari.
Esai mereka berjudul ‘CIRCLE: Model Ekosistem Ekonomi Sirkular Berbasis Sekolah melalui Integrasi Ecoverse AI untuk Mencetak Sociopreneur Muda Pengelola Sampah Plastik’.
Esai tersebut menawarkan model pengelolaan sampah plastik berbasis sekolah, dengan pendekatan ekonomi sirkular dan teknologi.
Juara ketiga diraih Air Rizqi Al Nashri dari Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor, dengan esai berjudul ‘Circular Food Waste Hub: Transformasi Limbah Pangan Menjadi Sumber Daya Melalui Aksi Generasi Muda dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs)’.
Dalam esainya, Air Rizqi menawarkan pengelolaan limbah makanan melalui pendekatan sains, biokonversi, ekonomi sirkular, serta keterlibatan siswa sebagai agen perubahan.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk membantu pengolahan limbah makanan menjadi biomassa yang memiliki nilai guna.
Gagasan tersebut terinspirasi dari hasil observasi terhadap pengelolaan sisa makanan di salah satu lokasi pengolahan makanan bergizi di Bogor.
Dalam sesi tanya jawab, peserta menjelaskan, gagasan tersebut masih berada pada tahap usulan untuk diterapkan di sekolah. Proses presentasi menunjukkan, peserta mampu menghubungkan gagasan yang dituangkan dalam tulisan dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar.
Juara harapan pertama diraih 3 siswa dari SMAN 14 Garut, yakni Alfiyyah Maisaroh, Demoni Nuraini, dan Sopi Puspa Dewi. Esainya berjudul ‘Mengubah Sisa Menjadi Asa: Transformasi Limbah Core Nangka Menjadi Smart Packaging Berbasis Edible Film’.
Mereka menawarkan pemanfaatan limbah nangka sebagai bahan kemasan yang ramah lingkungan.
Beragam karya para finalis menunjukkan, para pelajar tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan lingkungan, tetapi juga berusaha mencari pendekatan baru untuk mengatasinya.
Dalam proses penilaian, dewan juri tidak hanya melihat kemampuan peserta menyusun tulisan, tetapi juga aspek yang dinilai mencakup orisinalitas, kebaruan gagasan, kesesuaian dengan tema, sistematika penulisan dan bahasa, kedalaman analisis dan solusi, serta kekuatan kesimpulan.
Proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penetapan pemenang dituangkan dalam Berita Acara Penilaian dan Penetapan Pemenang Lomba Esai Nasional Universitas Terbuka Tahun 2026 yang ditandatangani dewan juri pada 31 Agustus 2026.
Dewan juri terdiri atas Dr Teguh Prakoso, SPd, MHum; Irwan Kelana, SH; dan Dr Esra Nelvi M Siagian, SPd, MM, MEd.
Selain memberi penghargaan kepada para pemenang, UT juga merencanakan 36 naskah terbaik untuk dibukukan. Para pemenang akan memperoleh apresiasi berupa dana pembinaan dan dukungan beasiswa dari Universitas Terbuka sesuai ketentuan yang berlaku. (Tri Wahyuni)

