Suara Karya

Bidik 1 Juta Mahasiswa, UT Siapkan 15 Langkah Strategis Perkuat Kapasitas Akademik

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) memasang target ambisius, mampu melayani 1 juta mahasiswa paling lambat 2028. Untuk itu, disiapkan 15 langkah strategis untuk memperkuat kapasitas akademik, transformasi digital, riset, tata kelola hingga kemitraan dengan pemerintah daerah dan swasta.

Target satu juta mahasiswa tersebut, bukan sekadar mengejar jumlah, melainkan bagian dari misi memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas ke seluruh Indonesia, termasuk wilayah terjauh, tertinggal dan terluar.

Hal itu dikemukakan Rektor Universitas Terbuka (UT), Prof Dr Ali Muktiyanto dalam kegiatan Dies Natalis ke-42 UT, di Gedung Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (4/9/26).

Prof Ali saat itu didampingi jajaran pejabat di lingkungan kampus UT.

Ditambahkan, saat ini jumlah mahasiswa UT berada di kisaran 850 ribu mahasiswa. Dengan pertumbuhan sekitar 100 ribu hingga 110 ribu mahasiswa setiap tahun, maka target tersebut akan dicapai pada 2028.

“Pertumbuhan jumlah mahasiswa, tentunya akan diikuti penguatan kapasitas teknologi. Sistem ujian online UT, misalkan, kini berkapasitas terpasang hingga 250.000 concurrent users,” ungkapnya.

Dalam dua semester terakhir, lanjut Prof Ali, sistem tersebut mampu melayani lebih dari 125.000 pengguna secara bersamaan, bahkan akhir-akhir mencapai sekitar 129.000 pengguna tanpa kendala berarti.

“UT juga menghadirkan ujian berbasis mobile dan automated online proctoring. Sistem pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) juga dikembangkan, agar mahasiswa dapat mengakses pembelajaran kapan saja dan dari mana saja,” tuturnya.

Transformasi yang dilakukan UT juga menyentuh inti akademik. Seluruh 54 program studi UT telah menuntaskan pembaruan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Proses tersebut sekaligus mencakup penataan sekitar 1.077 bahan ajar.

“Dari sisi mutu, proporsi program studi terakreditasi unggul meningkat dari 52 persen menjadi 59,62 persen,” ucapnya.

UT juga berhasil menjalani ICDE Quality Review, salah satu proses penjaminan mutu internasional untuk pendidikan terbuka dan jarak jauh.

Penguatan riset juga menjadi prioritas. Publikasi dosen dan peneliti meningkat dari 1.151 menjadi 1.251 publikasi, sedangkan publikasi terindeks internasional bereputasi naik dari 748 pada 2024 menjadi 922 pada 2026.

“Untuk mendukung upaya itu, anggaran riset UT melonjak 73,6 persen, dari Rp32,9 miliar pada 2025 menjadi Rp57,1 miliar pada 2026,” katanya.

Kinerja keberlanjutan UT juga meningkat. Dalam Times Higher Education Sustainability Impact Rankings 2026, UT melesat ke posisi 801-1.000 dunia, dari sebelumnya 1.000-1.500 dunia.

“UT kini juga berkontribusi pada seluruh 17 SDGs, dari sebelumnya lima fokus,” ujarnya.

Ali menjelaskan, 15 langkah strategis UT untuk peningkatan kualitas, yang mencakup penguatan admisi dan registrasi, pengembangan materi pembelajaran interaktif, integrasi LMS dan sistem ujian, penguatan asesmen digital, aplikasi nonakademik, pencapaian indikator kinerja utama, regulasi internal, dan sumber daya manusia.

Upaya peningkatan lainnya pada sarana-prasarana, stabilitas keuangan, hilirisasi riset, pengelolaan dana abadi, kemitraan, pembinaan mahasiswa dan alumni, serta pembukaan sekolah vokasi.

Di bidang tata kelola, UT juga mencatat efisiensi melalui pengadaan bahan ajar. Sekitar 95 persen bahan ajar cetak diproses melalui skema pengadaan langsung dari vendor, untuk dikirim ke mahasiswa. Dengan begitu, biaya turun dari Rp105 ribu menjadi Rp52 ribu per eksemplar.

Terkait dana abadi UT yang mencapai sekitar Rp1,5 triliun telah menghasilkan dana sekitar Rp88,54 miliar, yang diarahkan antara lain untuk beasiswa, riset dan inovasi, pengembangan kompetensi pegawai, pengabdian masyarakat dan infrastruktur.

Ali menegaskan, seluruh transformasi tersebut membutuhkan kerja kolektif. “Tak ada ‘Superman’ di UT. Yang ada adalah super team,” tegasnya.

Dengan 15 langkah tersebut, UT ingin memastikan target satu juta mahasiswa tidak hanya menjadi pencapaian kuantitatif, tetapi juga menjadi momentum untuk membawa pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh Indonesia semakin kompetitif di tingkat dunia. (Tri Wahyuni)

Related posts