DEPOK (Suara Karya): Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara manusia membaca, menulis, dan memproduksi pengetahuan, para penulis ditantang untuk tetap mempertahankan daya pikir, keberanian bersikap, serta suara personal dalam berkarya.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk ‘Penulis di Tengah Perubahan’, yang digelar Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea di Ruang Apung, Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Rabu (2/9/26).
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Road to Munas Alinea 2026 itu mempertemukan para penulis dengan sivitas akademika UI untuk membahas berbagai tantangan dunia kepenulisan, mulai dari perkembangan AI, politik literasi, makanan dan kebudayaan, kebiasaan membaca, memoar, hingga masa depan profesi penulis.
Kegiatan dikemas dalam format Sesi Gagasan Penulis, dengan setiap pembicara menyampaikan satu gagasan utama selama 10 menit tanpa menggunakan presentasi PowerPoint. Setelah itu, gagasan dikembangkan melalui percakapan bersama peserta.
Kepala Perpustakaan UI, Luluk Tri Wulandari menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi kehadiran para penulis di Ruang Apung Perpustakaan UI untuk berbagi gagasan dan pengalaman dengan sivitas akademika.
Direktur Eksekutif Alinea, Deasy Tirayoh mengatakan, kegiatan ‘Alinea Goes to Campus’ menjadi penutup rangkaian Sarasehan Dalam Jaringan (SADARING) Alinea, yang sebelumnya menghadirkan percakapan dengan penulis, akademisi, antropolog, komikus, pegiat kebudayaan, dan sastrawan.
“Setelah ini kita akan masuk ke acara puncak, yaitu Munas Alinea pada 5-6 September 2026 yang akan dilaksanakan di Komunitas Utan Kayu,” ujar Deasy.
Sementara itu, Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) periode 2024–2029, Wien Muldian menyampaikan, Alinea terbuka bagi penulis dari berbagai genre, termasuk mereka yang terlibat dalam proses produksi industri kepenulisan seperti editor, ilustrator, dan profesi lainnya, yang berperan membawa karya hingga sampai kepada pembaca.
Lima narasumber lain, yakni Maman Suherman, Kanti W Janis, Heni Pridia, Kurnia Effendi, dan Nuria Soeharto, kemudian menyampaikan gagasan dari perspektif masing-masing. Diskusi dipandu Stebby Julionatan dengan Achmad Fachrodji sebagai penanggap.
AI dan Hilangnya Suara Personal
Maman Suherman membuka diskusi dengan menyoroti posisi pegiat literasi sebagai bagian dari rantai pewarisan pengetahuan. Menurut alumnus Kriminologi UI itu, perkembangan teknologi harus dihadapi dengan keberanian untuk terus berpikir dan mempertanyakan berbagai hal yang diterima.
“Pegiat literasi adalah pewaris pengetahuan. Kita perlu memiliki keberanian untuk terus berpikir, mempertanyakan apa yang kita terima, dan menemukan suara kita sendiri di tengah perubahan teknologi,” ungkap Maman.
Karena perkembangan AI tak hanya menyangkut kemampuan mesin menghasilkan teks secara cepat. Kemudahan itu juga menghadirkan tantangan baru, karena dapat membuat suara personal penulis semakin samar.
Karena itu, keberanian untuk berpikir secara mandiri dan mengakui ketidaksempurnaan menjadi bagian penting yang harus tetap dimiliki seorang penulis.
Penulis puluhan buku itu juga mengajak peserta melihat persoalan kualitas tulisan secara lebih kritis. Kemampuan menulis tidak tumbuh dalam ruang yang seragam karena akses terhadap buku, pendidikan, sumber pengetahuan, dan berbagai sumber daya turut menentukan kesempatan seseorang dalam mengembangkan kemampuan.
Kanti W Janis membawa diskusi ke ranah politik literasi. Ia mengingatkan, aktivitas menulis dan literasi tidak pernah sepenuhnya terlepas dari konteks sosial dan politik.
“Pilihan mengenai apa yang ditulis, pengalaman siapa yang diberi ruang, suara mana yang diperdengarkan, serta persoalan apa yang dianggap penting untuk dibicarakan selalu memiliki konteks tertentu,” tuturnya.
Karena itu, Kanti menekankan pentingnya keberanian membela Indonesia sekaligus terus mengembangkan keterampilan menulis sebagai jembatan untuk menyuarakan ketidakadilan.
Pengalamannya membangun ‘Baca Di Tebet (BDT)’ dan inisiatif penerbitan Sebermula menunjukkan bagaimana kerja literasi dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, masyarakat, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Perspektif berbeda disampaikan Heni Pridia yang mengajak peserta melihat makanan sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan.
“Makanan itu selalu terkait erat dengan sejarah dan kebudayaannya,” kata Heni.
Akademisi Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI itu menilai makanan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, identitas, kebiasaan, dan pengetahuan suatu masyarakat.
Menurut pemerhati kuliner sekaligus pengajar di bidang pendidikan, hospitaliti, dan pariwisata tersebut, banyak pengetahuan hidup melalui praktik sehari-hari dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, aktivitas menulis juga memiliki fungsi penting untuk mencatat pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat agar tidak hilang akibat perubahan zaman.
Sastrawan Kurnia Effendi mengingatkan kembali pentingnya membaca sebagai fondasi bagi seorang penulis. Karena membaca tak mengenal batas usia. Aktivitas itu menjadi latihan untuk berjumpa dengan gagasan, pengalaman, serta dunia yang lebih luas dari pengalaman pribadi.
“kemampuan berpikir juga harus terus dilatih. Menulis menjadi salah satu cara untuk menguji pemahaman seseorang terhadap kehidupan, sekaligus menyusun kembali hasil perjumpaan dengan berbagai pengetahuan,” ucapnya.
Sementara itu, Nuria Soeharto berbicara mengenai memoar dan pengalaman menerbitkan karya secara mandiri.
Penulis yang merupakan lulusan PhD dari Université de Paris-8, Prancis itu mengisahkan perjalanan hidupnya, termasuk belasan tahun menetap di Eropa sebelum kembali ke Tanah Air untuk merawat ibunya yang mengalami demensia.
Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi sumber kreativitas untuk melahirkan sejumlah karya.
Bagi alumnus Antropologi UI itu, pengalaman hidup lintas ruang dan kebudayaan memberi jarak untuk membaca kembali kehidupan, sebelum mengubahnya menjadi cerita yang dapat dibagikan ke pembaca.
“Memoar memberi ruang untuk mengolah pengalaman pribadi menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari orang lain,” ungkapnya.
Sementara pilihan menerbitkan karya secara mandiri atau self-publishing memberi keleluasaan lebih besar kepada penulis dalam mengendalikan proses berkarya dan penerbitan.
Masa Depan Kepenulisan
Sebagai penanggap, Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji menyambut baik berbagai gagasan yang berkembang dalam diskusi.
Ia menyoroti sisi lain dari masa depan kepenulisan, yakni kemampuan profesi tersebut untuk menjadi sumber penghidupan.
Pandangan itu membawa diskusi pada persoalan keberlanjutan profesi penulis.
“Penulis tidak cukup memiliki gagasan dan kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga perlu memahami ekosistem yang menopang profesinya,” katanya.
Diskusi di Ruang Apung UI pun memperlihatkan perubahan dunia kepenulisan datang dari berbagai arah. AI mengubah cara teks diproduksi, politik memengaruhi konteks suara bekerja, perubahan sosial menghadirkan pengetahuan yang perlu dicatat, kebiasaan membaca memengaruhi kemampuan berpikir, sementara industri penerbitan terus menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.
Di tengah perubahan tersebut, persoalan suara personal, keberanian berpikir, ketekunan membaca, dan kemampuan merawat pengetahuan menjadi semakin penting. (Tri Wahyuni)

