Suara Karya

Libatkan 123 Pakar, Kemenbud Luncurkan Buku Sejarah Indonesia Perspektif Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) meluncurkan karya terbaru, penulisan sejarah Indonesia yang melibatkan 123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan lembaga penelitian independen.

Buku tersebut hadir dengan perspektif Indonesia-sentris untuk memperbarui narasi sejarah, sekaligus memperkuat identitas dan jati diri bangsa.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan, penyusunan buku sejarah Indonesia itu merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali sejarah sebagai sumber pengetahuan penting bagi masyarakat.

Sejarah, menurut dia, tidak semata-mata menjadi bahan hafalan dalam pendidikan, tetapi juga instrumen untuk memahami asal-usul bangsa dan membangun kesadaran identitas.

“Kami berharap, sejarah masuk lagi sebagai mata pelajaran di sekolah, agar orang Indonesia tak kehilangan identitas, dan tahu dari mana mereka berasal,” kata Fadli Zon dalam peluncuran buku berjudul ‘Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan Dalam Arus Global’, di Jakarta, Senin (31/8/26).

Ditambahkan, buku tersebut tak hanya diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan formal. Masyarakat luas juga dapat mengakses dan mempelajarinya secara gratis, melalui platform digital ‘Pustaka Budaya’.

Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu referensi penting bagi pendidikan, penelitian, maupun masyarakat umum. Apalagi, buku itu disusun langsung oleh para pakar sejarah dan bidang terkait yang telah lama melakukan penelitian.

“Buku ini harus menjadi karya puncak sejarah Indonesia, karena yang menulis adalah para sejarawan kita,” katanya.

Fadli menjelaskan, Kemenbud sejak awal menempatkan diri sebagai fasilitator. Substansi, metodologi, dan narasi diserahkan kepada para sejarawan dan tim penulis secara independen untuk menjaga objektivitas serta kebebasan akademik.

Karya tersebut melibatkan 123 pakar yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum dari 34 perguruan tinggi serta lembaga penelitian independen di seluruh Indonesia.

Penyusunan naskah berlangsung sekitar satu tahun. Secara substansi, teks telah selesai pada akhir 2025, tetapi proses penerbitan baru selesai Agustus 2026, karena harus melalui proofreading, editing, akuisisi foto, dan penataan desain buku.

“Salah satu pekerjaan yang cukup rumit adalah pengadaan sekitar 1.700 foto sebagai ilustrasi. Kami tidak mengambil foto secara sembarangan dari internet. Foto harus jelas sumbernya, termasuk hak penggunaan, dan kredit foto,” tegasnya.

Selain itu, desain buku juga diperbarui dengan melibatkan desainer buku agar tampil lebih representatif sebagai karya sejarah Indonesia.

Secara keseluruhan, karya tersebut dirancang dalam 10 jilid substansi dan satu jilid yang memuat fakta atau kamus informasi. Dalam peluncuran kali ini, 5 jilid pertama telah diperkenalkan kepada publik.

Jilid pertama membahas Akar Peradaban Nusantara, meliputi fondasi biologis, ekologis, sosial, dan kultural masyarakat sebelum berinteraksi secara intensif dengan peradaban luar.

Jilid kedua mengangkat Nusantara dalam Jaringan Global dengan India, Tiongkok, dan Persia, termasuk perjumpaan budaya serta jaringan ekonomi yang berkembang secara plural dan terbuka.

Jilid ketiga membahas Nusantara dalam Jaringan Global Timur Tengah, dengan fokus pada perdagangan, politik, komunitas Muslim, akulturasi hukum, identitas politik, dan perkembangan masyarakat multikultural.

Jilid keempat mengangkat Interaksi Awal dengan Barat, termasuk kompetisi, aliansi, resistensi, dan respons kekuatan lokal terhadap ekspansi Eropa.

Sedangkan jilid kelima membahas Masyarakat Indonesia dan Negara Kolonial, mulai dari perkembangan administrasi kolonial, perubahan sosial, perlawanan, hingga tumbuhnya kesadaran nasional.

Fadli menegaskan, buku tersebut tidak dimaksudkan untuk mengklaim telah mencakup seluruh sejarah Indonesia.

“Buku ini tidak akan mencakup semua. Tidak mungkin menulis sejarah Indonesia hanya dengan 10 jilid. Seratus jilid mungkin belum selesai, 200 jilid juga belum selesai. Terlalu banyak aspek,” katanya.

Karena itu, karya tersebut diposisikan sebagai highlight atau garis besar dari sejarah Indonesia yang sangat luas dan kaya.

Fadli berharap penulisan tersebut dapat dilanjutkan oleh sejarawan dan peneliti lain melalui karya-karya yang mendukung, mengkritisi, maupun mengelaborasi narasi yang telah ada.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Universitas Diponegoro, Prof Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, sedikitnya ada 2 pembaruan utama dalam karya tersebut, yakni dari sisi metodologi dan perspektif.

“Penulisan sejarah kali ini tetap menggunakan metode sejarah secara ketat, tetapi diperkaya pendekatan multidisipliner dan perspektif Indonesia-sentris,” ujarnya.

Kebaruan substansi juga terlihat dari masuknya berbagai hasil penelitian selama lebih dari dua dekade terakhir, yang sebelumnya belum terintegrasi secara memadai dalam narasi sejarah Indonesia.

Salah satu contohnya, temuan arkeologi mengenai lukisan cadas di wilayah Nusantara yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa sangat awal telah memiliki kemampuan menghasilkan karya seni yang luar biasa.

“Ini bukan sekadar membanggakan masa lalu, tetapi menunjukkan bahwa penduduk kita sejak masa awal sudah mampu menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi sekarang,” kata Singgih.

Temuan-temuan terbaru tersebut sekaligus mendorong perubahan cara melihat masyarakat masa lalu. Istilah dan perspektif lama yang cenderung menempatkan masyarakat sebelum mengenal tulisan sebagai masyarakat yang dianggap “primitif” atau negatif mulai dikaji kembali.

Penulisan sejarah terbaru berupaya menggunakan istilah akar peradaban Nusantara, bukan sekadar membatasi pembahasan pada periode ‘prasejarah’.

“Pendekatan itu juga diterapkan dalam melihat hubungan Nusantara dengan berbagai pusat peradaban dunia,” ucapnya.

Selain itu, masyarakat Nusantara dipandang bukan sebagai penerima pasif, tetapi sebagai pihak yang aktif memilih, mengadopsi, dan mengadaptasi unsur budaya dari luar untuk memperkaya kebudayaannya sendiri.

“Perspektif serupa digunakan untuk melihat hubungan Nusantara dengan Tiongkok, Asia, Timur Tengah, dan kawasan lainnya,” tuturnya.

Singgih mengatakan, pembaruan tersebut juga diarahkan untuk membangun kembali kesadaran identitas Indonesia atau reinventing Indonesian identity.

Sejarah tak hanya digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai yang membentuk bangsa Indonesia, serta bagaimana menghadapi tantangan kultural di masa kini.

“Kita sedang menghadapi guncangan kultural yang luar biasa sebagai perkembangan digital. Karena itu, kita perlu meneguhkan kembali identitas kita sebagai suatu bangsa,” katanya.

Ia menilai perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah menerima berbagai narasi dan pengaruh budaya dari seluruh dunia. Tanpa kesadaran identitas yang kuat, masyarakat Indonesia berpotensi kehilangan pijakan terhadap budaya dan nilai kebangsaannya sendiri.

Selain memperkuat identitas, penulisan sejarah terbaru juga diarahkan untuk menjadikan sejarah sebagai sarana latihan intelektual.

Singgih menegaskan, membaca sejarah tidak semestinya hanya dilakukan untuk menghafal tokoh, tahun, dan peristiwa. Pembaca harus diajak menghubungkan berbagai sumber, melihat hubungan antarkeadaan, menganalisis bukti, berpikir kritis, hingga menarik kesimpulan.

“Jadi membaca sejarah juga melatih intelektual, mulai dari menghubungkan sumber, mencari hubungan sesuatu, kemudian berpikir kritis sampai mengambil kesimpulan,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak menjadi pembaca sejarah yang pasif, melainkan mampu menilai berbagai informasi dan narasi secara kritis.

Fadli menambahkan, sejarah memang tidak pernah sepenuhnya selesai ditulis. Perspektif terhadap sebuah peristiwa dapat berbeda antara pelaku, korban, maupun pihak yang berada dalam posisi berbeda.

Karena itu, perbedaan tafsir tidak harus dipandang sebagai persoalan, sepanjang tetap didasarkan pada fakta, metodologi sejarah, dan kaidah historiografi.

“Sejarah itu dinamis, dialektis, tetapi tentu harus berdasarkan fakta-fakta yang kuat, metodologi yang sudah ada dalam sejarah, dan historiografinya,” katanya.

Kemenbud juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberi masukan atas karya tersebut. Masukan dan temuan baru diharapkan dapat menjadi bahan untuk penyempurnaan penulisan sejarah di masa mendatang.

Tak Berhenti pada Buku

Fadli mengatakan, proyek penulisan sejarah Indonesia tidak berhenti pada karya 10 jilid tersebut. Kemenbud telah menyiapkan sejumlah proyek penulisan sejarah lainnya, antara lain sejarah Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai, Pajajaran, serta sejarah perang mempertahankan kemerdekaan.

Untuk sejarah Majapahit, Fadli menginginkan karya yang lebih komprehensif dan monumental karena selama ini pembahasan mengenai kebesaran Majapahit dinilai belum selalu diikuti karya yang sebanding dari sisi keluasan kajian.

“Kita selalu bicara Majapahit besar, tapi bukunya tipis-tipis. Tidak komprehensif. Jadi bukunya pun harus monumental,” ujarnya.

Kemenbud juga mengembangkan narasi sejarah melalui medium film, khususnya periode perang mempertahankan kemerdekaan. Proyek tersebut melibatkan sejarawan agar fakta-fakta sejarah yang menjadi dasar cerita tetap akurat.

Fadli mengatakan, sejumlah proyek film telah memasuki proses pengembangan dan pitching dengan produser serta sutradara. Sebagian diantaranya, ditargetkan memasuki tahap produksi tahun ini dan diluncurkan pada tahun berikutnya.

Ia berharap rangkaian program tersebut dapat membuat sejarah Indonesia lebih dekat dengan masyarakat melalui berbagai medium, baik buku, pendidikan, penelitian, maupun film.

“Kalau tidak ada dalam sejarah, bukan berarti tidak ada dalam sejarah, tetapi memang belum sempat tertulis dan akan ditulis dalam detail-detail yang lain,” ujar Fadli.

Seluruh buku yang telah diluncurkan juga dapat diakses dan diunduh secara gratis oleh masyarakat melalui platform digital Pustaka Budaya.id.

Fadli berharap karya tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam memahami perjalanan bangsa sekaligus mendorong lahirnya penelitian sejarah baru.
“Ini adalah highlight atau garis besar saja dari sejarah Indonesia yang begitu kaya,” katanya. (Tri Wahyuni)

Related posts