Suara Karya

Antre Air 5 Jam dan Kampung yang Bangkit dari Kubur: Potret Getir Kemarau Ekstrem di Banten

Bantuan air bersih di kabupaten Serang (Foto Wisnu Bangun)

SERANG (Suara Karya) – Dampak kemarau panjang akibat badai El Nino yang melanda Banten sejak Mei lalu kini mulai memicu situasi sulit bagi warga di ratusan desa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan ada 415 desa di 105 kecamatan se-Banten yang kini mengalami krisis air bersih akut.

Salah satu cerita getir datang dari perbukitan Kota Cilegon, di mana ratusan warga harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer membelah tebing terjal demi mencari air.

Bukan langsung dapat air, mereka bahkan harus rela mengantre sampai 5 jam di satu-satunya mata air yang debitnya kian menyusut.

Cerita lain yang tak kalah menyita perhatian terlihat di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak.

Gersangnya cuaca membuat air waduk surut drastis hingga memunculkan kembali puing-puing bangunan Kampung Somang, sebuah wilayah yang setahun lalu sengaja ditenggelamkan untuk proyek bendungan.

Krisis ini semakin parah karena bantuan air bersih dari pemerintah baru bisa menyentuh 139 desa.

Sebanyak 276 desa sisanya terpaksa bertahan hidup dengan sumber air seadanya karena Pemprov Banten belum juga menetapkan status tanggap darurat tingkat provinsi.

Tak hanya urusan bak mandi yang kering, piring makan para petani Banten kini ikut terancam akibat kekeringan di sektor agraris.

Dinas Pertanian Banten mengonfirmasi 2.095 hektare lahan sawah di wilayah ini sudah terdampak kekeringan ekstrem.

Bahkan, seluas 68 hektare lahan padi di Kabupaten Serang dipastikan sudah puso alias gagal panen total.

Kondisi kritis juga menimpa 43 hektare sawah di 24 desa Kabupaten Tangerang yang jaringan irigasinya kini berubah jadi parit debu.

Melihat kondisi darurat ini, Kabupaten Lebak langsung curi start memperpanjang status Siaga Darurat Kekeringan secara mandiri hingga September mendatang.

Langkah ini juga tengah dikejar oleh Kabupaten Serang demi bisa mencairkan dana darurat penanggulangan bencana dari pusat.

“Kita sedang mengajukan ke Bupati untuk peningkatan status ke siaga darurat bencana, saat ini SK-nya sudah di bagian hukum,” ungkap Fakih, perwakilan BPBD Kabupaten Serang.

Di tengah lambatnya birokrasi, Polda Banten berinisiatif mengerahkan 64 armada taktis termasuk mobil Water Cannon pengurai massa untuk disulap jadi pengangkut air bersih ke rumah-rumah warga.
Berdasarkan prediksi BMKG, cuaca panas ekstrem ini masih akan mengunci tanah Banten sampai Oktober nanti. (Wisnu Bangun)

Related posts