KOTA SERANG (leonews.co.id) – Bagi masyarakat Banten, Pasar Induk Rau atau yang kini dikenal sebagai Rau Trade Centre (RTC) adalah urat nadi perekonomian terbesar di Kota Serang.
Namun, apa sebenarnya Pasar Rau itu, bagaimana asal-usulnya, dan seperti apa kondisinya di masa lalu sebelum semegah sekarang?
Untuk menjawab rasa penasaran pembaca dan pengguna internet, berikut adalah rekam jejak dan sejarah panjang Pasar Rau dari pusat sayur tradisional hingga proyek revitalisasi modern yang sedang berjalan saat ini.
Pasar Induk Rau adalah pasar rakyat terbesar di pusat Kota Serang, Provinsi Banten.
Pasar ini bertindak sebagai pasar induk yang menyuplai berbagai kebutuhan pokok, sayur-mayur, pakaian, hingga komoditas grosir untuk wilayah Kota Serang, Kabupaten Serang, dan sekitarnya.
Luas bangunan pasar ini mencapai 85.000 meter persegi di atas lahan seluas lebih dari 5 hektar dengan total kapasitas mencapai 4.427 unit tempat usaha berupa kios dan los.
Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota menjadikan tempat ini sebagai pusat perputaran uang terbesar di ibu kota provinsi.
Mundur jauh ke belakang, sejarah Pasar Rau dimulai pada tahun 1982 di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Serang—jauh sebelum Provinsi Banten berdiri mandiri.
Generasi terdahulu mengenal tempat ini murni sebagai tempat belanja sayur-mayur tradisional yang becek namun hidup.
Pada awal berdirinya, lahan pasar ini memiliki luas sekitar 5,7 hektar sebelum akhirnya menyusut menjadi sekitar 4,5 hingga 5 hektar akibat proyek pelebaran jalan utama di sekitarnya seiring alur zaman.
Kehadiran Pasar Rau pada tahun 1982 sebenarnya merupakan solusi dari sebuah misi besar pemerintah daerah.
Kala itu, pemerintah ingin menata ulang jantung kota dan mengosongkan kawasan Pasar Lama yang terletak di Jalan Maulana Hasanudin, Kotabaru.
Para pedagang tradisional di Pasar Lama yang kala itu berjumlah ribuan orang dari berbagai daerah direlokasi secara besar-besaran ke lahan baru yang kini menjadi Pasar Rau.
Sementara itu, eks kawasan Pasar Lama direncanakan untuk dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan modern yang dilengkapi kompleks pertokoan dan fasilitas bioskop, salah satunya adalah Serang Plaza di kemudian hari.
Seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang di Pasar Rau melonjak tajam melampaui daya tampung awal.
Pada tahun 2000, pemerintah daerah memutuskan melakukan perombakan total secara fisik.
Menggandeng pihak swasta dengan perkiraan anggaran komersial yang besar, pasar tradisional ini dibangun ulang secara megah menjadi gedung berlantai empat.
Gedung baru ini diresmikan langsung oleh Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, pada hari Jumat, 30 Juli 2004.
Di hadapan ribuan warga Serang, Megawati membagikan sebuah kisah emosional.
Ia menceritakan bahwa saat masih kecil, ia pernah diajak oleh sang ayah, Soekarno (Presiden pertama RI), mengunjungi pasar tradisional Rau tersebut.
Memori masa kecil bersama Bung Karno itu membuat Megawati secara khusus menyarankan kepada pemerintah daerah agar namanya tetap menggunakan kata “Pasar Rau”, alih-alih ditenggelamkan oleh nama modern kebarat-baratan seperti Rau Trade Centre (RTC).
Bagi Megawati, nama Pasar Rau memiliki nilai historis dan ikatan batin yang kuat dengan masyarakat setempat.
Saat pertama kali dibuka pasca-peresmian tahun 2004, Pasar Rau sempat menjadi kebanggaan luar biasa bagi warga Serang.
Gedung ini dilengkapi dengan fasilitas eskalator atau tangga jalan.
Pada zamannya, keberadaan tangga model berjalan adalah simbol kemewahan sebuah pusat perbelanjaan modern di Banten.
Namun, kejayaan itu runtuh akibat sistem pengelolaan aset yang buruk.
Hanya berselang beberapa bulan setelah diresmikan, fasilitas eskalator kebanggaan itu mendadak rusak dan mati total selama bertahun-tahun.
Matinya tangga jalan ini memicu efek domino yang parah: akses ke lantai atas terputus, membuat lantai dua hingga lantai empat sepi pengunjung dan telantar menjadi kosong serta kumuh.
Kondisi ini diperparah oleh rusaknya fasilitas sanitasi di lantai atas.
Bau pesing yang menyengat menembus hingga ke lantai dasar.
Akibat dalam gedung yang mati suri, para pedagang tumpah ruah ke lantai dasar, trotoar, hingga memakan bahu jalan utama di sekeliling pasar.
Penataan hancur total; pedagang ikan, sayur-mayur, dan pedagang pakaian campur aduk tanpa zonasi yang jelas hingga memicu kemacetan kronis dan kerentanan kebakaran hebat.
Pasar Rau tercatat pernah dihantam beberapa kali musibah kebakaran hebat, seperti kebakaran ruko elektronik di Jalan Abdul Latif pada September 2014.
Setelah itu menyusul lagi kebakaran besar ke dua di Blok F Timur kawasan Jalan Cinanggung pada Desember 2015.
Melihat simpul kesemrawutan yang dibiarkan bertahun-tahun, Pemerintah Kota Serang di bawah kepemimpinan Walikota Budi Rustandi akhirnya mengambil kebijakan tegas.
Menjawab desakan masyarakat yang merindukan pasar rakyat yang layak bagi sebuah Ibu Kota Provinsi, proyek revitalisasi total Pasar Rau resmi digulirkan menggunakan skema APBD.
Langkah berani ini sempat diwarnai riak dan gelombang penolakan oleh para pedagang yang khawatir akan kehilangan lapak strategis atau penurunan omzet selama masa penataan.
Namun, melalui pendekatan dialogis yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemkot Serang menegaskan bahwa proyek ini murni untuk kebaikan bersama demi menyelamatkan hajat hidup sekitar 5.000 pedagang.
Kebijakan revitalisasi oleh Walikota Budi Rustandi berfokus mengubah wajah Pasar Rau menjadi tempat belanja keluarga yang senyaman berbelanja di mal.
Proyek besar ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Andra Soni.
Dalam pembagian teknisnya, Pemprov Banten turun tangan membenahi infrastruktur luar seperti penataan jalan kawasan serta normalisasi drainase irigasi, sedangkan Pemkot Serang focus membangun fisik area dalam pasar.
Proses penataan awal, pembersihan, dan normalisasi saluran air dikerjakan secara bertahap, sementara pembangunan konstruksi fisik utama pasar modern ditargetkan mulai berjalan penuh.
Gebrakan revitalisasi ini mencakup beberapa poin krusial penataan ruang.
Penerapan zonasi tegas dilakukan untuk memisahkan Zona Basah (daging, ikan, sayuran, buah) dan Zona Kering (sembako, pakaian, jajanan).
Sanitasi bersih diwujudkan melalui penutupan rapi Saluran Air Limbah (SAL) untuk mengusir aroma tidak sedap.
Fasilitas modern dan ramah publik juga dibangun seperti perbaikan area parkir, toilet bersih ramah difabel, ruang istirahat, serta pusat kuliner keluarga.
Pokoknya revitalisasi ini adalah upaya Pemkot Serang untuk menciptakan Pasar Rau sebagai tempat belanja yang sangat nyaman, senyaman seperti orang berbelanja di Mall, tegas Budi Rustandi optimistis.
Lewat alur sejarah yang panjang, Pasar Rau kini tidak hanya sedang bersolek secara fisik, melainkan sedang menyelamatkan warisan sejarah dan memori masa lalu yang berharga.
Pasar Rau kini bersiap kembali menjadi pusat urat nadi ekonomi daerah yang bersih, tertata, dan manusiawi bagi seluruh masyarakat Kota Serang. (Wisnu Bangun/Editor)
T

