JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, transformasi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menjadi faktor penting dalam membangun sektor pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas, inklusif, berkelanjutan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Menpar dalam peringatan World Tourism Day (WTD) 2026, di Jakarta, Senin (28/9/26), yang dirangkaikan dengan gelaran ‘International Conference on Community Services’ (ICCS) 2026 bertema ‘Creating the Future of Tourism Development through Digital Innovation and AI’.
Perhelatan itu terselenggara hasil kolaborasi Institut Pariwisata (IP) Trisakti dan Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter.
Widiyanti mengatakan, Indonesia telah memasuki babak baru pembangunan pariwisata. Teknologi digital dan AI tidak lagi sekadar menjadi alat pendukung, tetapi instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas destinasi, memperluas manfaat ekonomi, serta memperkuat daya saing nasional.
“Bagaimana caranya teknologi dapat menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan, peluang usaha baru, sekaligus memastikan masyarakat lokal mendapat manfaatnya,” ujarnya.
Menurut Widiyanti, pemerintah saat ini berfokus pada pembangunan pariwisata berkualitas tinggi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
“Keberhasilan sektor pariwisata tak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari nilai ekonomi, kesejahteraan masyarakat, serta perlindungan terhadap budaya dan lingkungan,” tuturnya.
Pemanfaatan AI dan teknologi digital setidaknya dapat dilakukan melalui tiga aspek utama, yakni pengembangan destinasi dan investasi, penguatan sumber daya manusia, serta promosi dan peningkatan pengalaman wisata.
Pengembangan destinasi dan investasi, analisis data serta pemetaan arus wisatawan dapat membantu pemerintah dan pelaku usaha menentukan kebutuhan infrastruktur, mengidentifikasi wilayah potensial, hingga mengelola daya dukung kawasan wisata.
“Data yang lebih baik akan menghasilkan perencanaan yang lebih baik, sehingga pembangunan pariwisata dapat berlangsung secara berkelanjutan,” katanya.
Dalam penguatan sumber daya manusia, Widiyanti menekankan teknologi bukan untuk menggantikan manusia. Sebaliknya, teknologi dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja melalui penguasaan keterampilan digital, pemanfaatan data, serta penggunaan perangkat AI dalam operasional dan pemasaran.
“Aspek promosi dan pengalaman wisata, digitalisasi memungkinkan Indonesia menawarkan pengalaman yang lebih personal, mulai dari pengenalan budaya dan kuliner hingga ekonomi kreatif dan interaksi dengan masyarakat lokal,” ujarnya.
Widiyanti juga memperkenalkan “Maya”, asisten virtual berbasis AI yang tersedia melalui platform Indonesia.travel.
Layanan tersebut hadir dalam 18 bahasa untuk membantu wisatawan memperoleh informasi destinasi, menyusun perjalanan, serta mengakses berbagai layanan kepariwisataan secara lebih mudah.
“Data yang diperoleh dari interaksi wisatawan melalui platform ini dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Pemanfaatan teknologi tersebut sejalan dengan pendekatan Pariwisata 5.0, yang mengintegrasikan teknologi digital, AI, dan pemanfaatan data untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal, berkualitas, dan berkelanjutan dengan tetap berpusat pada kebutuhan wisatawan.
Widiyanti mengapresiasi PATA Indonesia Chapter dan IP Trisakti yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, industri, investor, serta komunitas dalam satu forum internasional untuk membahas masa depan pariwisata berbasis inovasi.
Hal senada dikemukakan CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo. Dalam pidato kuncinya, Poernomo mengatakan, perkembangan teknologi digital dan AI telah mengubah cara destinasi pariwisata dipromosikan.
“Pariwisata bukan hanya tentang perjalanan dan turisme. Saat ini, teknologi dan data menjadi bagian penting dalam membentuk bagaimana kita mengalami, mengelola, dan mengembangkan industri pariwisata,” ujar Poernomo.
Menurut dia, perkembangan AI dan pemanfaatan data telah mendorong perubahan dalam pengelolaan destinasi maupun pola keterlibatan pelaku usaha dengan wisatawan.
Inovasi tersebut, lanjut Poernomo, semakin relevan seiring agenda digital global yang menempatkan AI sebagai salah satu teknologi penting dalam membentuk masa depan pariwisata.
“AI secara aktif membentuk bagaimana destinasi dipromosikan, bagaimana wisatawan menjelajahi dunia, dan bagaimana bisnis pariwisata menciptakan nilai yang berarti,” katanya.
Karena itu, Poernomo menilai transformasi digital perlu diarahkan bukan semata-mata pada penggunaan teknologi, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan pelaku usaha pariwisata.
Melalui ICCS 2026, PATA Indonesia Chapter bersama Institut Pariwisata Trisakti mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, industri pariwisata, pemimpin teknologi hingga praktisi dari berbagai negara.
Poernomo berharap, dialog global yang digelar secara daring itu dapat memperkuat pemahaman bersama mengenai pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam membangun masa depan pariwisata di Indonesia.
“Tujuan kami adalah memastikan transformasi digital memperkuat komunitas lokal, memperkuat bisnis, dan membentuk pariwisata yang lebih inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan,” katanya.
Selain membahas transformasi digital dan AI, penyelenggaraan ICCS 2026 juga menunjukkan pentingnya kolaborasi pendidikan, penelitian, dan komunitas dalam mendukung perkembangan pariwisata global.
“Kerja sama PATA Indonesia Chapter dan IP Trisakti menjadi salah satu contoh bagaimana institusi pendidikan dapat berkontribusi dalam membangun jejaring pariwisata internasional,” tuturnya.
Ia juga menyinggung kontribusi IP Trisakti dalam berbagai inisiatif pengembangan pariwisata, termasuk keterlibatan dalam penguatan komunitas internasional dan kegiatan di Timor-Leste.
“Ini menjadi bukti bagaimana pendidikan, penelitian, dan komunitas dapat bergandengan tangan dengan perkembangan pariwisata global,” katanya.
Poernomo juga menyampaikan apresiasi kepada para mitra yang mendukung pelaksanaan ICCS 2026, antara lain Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mias Hospitality, serta mitra media yang ikut mendukung kegiatan tersebut.
Ia berharap forum internasional tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi pemangku kepentingan pariwisata dalam menghadapi perubahan teknologi.
“Kolaborasi dapat membimbing kita menuju masa depan pariwisata yang lebih cerdas,” kata Poernomo menandaskan. (Tri Wahyuni)

