JAKARTA (Suara Karya): Kepala Badan Pengurus Pusat Perusahaan Periklanan Indonesia (BPP P3I), Susilo Dwihatmanto, menyatakan pihaknya sudah menyiapkan rambu-rambu periklanan yang jelas. Hal ini sebagai upaya mencegah terbitnya iklan-iklan yang bertujuan untuk menjatuhkan competitor baik di media massa konvensional maupun di media sosial itu tidak etis.
Menurut Susilo, berbagai rambu terkait etika periklanan sudah dituangkan dalam panduan Etika Pariwara Indonesia Amandemen 2020.
“Meski demikian kita juga harus memahami bahwa etika lebih ke pedoman. Spiritnya adalah self regulations. Bagaimana membuat iklan secara lebih beretika,” kata Susilo melalui sambungan telpnya, dalam diskusi media Klub Jurnalis Ekonomi Jakarta (KJEJ) bertema ‘Menyikapi Hoax dan Negative Campaign Dalam Persaingan Bisnis AMDK’ di Jakarta, Kamis (15/6/2023),
Lebih lanjut Susilo mengimbau kepada seluruh produsen untuk menghentikan berbagai bentuk kampanye negatif yang bertujuan untuk menjatuhkan merek tertentu.
Sekadar informasi, baru-baru ini kabarnya kemasan galon Le Minerale menjadi bulan-bulanan kampanye negatif di berbagai media massa dan media sosial setelah produk dalam negeri tersebut sukses menggondol pasar market leader yang telah merajai pasar selama beberapa dekade.
Dalam narasi kampanye itu digambarkan jika galon Le Minerale ‘tidak peduli lingkungan’ hanya karena dipasarkan dengan model penjualan beli putus.
Menyikapi kabar ini, Redaktur pelaksana media online Validnews.id Faisal Rachman, mengakui banyak kasus persaingan usaha yang tak sehat yang menggunakan media massa sebagai arena tempur. Salah satu kasus yang cukup mencuat ke publik adalah persaingan antara produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) antara Aqua versus Le Minerale.
“Persaingan usaha yang tak sehat yang menggunakan media massa sebagai arena berperang tentunya lebih ‘panas’ lagi karena adanya media massa yang kurang jelas identitasnya,” katanya.
Faisal mengingatkan media untuk cermat mendeteksi upaya kampanye hitam serupa, termasuk dalam isu lingkungan. “Praktik ‘greenwashing’ perlu diwaspadai sehingga media tak terjebak mengkampanyekan hal yang justru keliru,” kata Faisal. (Bob)
