Suara Karya

Kemenkes Gandeng Swasta Gaungkan Penerapan Label Nutri Level pada Minuman Kekinian

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng sektor swasta, dunia pendidikan, pusat perbelanjaan, hingga pelaku industri makanan dan minuman untuk menggaungkan penerapan label Nutri Level di berbagai ruang publik yang dekat dengan masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor itu dilakukan untuk mendorong pola hidup sehat, sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam produk konsumsi sehari-hari.

Kolaborasi itu melibatkan Lippo Malls Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Rumah Sakit (RS) Siloam, serta sejumlah pelaku industri pada makanan siap saji dan minuman kekinian yang mengandung gula.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya, di Jakarta, Selasa (12/5/26) menyatakan, program kesehatan tidak akan berhasil jika hanya dijalankan pemerintah semata. Perubahan perilaku hidup sehat harus dibangun menjadi sebuah gerakan bersama.

“Program kesehatan yang bagus itu tidak dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sendiri, tetapi harus menjadi ‘movement’ atau gerakan. Gerakan yang menjangkau 280 juta masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Ia menilai keterlibatan swasta menjadi kunci penting, karena edukasi kesehatan harus hadir di tempat-tempat yang dekat dengan aktivitas masyarakat, mulai dari kampus, pusat perbelanjaan, restoran, hingga tempat nongkrong anak muda.

“Hidup sehat harus menjadi lifestyle baru. Harus dibuat keren, dekat dengan masyarakat, dan mudah dipahami,” ujarnya.

Kemenkes sendiri resmi mewajibkan pencantuman label Nutri Level melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026. Sistem label itu menggunakan kode warna dan huruf A hingga D, untuk menunjukkan kadar gula, garam, dan lemak (GGL) pada makanan serta minuman siap saji.

Level A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan GGL paling sehat, sedangkan Level D berwarna merah menandakan kandungan GGL tinggi yang perlu dibatasi konsumsinya.

Menurut Menkes, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menekan penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, dan penyakit jantung yang kini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia.

“Kalau konsumsi GGL bisa ditekan ke level normal, insya Allah usia masyarakat Indonesia bisa lebih panjang dan lebih sehat,” katanya.

Pemerintah menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun. Sementara ‘Healthy Adjusted Life Expectancy’ atau usia harapan hidup sehat ditargetkan naik dari 60 menjadi 65 tahun.

Menkes juga menyoroti lonjakan kasus diabetes yang kini mencapai sekitar 11,3 persen populasi Indonesia atau hampir 30 juta orang. Dampak terlihat dari membengkaknya biaya pengobatan penyakit kronis seperti layanan cuci darah yang mencapai Rp12,9 triliun dalam klaim BPJS Kesehatan.

“Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group Stephanie Riady menyambut baik pelabelan Nutri Level dalam setiap makanan dan minuman siap saji yang mengandung GGL.

“Karena kesehatan masa depan bukan hanya soal rumah sakit yang canggih, tetapi ditentukan dari seberapa mudah masyarakat memahami pilihan yang mereka konsumsi setiap hari,” ujar Stephanie.

Menurutnya, Nutri Level hadir bukan untuk menakut-nakuti masyarakat atau membatasi pilihan konsumsi, melainkan membantu masyarakat untuk membuat keputusan yang lebih sadar terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.

“Dengan melihat label A sampai D, masyarakat bisa langsung paham berapa kandungan gula, garam, dan lemak dalam makanannya. Perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil sebelum membeli makanan atau minuman,” katanya.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pemerintah berharap label Nutri Level tidak hanya menjadi kewajiban administratif di kemasan pangan, tetapi juga mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola konsumsi yang lebih sehat dan bijak.

Dukungan serupa disampaikan industri minuman berpemanis. Direktur Xing Fu Tang, Vancelia Wiradjaja siap mengaplikasikan kebijakan label Nutri Level ke produk yang dijualnya.

“Sehingga konsumen paham mana produk minuman yang rendah kandungan gulanya. Dan minuman dengan kandungan gula tinggi, yang diminum sesekali,” ujarnya. (Tri Wahyuni)

Related posts