KEBUMEN (Suara Karya): Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantoro mendorong revitalisasi Benteng Van Der Wijck di Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, agar berkembang menjadi magnet wisata sekaligus pusat kegiatan budaya, pendidikan, dan penggerak ekonomi masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Ferry saat membuka Kebumen Travel Mart (KTM) 2026 dan Gombong Culture Festival di kawasan Benteng Van Der Wijck, Gombong, Kebumen, Kamis (27/8/26).
Menurut Ferry, benteng bersejarah tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena kondisi bangunannya masih sangat kokoh dan menyimpan nilai sejarah yang tinggi.
“Saya baru tahu betapa luar biasanya Benteng Van Der Wijck ini. Dari sisi struktur bangunan, benteng ini masih kokoh sekali. Tinggal kita revitalisasi sedikit sudah menarik lagi,” katanya.
Ferry mengatakan, revitalisasi tak sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali berbagai nilai dan fungsi sejarah yang melekat pada benteng tersebut.
Karena itu, ia berencana mengajak Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk melihat langsung Benteng Van Der Wijck, lalu mengembangkannya menjadi pusat kegiatan budaya, pariwisata, dan pendidikan.
Pengembangan tersebut dinilai akan memperluas daya tarik Kebumen bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Menurut Ferry, meningkatnya kunjungan wisatawan akan memberi efek berantai terhadap perekonomian masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kalau semua berjalan dengan baik, multipengaruhnya akan berdampak pada kemajuan ekonomi. Sebab UMKM bergerak dengan datangnya wisatawan dari nusantara dan mancanegara,” katanya.
Ferry bahkan membandingkan kondisi Benteng Van Der Wijck dengan gedung di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang menjadi lokasi Kongres Koperasi Pertama Indonesia pada 11-14 Juli 1947.
Ia bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon, sebelumnya mendatangi gedung tersebut memperingati Kongres Koperasi Pertama, sekaligus menetapkannya sebagai warisan budaya yang dilindungi.
Menurut Ferry, kondisi Benteng Van Der Wijck dinilai lebih baik dari sisi bangunan sipil, sehingga layak mendapat perhatian untuk dikembangkan.
Benteng Van Der Wijck selama dikenal memiliki bentuk segi 8 dan menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menonjol di Gombong. Kawasan benteng saat ini dikelola TNI.
Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Achiruddin Darojat ikut membuka ruang kolaborasi untuk pengembangan dan revitalisasi benteng tersebut. Namun, revitalisasi tetap harus memperhatikan kaidah serta prinsip kesejarahan.
“Ini kebanggaan warga Kebumen, memiliki benteng segi delapan yang masih kokoh. Karena itu kami buka ruang untuk kolaborasi yang lebih luas agar benteng Van Der Wijck memberi kesejahteraan bagi rakyat, terutama generasi muda,” ujar Akhiruddin.
Dalam kesempatan itu, Ferry juga menyinggung posisi penting Kebumen dalam sejarah perkembangan koperasi di Indonesia. Karena koperasi pertama lahir di Kebumen pada 16 Desember 1886.
Koperasi tersebut didirikan Raden Aria Wiraatmadja dalam bentuk bank simpan pinjam untuk membantu pegawai negeri dan kaum priyayi pribumi, agar terbebas dari jeratan bunga tinggi rentenir.
Berangkat dari sejarah itu, Ferry mendorong organisasi Induk Warga Asal Kabupaten Kebumen (IWAKK) Walet Emas membentuk koperasi yang dapat menjadi wadah pengembangan UMKM, termasuk mendorong produk usaha masyarakat menembus pasar ekspor.
Guna mempercepat pembentukan koperasi, Menkop memberi bantuan pribadi sebesar Rp100 juta.
“Demi mempercepat pembentukan Koperasi IWAKK Walet Emas, secara pribadi saya bantu Rp100 juta. Ini juga salah satu upaya menyenangkan istri, yang asli Kebumen,” kata Ferry yang disambut tawa.
Ia menilai penyelenggaraan KTM 2026 dan Gombong Culture Festival sejalan dengan Program Kementerian Koperasi dalam mendorong perkembangan koperasi, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, dan ekonomi kerakyatan.
Ketua Panitia KTM dan Gombong Culture Festival 2026, Wahid Supriyadi mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari keinginan untuk mengembangkan potensi daerah, sekaligus memperkenalkan Kebumen kepada masyarakat Indonesia dan dunia.
Wahid, yang merupakan warga asli Kebumen dan diplomat senior itu menjelaskan, pengalaman menggelar berbagai festival Indonesia di luar negeri menjadi inspirasi untuk mengembangkan kegiatan serupa di daerah asalnya.
“Setelah bertahun-tahun menggelar festival di luar negeri, saatnya saya ingin membangun daerah saya, Kebumen berkembang dan dikenal baik oleh kalangan nusantara maupun mancanegara lewat KTM dan Gombong Culture Festival,” katanya.
Gagasan awal festival tersebut berasal dari Rike Sumangkut, pegiat event organizer bidang pariwisata. Gagasan itu kemudian berkembanh melalui diskusi dan riset terhadap berbagai potensi Kebumen, hingga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk BUMN dan swasta.
KTM 2026 sendiri mempertemukan pelaku usaha pariwisata melalui agenda bisnis, termasuk buyers dan sellers. Sebelum pelaksanaan, panitia menyebut sekitar 145 travel agents sebagai buyers dan 65 sellers dijadwalkan berpartisipasi, termasuk buyers dari Malaysia serta sejumlah negara lain.
Wahid juga mengusulkan konsep ‘Pulang Kampung’ sebagai agenda tahunan bagi warga Kebumen di perantauan. Kegiatan itu diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan mengenai budaya, pariwisata, UMKM, hingga peluang ekspor.
“Pulang Kampung nantinya menjadi ajang pertukaran ide, budaya, pariwisata, dan ekonomi, baik UMKM maupun ekspor. Tujuannya membangun Kebumen,” ujarnya.
Bupati Kebumen Lilis Suryani mengapresiasi penyelenggaraan KTM dan Gombong Culture Festival 2026 yang membawa nama Gombong dan Kebumen.
“Jejaring warga Kebumen di perantauan yang tergabung dalam IWAKK memiliki peran penting dalam menghubungkan potensi daerah dengan sumber daya yang berada di luar daerah,” tuturnya.
Lilis berharap kegiatan tersebut mampu membuka akses lebih luas bagi pengembangan sektor pariwisata, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan di Kebumen.
KTM 2026 dan Gombong Culture Festival juga menampilkan beragam seni dan budaya lokal, antara lain Ebeg, Tari Walet, serta kirab budaya.
Agenda tersebut diharapkan, memperkuat posisi Gombong dan Kebumen sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya. (Tri Wahyuni)

