JAKARTA (Suara Karya) : Berbagai terobosan yang dilakukan Tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam memberikan penerangan pada masyarakat. Diantaranya, menerapkan tiga sistem Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis tenaga surya di kawasan urban farming KTH Rumah Kaum Jayakarta, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.
Penerapan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyediakan penerangan pada malam hari, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan literasi energi terbarukan bagi petani yang mengelola kawasan tersebut.
KTH Rumah Kaum Jayakarta merupakan kelompok masyarakat yang memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif untuk dikembangkan menjadi kawasan urban farming. Area yang dikelola mencakup lahan pertanian sekitar 350 meter persegi dan area perikanan sekitar 200 meter persegi. Beberapa titik di kawasan tersebut sebelumnya belum memiliki fasilitas penerangan yang memadai dari jaringan listrik PLN sehingga aktivitas pemantauan tanaman, perawatan sarana budidaya, serta pemeliharaan kolam pada malam hari menjadi terbatas.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan oleh tim UNJ yang diketuai Dr. Wisnu Djatmiko, M.T., dengan anggota Prof. Dr. Iwan Sugihartono, M.Si.; Dr. Aris Sunawar, S.Pd., M.T.; Dr. phil. Zarina Akbar, M.Psi.; Ade Ayu Rahmawati, S.T., M.T.; dan Agam Nizar Dwi Nur Fahmi, S.Pd., M.T. Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa, yaitu Fardan Nur Pahla dan Asyam Shafy Alhuda. Susunan tim tersebut merupakan bagian dari pelaksana program Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan UNJ tahun 2026.
Melalui kegiatan tersebut, tiga unit PJU tenaga surya dipasang pada kawasan urban farming. Satu unit ditempatkan di KTH-05 untuk mendukung kegiatan pertanian, sedangkan dua unit lainnya dipasang di KTH-07 untuk mendukung aktivitas perikanan dan pemantauan kolam.
Sistem PJU yang diterapkan memanfaatkan panel surya monokristalin 6 V/35 W, baterai LiFePO₄ berkapasitas 40 Ah, sumber cahaya 200 LED SMD tipe 5730, serta sistem kendali otomatis. Energi matahari yang diterima panel pada siang hari disimpan pada baterai dan kemudian digunakan untuk menyalakan lampu ketika kondisi lingkungan mulai gelap. Tiang PJU menggunakan konstruksi oktagonal berbahan galvanis dengan tinggi sekitar lima meter dan dipasang pada pondasi beton untuk menjaga kestabilannya.
Sebelum instalasi, setiap perangkat diuji untuk memastikan panel surya, baterai, proses pengisian, lampu LED, dan sistem penyalaan otomatis bekerja sesuai fungsi. Setelah ketiga sistem terpasang, pengukuran pencahayaan dilakukan pada malam hari menggunakan lux meter digital.
Pengukuran dilakukan pada 30 titik yang tersebar pada area pencahayaan sekitar 30 meter persegi untuk setiap PJU. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa iluminansi rata-rata PJU-1 sebesar 37,3 lux, PJU-2 sebesar 39,1 lux, dan PJU-3 sebesar 39,4 lux. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketiga sistem memberikan tingkat pencahayaan rata-rata yang relatif konsisten pada area pengukuran.
Selain penerapan teknologi, kegiatan PkM juga diarahkan pada pemberdayaan petani KTH melalui pendampingan partisipatif berbasis praktik lapangan. Pendampingan dilakukan melalui dialog, penjelasan langsung, demonstrasi fungsi perangkat, dan praktik terbimbing mengenai pengoperasian serta perawatan dasar PJU tenaga surya. Materi yang diberikan antara lain mencakup fungsi panel fotovoltaik dan baterai, penyalaan otomatis lampu LED, pemeriksaan visual, pembersihan panel, perawatan dasar, serta tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi gangguan.
Untuk mengetahui perubahan pemahaman masyarakat, evaluasi dilakukan terhadap 17 petani KTH menggunakan pre-test dan post-test. Instrumen evaluasi dikembangkan berdasarkan lima indikator, yaitu pemahaman sumber energi dan konversi fotovoltaik, fungsi komponen utama PJU, alur operasi sistem, pengoperasian dan keselamatan dasar, serta perawatan dan tindakan bertanggung jawab.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata skor literasi energi terbarukan terkait PJU meningkat secara deskriptif dari 43,5 persen pada pre-test menjadi 92,4 persen pada post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan teknologi melalui dialog, demonstrasi, dan praktik lapangan dapat membantu memperkuat pemahaman petani mengenai cara kerja, penggunaan, dan perawatan dasar sistem PJU tenaga surya.
Penerapan PJU tenaga surya di KTH Rumah Kaum Jayakarta memperlihatkan bahwa teknologi energi terbarukan dapat digunakan secara langsung untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat perkotaan. Selain menyediakan penerangan secara mandiri pada malam hari, perangkat yang terpasang juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal pemanfaatan energi matahari dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong petani tidak hanya menjadi pengguna fasilitas, tetapi juga memiliki kemampuan dasar dalam mengoperasikan, memeriksa, dan merawat teknologi yang digunakan. Keberlanjutan sistem dapat didukung melalui pemeriksaan panel surya, baterai, lampu LED, tiang, dan pondasi secara berkala serta keterlibatan petani dalam pencatatan apabila terjadi gangguan.
Kegiatan ini dibiayai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan Universitas Negeri Jakarta Nomor 94/PPM-WBU/LPPM/III/2026, tanggal 5 Maret 2026. (Warso)

