JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng kalangan akademisi dan sektor swasta untuk memperkuat layanan skrining retina sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini guna mencegah kebutaan akibat diabetes atau retinopati diabetik.
Hal itu mengemuka dalam acara ‘Forum Jurnalis Kesehatan: Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik’ yang diselenggarakan bersama Kemenkes dan Roche Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/26).
Hadir sebagai narasumber, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid; Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM Prof dr Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, PhD, SpM; serta Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Dr dr Em Yunir, SpPD-KEMD.
Narasumber lainnya yakni Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia Lucia Erniawati; serta penyintas retinopati diabetik, Anita Sabidi.
Siti Nadia menjelaskan, edukasi mengenai retinopati diabetik perlu terus diperkuat karena komplikasi akibat diabetes melitus tersebut masih belum banyak diketahui masyarakat.
“Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting, karena retinopati diabetik kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari kerusakan pada mata setelah kondisinya memasuki stadium lanjut,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Siti Nadia, pemerintah tidak hanya fokus pada pengendalian diabetes, tetapi juga mencegah berbagai komplikasi yang ditimbulkannya, termasuk gangguan penglihatan.
Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), lanjut Siti Nadia, masyarakat dapat memeriksakan kadar gula darah secara berkala. Kemenkes juga sedang mengintegrasikan layanan skrining retina ke puskesmas untuk memperluas akses deteksi dini bagi pasien diabetes.
Upaya tersebut diperkuat melalui pembentukan Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang melibatkan pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi.
Lewat konsorsium tersebut, tambah Siti Nadia, sejumlah Puskesmas akan dilengkapi kamera retina (fundus camera) dan tenaga kesehatan primer yang dilatih untuk melakukan skrining awal.
“Program tele-oftalmologi itu diharapkan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama di daerah yang masih kekurangan dokter spesialis mata. Saat ini, Indonesia rata-rata hanya memiliki satu dokter spesialis mata untuk setiap 116.961 penduduk,” ungkap Siti Nadia.
Hal senada dikemukakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof Muhammad Bayu Sasongko. Ia mengutip data Departemen Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM yang menunjukkan prevalensi retinopati diabetik di Indonesia mencapai 43,1 persen pada pasien diabetes tipe 2.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 35,4 persen. Tanpa intervensi yang memadai, kerugian ekonomi akibat menurunnya kualitas hidup masyarakat diperkirakan mencapai Rp84,7 triliun.
Menurut Prof Bayu, retinopati diabetik masih menjadi persoalan kesehatan yang kurang mendapat perhatian, meski merupakan komplikasi diabetes yang paling sering ditemukan.
“Banyak masyarakat menganggap gangguan penglihatan pada usia lanjut sebagai hal yang wajar, padahal kebutaan akibat diabetes sebenarnya dapat dicegah. Kerusakan pembuluh darah di retina terjadi secara bertahap dan sebagian besar pasien tidak menyadari dalam lima tahun pertama setelah didiagnosis diabetes,” katanya.
Prof Bayu menambahkan, kemampuan melihat memegang peran penting dalam kehidupan sehari-hari karena sekitar 85 persen informasi diterima manusia melalui indera penglihatan. Karena itu, skrining retina secara berkala menjadi kunci untuk mempertahankan kualitas hidup penderita diabetes.
Ketua Umum PERKENI, Prof Em Yunir mengingatkan, diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai komplikasi serius.
“Diabetes tidak datang sendiri. Penyakit itu sering disertai hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas yang memperparah kerusakan pembuluh darah, mulai dari memicu retinopati diabetik hingga menyebabkan gagal ginjal,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati menegaskan, komitmen perusahaan untuk mendukung pemerintah dalam memperkuat sistem skrining dan rujukan.
“Kami ingin memastikan inovasi kesehatan dapat diakses masyarakat. Melalui proyek percontohan tele-oftalmologi ini, diharapkan pasien mendapat pengobatan tepat waktu sehingga kebutaan akibat diabetes dapat dicegah,” katanya.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, Siti Nadia menambahkan, Kemenkes menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25 persen pada 2030.
Pemerintah juga menargetkan sedikitnya 80 persen penyandang diabetes menjalani skrining retina secara berkala dan 60 persen pasien dengan retinopati diabetik berat memperoleh pengobatan yang tepat. (Tri Wahyuni)

