Suara Karya

Dari Pulau Arar, Mendikdasmen: Pendidikan Papua Barat Daya Tak Boleh Tertinggal

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan, langkah pemerintah untuk memastikan seluruh anak Indonesia tetap mendapat akses pendidikan yang layak, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil seperti Pulau Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

“Tdak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan mendapat pendidikan karena kendala ekonomi, kemampuan intelektual, keterbatasan fisik, atau tinggal di daerah yang terpencil seperti di Pulau Arar ini,” kata Mendikdasmen dalam kunjungan kerja di Pulau Arar, Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (26/5/26).

Untuk itu, Kemendikdasmen pun menjadikan sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), serta sekolah dengan kerusakan fisik berat sebagai prioritas utama program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026.

Selain pembangunan fisik sekolah, pemerintah juga menjalankan sejumlah kebijakan untuk memperluas akses pendidikan di daerah terpencil tersebut.

Disebutkan, lima model layanan pendidikan yang terus diperkuat, yaitu pendidikan jarak jauh (PJJ); sekolah satu atap; sekolah terbuka berbasis komunitas belajar; pendidikan kesetaraan; serta kursus dan pelatihan.

Menurutnya, berbagai model layanan pendidikan tersebut dirancang dengan menyesuaikan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat di daerah.

“Kita merasakan semangat yang sama untuk memajukan pendidikan di Tanah Air. Mari bersama kita bangkitkan semangat agar anak Indonesia tumbuh menjadi generasi emas pada 2045,” ucap Abdul Mu’ti.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya menyampaikan, kunjungan Mendikdasmen ke Pulau Arar menjadi momen penting bagi masyarakat sekitar. “Ini pertama kali menteri bisa sampai di Pulau Arar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Papua Barat Daya memiliki sekitar 160 ribu peserta didik, lebih dari 1.200 sekolah, dan sekitar 10 ribu guru yang tersebar di lebih dari 900 kampung.

Karena itu, tantangan pemerataan layanan pendidikan di wilayah tersebut membutuhkan dukungan dan komitmen bersama dari pemerintah pusat maupun daerah.

Dampak program pendidikan pemerintah dirasakan langsung oleh murid di Pulau Arar. Murid SMA Unimuda Pulau Arar, Meske Salomina Sosir mengaku selama bertahun-tahun belajar di bangunan sekolah yang rusak dan kurang layak.

Namun, berkat program revitalisasi, kondisi sekolah kini berubah total dengan ruang belajar yang telah direnovasi dan dibangun kembali.

Meske mengatakan, sebelumnya banyak murid yang enggan datang ke sekolah karena kondisi bangunan yang tidak nyaman. Kini, setelah ruang kelas diperbaiki, murid mulai kembali aktif ikut pembelajaran.

“Pembangunan sudah selesai satu bulan lalu. Kelasnya sudah dimanfaatkan, sudah bisa belajar. Perasaannya sangat gembira. Setiap hari kalau pagi belum ada guru, pasti kita murid pertama datang,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap pendidikan di Pulau Arar. “Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto beserta Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Berkat perhatiannya, sekolah SMA Unimuda Pulau Arar membuat siswa untuk belajar dan bersenang-senang,” tutur Meske.

Penerima manfaat revitalisasi lainnya adalah SD Inpres 27 Kabupaten Sorong yang menerima bantuan pembangunan toilet, ruang UKS, dan rumah dinas guru.

Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen disambut antusias oleh guru dan murid sekolah sebelum meninjau langsung fasilitas yang telah dibangun dan siap dimanfaatkan.

Mendikdasmen kemudian meresmikan hasil revitalisasi tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak dan mendukung proses belajar mengajar di wilayah terpencil Papua. (Tri Wahyuni)

Related posts