Suara Karya

Udara Makin Panas, UT Ingatkan Pentingnya Gaya Hidup Berkelanjutan

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) ingatkan masyarakat tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan (sustainable living), sebagai antisipatif menghadapi perubahan iklim (climate change).

“Hidup berkelanjutan menjadi penting, karena bumi yang kita pijak ini akan rusak jika tidak dijaga. Dan manusia ikut binasa,” kata Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Terbuka, Subekti Nurmawati di kampus UT Pondok Cabe Jakarta, Kamis (19/10/23).

Pernyataan Subekti disampaikan dalam seminar internasional bertajuk ‘The 3rd International Seminar of Science and Technology (ISST)’, dengan bertema ‘Trends in Science and Technology for Sustainable Living’.

Dijelaskan, krisis iklim terjadi akibat efek rumah kaca. Singkatnya, proses ekstraksi dan produksi sumber daya alam dari planet ini akan mengeluarkan gas rumah kaca , seperti karbon dioksida (CO2), yang bisa menumpuk di atmosfer dan menyerap panas matahari.

Proses itu mengakibatkan peningkatan suhu global yang kemudian menyebabkan konsekuensi lingkungan. Suhu yang dirasakan makin panas di Indonesia, juga terjadi di banyak negara.

“Dengan kondisi ini, kita sebagai manusia tidak boleh tinggal diam. Masih belum terlambat jika kita mulai peduli terhadap bumi,” ucap Subekti.

Disebutkan tiga hal yang dilakukan UT terkait pentingnya gaya hidup berkelanjutan, yaitu selain menggelar seminar internasional, melakukan joint research dengan kampus asing dan membuat buku yang bertema hidup berkelanjutan.

Acara digelar secara hibrida (luring dan daring) dan diikuti lebih dari 300 peserta dari kalangan akademisi, baik dalam maupun luar negeri.

Seminar yang dibuka Rektor UT Ojat Darojat itu juga dihadiri secara daring Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno; dan Rektor IPB University, Arif Satria.

Pada kesempatan yang sama juga diluncurkan buku dengan judul ‘Trends in Science and Technology for Sustainable Living’ karya sejumlah dosen FST UT. Buku tersebut memuat 20 judul artikel dengan berbagai topik sesuai bidang ilmu di FST UT.

Seminar menampilkan pembicara dari berbagai institusi pendidikan kelas dunia yang hadir langsung di kampus UT, seperti Panuwat Suppakul dari Kasetsart University, Thailand. Ia membahas tren kemasan makanan cerdas untuk kehidupan berkelanjutan.

“Tren kemasan yang dibahas peneliti asal Thailand itu kembali ke alam. Di Thailand, penggunaan plastik pembungkus dikurangi. Penggantinya berupa daun pisang. Bahan alam yang juga melimpah di Indonesia,” tutur Subekti.

Pembicara lain yang hadir secara daring adalah Erika Hausenblas dari Montan Universitat Leoben, Austria; Robert Smith, Director of Higher Education and eResearch Microsoft APAC, dan Deden Rukmana dari Alabama University.

Dari Indonesia sendiri, ada akademisi seperti Vita Elysia dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, FST UT.

Subekti Nurmawati kepada wartawan menjelaskan, hasil seminar akan ditindaklanjuti dalam bentuk joint research dengan kampus asing mitra UT. Hal itu akan memberi nilai lebih kepada dosen UT.

“Kami juga mengajak para dosen untuk membangun kesadaran baru di masyarakat, termasuk mahasiswa UT tentang pentingnya hidup berkelanjutan lewat tulisan,” katanya.

Subekti saat itu didampingi Wakil Rektor UT Bidang Akademik, Mohamad Yunus; Wakil Rektor UT Bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan, Paken Pandiangan; dan Wakil Dekan Bidang Akademik pada Fakultas Sains dan Teknologi, Ernik Yuliana. (Tri Wahyuni)

Related posts